Kabar Kota Bima

Perspektif Peneliti dan Akademisi Tentang Limbah Teluk Bima

1740
×

Perspektif Peneliti dan Akademisi Tentang Limbah Teluk Bima

Sebarkan artikel ini

Kota Bima, Kahaba.- Para Peneliti, akademisi, perwakilan dinas terkait dan LSM menggelar diskusi publik bertajuk “Ada Apa Dengan Teluk Bima?” yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Mbojo Universitas Hasanuddin Kota Makassar, Sabtu (30/4).  (Baca. Limbah Muatan Kapal Pertamina Cemari Pantai Lawata

Perspektif Peneliti dan Akademisi Tentang Limbah Teluk Bima - Kabar Harian Bima
Kondisi limbah di Teluk Bima. Foto: Ist

Kegiatan via zoom meeting itu dihadiri empat pembicara yakni, peneliti dari Badan Riset dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kelautan dan Perikanan Wakatobi, Arief Rahman, dosen Kelautan dan Perikanan Unhas Syafyudin Yusuf, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima, Fisabilil Haq dan Ketua Komunitas Hijau Jao Bima Ibrahim. (Baca. WALHI: Limbah Minyak di Teluk Bima Akibat Keteledoran Pertamina)

Pada sesi virtual, Arief menjelaskan beberapa asumsi yang menyebabkan permukaan laut di Teluk Bima berwarna coklat keemasan. Ia pula memberikan beberapa studi kasus perihal fenomena yang serupa. (Baca. Laut Tercemar Limbah, Pemandian Pantai Lawata Ditutup

Menurut dia, setidaknya ada tiga praduga yang menjadi penyebab utama mengapa permukaan laut di Teluk Bima menjadi kecoklatan seperti itu. Pertama yaitu Sea Snort atau Lendir Laut, yang kedua Algae Blooming atau Ledakan populasi alga dan yang ketiga adalah Oil Spill atau tumpahan minyak. (Baca. Warga Bima Keracunan Usai Konsumsi Ikan Sisa Limbah Laut

“Namun hingga hari ini belum ada hasil laboratorium yang dirilis otoritas berwenang untuk memastikan kandungan dan sumber pencemaran tersebut,” kata Arief.

Di tempat yang sama, Syafyudin yang juga sebagai peneliti senior di Marine Sciences memamaparkan apa yang menjadi hasil temuannya sehari sebelum diskusi tersebut berlangsung.

Setelah dilihat bendanya, persis seperti gel. Del ini akan menarik oksigen dan menangkap oksigen sehingga biota laut tidak mendapat oksigen dan akhirnya mati.

“Kami juga mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang hidup di sekitar area pencemaran. Hasilnya, koloni bakteri menempel begitu banyak pada kulit ikan yang mati tadi,” paparnya.

Lebih lanjut ia juga mengajak kepada semua pihak yang telah melakukan observasi untuk segera mengeluarkan rilis temuannya.

Adapun Fisabilil sebagai pembicara ketiga menyampaikan bahwa sumber utama pencemaran yang terjadi di Teluk Bima sekarang berasal dari tumpahan minyak.

Ia memaparkan, sangat sederhana jila pencemaran di Teluk Bima ini adalah akibat dari penggunaan Dispersant, sehingga berimplikasi adanya gelatin sebagaimana penglihatan kawan-kawan di lapangan. Kemudian diperkuat oleh adanya ikan-ikan yang mati.

“Mungkinkah ada ikan mati secara masif tanpa adanya pencemaran? Akhirnya dari fakta itu, kita bisa mengarahkannya pada tumpahan minyak, ” pungkasnya.

Tak lupa ia mengimbau agar sementara waktu tidak mandi di sekitar daerah yang sudah terkontaminasi. Saat ini Dinas Kelautan dan Perikanan tetap intens melakukan koordinasi dengan pihak provinsi.

Sementara dari pembicara terakhir, Ibrahim, yang juga sebagai pegiat lingkungan, mengatakan bahwa apa yang terjadi di Teluk Bima bukan hanya masalah hilir, akan tetapi masalah hulu, seperti terbawanya zat pestisida yang berasal dari ladang-ladang masyarakat yang ada di hulu.

Ia juga menyayangkan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sampah dan berharap agar masyarakat harus lebih peka lagi terhadap lingkungan.

*Kahaba-01