oleh

Warga Penanae Keluhkan Limbah Kotoran Sapi H. Doris

-Kabar Bima-12 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Warga Kelurahan Penanae mengeluhkan limbah kotoran Sapi ternak milik H. Doris. Ternak milik pengusaha sapi itu berada di Kelurahan Penaraga, namun limbahnya dibuang di wilayah sungai Kelurahan Penanae. Limbah tersebut sangat menganggu aktifitas warga setempat, karena menyebabkan bau tak sedap.

Limbah kotoran sapi yang dibuang di sungai Kelurahan Penanae. Foto: Bin
Limbah kotoran sapi yang dibuang di sungai Kelurahan Penanae. Foto: Bin

Pada bagian belakang rumah mewah milik H. Doris, memang terdapat belasan ekor Sapi yang diternak. Sementara bagian belakang tembok ternak, sungai wilayah Kelurahan Penanae. Kotoran sapi setiap hari dibuang melalui saluran pipa, langsung menuju sungai.

Rafik, warga setempat yang sehari – hari menggali pasir disekitar sungai itu mengaku, warga sekitar sungai resah dengan limbah kotoran sapi tersebut. Selain baunya tak sedap, air sungai telah dicemari kotoran.

“Warga disekitar sungai kadang menggunakan air sungai ini untuk mencuci dan mandi. Tapi semenjak adanya kotoran sapi, warga tidak lagi biasa beraktifitas di sungai,” ujarnya, Jumat (13/5).

Tidak hanya warga yang memanfaatkan untuk mencuci dan mandi, kata dia, para penggali pasir di sekitar tempat itu juga merasa terganggu. Pasalnya, penggali pasir harus berhati – hati bekerja dan tidak lagi mengambil pasir di sekitar pipa pembuangan. Karena tidak tahan dengan bau kotoran sapi.

“Kami terpaksa menggali pasir sungai bagian atas. Kalau menggali dibawah, ada kotoran sapi,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Irma, warga disekitar sungai. Kotoran sapi milik H. Doris itu sudah hampir dua tahun dibuang disungai. Masalah tersebut pun sudah dilaporkan oleh warga ke RT dan RW serta Pemerintah Kelurahan.

“Dulunya Lurah Penanae pernah turun dan melihat langsung kotoran sapi yang dibuang di sungai. Tapi hingga saat ini tidak ada tindaklanjut,” tuturnya.

Mewakili warga sekitar sungai, Irma berharap Pemerintah memperhatikan kondisi sungai tersebut. Karena warga sekarang sudah tidak ada yang beraktifitas di sungai yang dulunya jernih, lantaran sudah dicemari kotoran sapi.

Di tempat berbeda, karyawan H. Doris, Kaharudin, mengatakan, dimana – mana ternak sapi itu harus membuang kotorannya di sungai.

“Ternak sapi itu harus didekat sungai, biar kotorannya dibuang di sungai. Lagi pula sungai dibelakang ini sungai hidup, bukan sungai mati yang tidak mengalir,” jelasnya didampingi H. Doris.

Menurut dia, alasan warga Penanae saja jika sungai itu dipakai untuk mencuci dan mandi. Lagi pula, tidak ada urusan warga Penanae, karena rumah H. Doris berada di Kelurahan Penaraga.

“Ini Kelurahan Penaraga, tidak boleh orang Penanae yang keberatan. Kalau ternak ini ditutup, bagaimana kami harus menafkahi anak dan istri,” katanya dan menambahkan, pemilik ternak disamping rumah H. Doris juga membuang kotoran sapinya di sungai Penanae.

Namun ketika ditanya oleh Kahaba, bukan persoalan wilayah, tapi bagaimana masalah dampak langsung yang harus diterima adalah warga Penanae?, Kaharudin sesaat terdiam, kemudian H. Doris menyela, jika usahanya tersebut juga membuka lapangan kerja untuk warga. Sekaligus usaha ternak tersebut juga menjadi contoh bagi warga untuk bisa berwirausaha.

*Bin

Komentar

Kabar Terbaru