Ahmad Thib Raya: Radikalisme dan Terorisme Ancaman Negara

Kota Bima, Kahaba.- Ditengah hujan deras, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Thib Raya yang didaulat memimpin Tabliq Akbar pada upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme di Lapangan Merdeka (Serasuba), Selasa (19/7) tak beranjak dari tempatnya menyampaikan sambutan. (Baca. Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme Diguyur Hujan)

Suasana Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme. Foto: Bin

Suasana Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme. Foto: Bin

Pria yang bergelar Profesor itu terlihat bersemangat menyampaikan materi tentang bahaya laten radikalisme dan terorisme. Kata dia, dua paham dan keyakinan itu menjadi ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Radikalisme dan terorisme harus disingkirkan secara bersama sama. Masyarakat harus bersatu padu, masyarakat juga harus membantu pemerintah melawan keyakinan yang salah ini. Karena paham ini ancaman bagi Negara,” ajaknya.

Menurut dia, upacara hari anti radikalisme dan terorisme sangat penting bagi pembangunan persatuan masyarakat. Bima yang sebelumnya disebut sebagai Zona Merah, itu merupakan simbol yang memang harus diwaspadai. Tapi dirinya menggarisbawahi, Zona Merah yang disematkan di Bima, bukan berarti semua orang radikal dan teroris.

“Untuk itu, semua harus bersatu padu, agar Bima suatu saat tidak disebut lagi sebagai daerah Zona Merah radikalisme dan terorisme,” imbaunya.

Kakak kandung Mantan Ketua MK Hamdan Zoelva itu juga mengajak warga Bima untuk menjaga perdamaian. Hidup damai di dtengah – tengah masyarakat. Mewujudkan itu, menurutnya ada tiga hal yang perlu dilakukan, yang pertama yakni saling menghargai.

Sebab, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak ingin dihargai. Serendah apapun seseorang, setinggi apapun jabatannya, semua ingin dihargai dan semua manusia ingin mendapatkan penghargaan. Jika itu bisa dilakukan, maka Allah SWT akan mengangkat derajat manusia tersebut.

Kedua, sambungnya, jangan ada saling iri antara satu dengan yang lain. Karena sesungguhnya perbedaan itu nikmat yang dikarunia oleh Allah SWT. Kemudian yang ketiga yakni saling bantu dan menolong. Dengan sikap itu, maka yang lemah dan tidak berdaya akan kuat, yang tidak punya akan bisa memiliki.

“Dengan menerapkan sikap itu, maka hidup penuh dengah silahturahim, kedamaian. Insya Allah kehidupan dalam masyarakat akan aman dan sejahtera,” katanya.

Pada kesempatan itu, pria asli Bima itu menjelaskan, masyarakat dan umat diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan yang berbeda-beda. Baik itu jenis kelamin, suku bangsa, bahasa, RAS dan Agama. Perbedaan perbedaan itu fitrah yang harus dijalani setiap individu dalam kehidupan sehari – hari.

Namun, semestinya perbedaan yang ada, diarahkan untuk sama sama membangun Bangsa dan Negara. Karena dalam bingkai kebersamaan, mampu menciptakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat.

“Islam yang dibawa Nabi Muhammad adalah Agama yang Rahmatan Lil Alamin, penuh kasih sayang dan kebersamaan. Walaupun kita hidup dalam suasana berbeda, tapi kita harus tetap bisa saling menghargai dan penuh kasi sayang,” tuturnya.

Sebagai warga asli Bima, Ahmad Thib Raya mengaku bangga lahir dan dibesarkan di Bima. Dirinya pun mengaku bangga dengan apa yang sudah dimiliki sekarang. Karena yang diperolehnya sekarang tidak bisa dilepaskan dari Bima, tempatnya dibesarkan secara fisik dan ilmu.

Dari kegiatan tersebut, sambungnya, ia berharap bisa menetralisir paham paham radikalisme dan terorisme. Kemudian warga Bima kembali dalam suasana kedamaian, kenyamanan dan menuju agama Allah yang Rahmatan Lil Alamin.

*Bin

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *