Wajah Bima Dalam Prahara

Editorial, Kahaba.- Kondisi cuaca di Bima akhir-akhir tidak menentu. Walau di musim kemarau namun suasana udara malam begitu dingin hingga menusuki tulang. Dalam kondisi kebekuan seperti itu, ternyata berbeda dengan suasana politik dan sosiologis di Bima.

Lokasi Kota dab Kabupaten Bima dalam Peta Propinsi NTB

Lokasi Kota dan Kabupaten Bima dalam Peta Propinsi NTB

Di Kota Bima yang baru beberapa minggu lalu melantik Kepala Daerah terpilih yakni pasangan Qurais-Man (Qurma), kembali dihebohkan dengan lahirnya Putusan Pengadilan Negeri Tata Usaha (PTUN) Mataram yang membatalkan Keputusan KPU Kota Bima tentang penetapan pasangan calon dan pemenang Pilkada Mei 2013 lalu.

Hasil PTUN menjadi komoditas baru berbagai kalangan di Kota Bima. Isu pun beredar bahwa pasangan Qurma akan berakhir sebelum waktunya tiba. Potensi gejolak demonstrasi nampaknya akan kembali mewarnai Kota ini.

Di Kabupaten Bima, prahara fisik yang menjurus perang kampung pun menggelegar. Baru saja beberapa hari Ramadhan dan lebaran meninggalkan kita, namun panasnya psikologi masyarakat Kabupaten terutama di Desa Cenggu dan Desa Nisa seolah hikmah Ramadhan menjadi kenangan semata.

Perang pun berlangsung, korban pun terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit Mataram untuk penindakan medis lebih lanjut.

Delian Lubis (28) dialah korban perang kedua kampung di Kecamatan Woha itu. Nyawa Aktivis pro demokrasi itu hampir saja melayang, akibat penganiayaan sekelompok massa di Desa Nisa. Minggu siang (11/8) perang pun meletus antar dua desa itu. Areal persawan yang membatasi kedua desa tersebut dijadikan medan laga. Suara letusan senjata rakitan bagai genderang perang melawan penjajah. Mereka lupa bahwasanya mereka bersaudara di bawah naungan Dana Ma Maja Labo Dahu.

Itulah potret praha Dana Mbojo menjelang hari kemerdekaan yang jatuh tiap tanggal 17 Agustus di setiap tahunnya itu. Kado kemerdekaan seakan menyayat luka bangsa ini yang selalu jatuh bangun–mengisi kemerdekaan dengan konflik saudara yang seakan tiada akhir dan juntrungannya.

Kemana harus mengadu! Ketika linangan air mata Bunda pertiwi terus meratapi tingkah pongah masyarakat Indonesia khusus di Bima bagi masyarakat yang belum tercerdaskan ini. Kemanakah Pemerintah, tokoh agama, tokoh pemuda, akademisi, dan mahasiswa atas tanggung jawabnya memelihara ketertiban dan kenyamanan hidup berbangsa dan bernegara?

Kita seakan lupa, bahwasanya hidup adalah ladang untuk mengumpulkan bekal amal di hari kemudian. Dan sadarkah kita, ketika tiap nyawa akan menanggung beban dan masing-masing bertanggung jawab di hadapan Illahi Robbi di hari penghisapan kelak? Semoga kita menjadi golongan yang beruntung dan dinginnya cuaca di Bima dapat dijadikan sinyal pembelajaran bahwa damai itu indah, dan ‘berpanas-panasan’ dengan nafsu membara hanyalah melahirkan prahara yang terus merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Semoga kita menjadi golongan yang beruntung dan Ridho Allah SWT selalu menyertai perjalanan masyarakat, daerah dan bangsa ini. Wallahu’alam.***

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *