oleh

Angkringan Mantan Pemulung, Omset Rp 5 Juta Sebulan

Kota Bima, Kahaba.- Seperti mimpi di siang bolong, Ramadhan seketika terkejut saat diberi uang sebesar Rp 5 juta lebih oleh Pak Jaya, pria yang mengajaknya membuka usaha Angkringan di Lapangan Merdeka Kota Bima. Dengan nada keheranan, Pemuda asal Kelurahan Paruga Kota Bima itu bertanya uang sebanyak itu dari mana. Ia pun semakin bingung, setelah mengetahui jika uang itu hasil keringatnya, selama satu bulan pertama.

Ramadhan di tempat Angkringannya. Foto: Bin
Ramadhan di tempat Angkringannya. Foto: Bin

“Saya terharu, ternyata uang hasil Angkringan sebulan itu diserahkan semua ke saya. Pak Jaya minta Angkringan itu menjadi milik saya sendiri dan dikelola dengan serius,” ujarnya.

Cerita itu, Tahun 2012 lalu, disampaikan Ramadhan kepada Kahaba, di Angkringan “Mbah Joyo” miliknya, sebelah timur Lapangan Merdeka Kota Bima, beberapa pekan lalu. Pemuda yang lahir 16 Juli 1989 itu memulai mengisahkan awal pengalamannya, hingga bertahan sampai sekarang dengan omzet Rp 5 juta lebih perbulan.

Bermula diajak Pak Jaya, pria asal Jogja yang bekerja di PLTU Bonto untuk membuka angkringan. Karena masih menganggur, tawaran itu pun diterima dengan senang hati. “Pertama hanya dengan modal sekitar Rp300 ribu. Uang itu pun terus diputar dalam bulan pertama,” katanya.

Dari hasil penjualan pertama, kemudian ia dipercayakan untuk menerima amanat dari Pak Jaya. Mengurus sendiri usaha tersebut, dan meracik sendiri menu yang sudah diajarkan, dengan tetap mempertahankan cita rasa. Seiring waktu, kunjungan pembeli pun meningkat, terutama dari kalangan muda mudi.

Pria yang juga mantan pemulung itu menyediakan menu yang cukup berbeda, seperti makanan Nasi Kucing seharga Rp 1000, Tahu Tempe Bacem masing-masing Rp 1000, Ceker Rp 1000 dan Kepala Ayam Rp 2500, Sate Usus Rp 2000, Sate Telur Puyuh Rp 2500. Sementara minuman, Kopi Jahe Rp 3000, Wedang Jahe dan Teh Jahe masing-masing Rp 4000 dan Susu Jahe Rp 5000.

“Alhamdulillah kalau pulang dari jualan, jarang bawa menu banyak dan biasanya selalu habis terjual. Dalam sehari saya biasa dapat Rp 500 ribu lebih. Kalau lagi sepi, sekitar Rp 350 ribu,” tuturnya dengan senyuman.

Waktu berjualan, pemuda yang hanya tamat SMP Tahun 2004 itu mengaku, ia memulai mendorong rombong angkringannya saat matahari mulai terbenam. Dari rumah, ia tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, karena rumah terbilang dekat dengan lokasi jualan. Sekitar pukul 01.00 WITA, ia kembali pulang dan melepas lelah.

Ramadhan di lokasi jualannya. Foto: Bin
Ramadhan di lokasi jualannya. Foto: Bin

Dengan tetap menjaga semangat, Ramadhan yang sudah ditinggal wafat Bapaknya Tahun 2011 itu mengaku sangat mencintai pekerjaan tersebut. Di usia 27 Tahun, ia belum berpikir mengakhiri masa lajangnya, karena masih banyak adik – adiknya yang harus diurus dan dibiayai pendidikannya.

Hasil dagangannya selama ini, juga digunakan untuk membantu kebutuhan Ibu dan tujuh orang saudaranya di rumah. Agar dapur tetap mengepul, urusan makan minum setiap hari, dibiayai dari hasil keringat Ramadhan. Pemuda yang juga belum punya pacar itu mengaku sangat bangga menjadi orang yang bermanfaat untuk orang tua dan saudaranya.

Ramadhan menuturkan, selama berjualan, dirinya juga beberapa kali mendapat ujian. Awal – awal ia merintis, beberapa kali pernah dilarang untuk berjualan dilokasi tersebut oleh Dinas Kebersihan, Pertaman dan Pemakaman. Alasannya, karena menganggu estetika Kota. Namun dirinya memberi pengertian, jika angkringannya tersebut tidak permanen, tapi menggunakan rombong.

Cobaan lain, sambung Ramadhan yang sejak kecil hingga usinya sekitar 20 Tahun menjadi pemulung itu, beberapa kali juga orang yang tidak dikenalnya membuang bangkai kucing di sekitar lokasi Angkringannya. Langgananya pun kerap beranjak pergi setelah mencium aroma tak sedap. Tapi ujian itu tetap dilaluinya dengan sabar dan tabah.

“Mungkin karena saya jual nasi yang namanya nasi kucing. Jadi orang membuang bangkai kucing disekitar Angkringan. Tapi, Alhamdulillah usaha saya tetap berjalan dengan baik,” ucapnya.

Ramadhan terbilang sukses bertahan dengan usaha yang dilakoninya. Bahkan putra ketiga dari pasangan Siti Salmah dan Almarhum M. Saleh Ishaka itu telah membuka satu cabang usahanya disekitar Kelurahan Paruga, dan dijaga oleh saudaranya.

“Saya ingin sekali membuka usaha Angkringan ini lebih besar lagi. Mengumpulkan uang lebih banyak dan membuka cabang Angkringan “Mbah Joyo” dimana – mana. Tapi, cita – cita ini ingin saya wujudkan setelah adik – adik selesai saya sekolahkan,” katanya.

Pemuda yang berbadan kurus ini punya semangat yang sangat tinggi dan tidak malu untuk hidup mandiri. Menafkahi diri, orang tua dan saudara – suadaranya dari keringat sendiri. Kendati, kebanyakan orang seusianya memilih memuaskan hasrat diwaktu muda dengan hura – hura dan membebani orang tua, Ramadhan memilih untuk mengais pundi – pundi rupiah dimalam hari, dan menjadi pribadi yang lebih berguna. Untuknya, juga untuk orang orang yang dikasihinya.

*Bin

Komentar

Kabar Terbaru