oleh

Ali Fauzi: Banyak Orang Bima Masuk Kelompok Teroris

-Kabar Bima-20 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Ali Fauzi, adik kandung terpidana mati Bom Bali Ali Imron berbicara tentang keterlibatan warga Bima pada paham Radikalisme dan Terorisme, dihadapan ribuan orang warga Bima, saat Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme di Lapangan Merdeka (Serasuba), Selasa (19/7). (Baca. Ahmad Thib Raya: Radikalisme dan Terorisme Ancaman Negara)

Suasana Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme di Kota Bima. Foto: Bin
Suasana Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme di Kota Bima. Foto: Bin

Kalimat – kalimat yang dilontarkan ditengah hujan deras itu sesekali mengagetkan peserta yang hadir. Bagaimana tidak, Ali Fauzi yang memiliki banyak nama, seperti Manji, Salman, Abu Ridho itu secara gamblang menyebutkan, banyak orang Bima yang terlibat dalam kelompok radikalisme dan terorisme.

“Kenapa Bima masuk Zona Merah radikalisme dan terorisme, karena banyak warga Bima yang masuk dalam kelompok teroris. Teror dan pengeboman yang terjadi selama ini, ada keterlibatan warga Bima,” ungkapnya.

Ia mengaku, dulu, saat pertama kali mengenal kelompok tersebut di Malaysia, ia banyak mengenal warga Bima. Jaringan – jaringan yang terbangun di beberapa daerah seperti, Moro, Ambon, Poso, juga selalu bersentuhan dengan warga Bima.

Bahkan, kata dia, saat berkarir dan terlibat dalam kelompok radikal tersebut, dirinya pernah ditunjuk untuk menjadi instruktur perakitan bom. Sementara Doktor Azhari dan Nurdin M. Top yang sudah ditembak mati, merupakan yuniornya dalam jaringan tersebut.

“Tau tidak siapa yang menunjuk saya. Saya ditunjuk oleh Amir saya yang berasal di Kota Bima. Saya tidak ingin sebutkan namanya, kecuali untuk Polres dan Dandim,” katanya membuat peserta mengela nafas.

Peserta yang hadir saat Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme di Kota Bima. Foto: Bin
Peserta yang hadir saat Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme di Kota Bima. Foto: Bin

Waktu masih aktif pada kelompok tersebut, sambungnya, saat berada Camp Camp, dirinya diajarkan membuat peta dan gambaran sebuah wilayah. Belajar semua jenis senjata dan cara menembak. Dirinya juga diajarkan belajar taktik Infantri.

Tidak hanya itu, ia juga kerap ditunjuk menjadi Playmaker atau pengatur serangan. Bahkan, yang diingatnya, ada beberapa pengatur serangan yang juga berasal dari Bima.

“Jadi selama saya berada di kelompok tersebut, saya banyak mengenal orang Bima dan mengetahui peran mereka masing-masing,” ujarnya.

Dirinya juga mengungkapkan, selama ini masyarakat Indonesia selalu berprasangka, jika BIN, TNI dan Polisi yang bermain dari aksi terorisme. Tapi penilaian itu salah. Karena kelompok tersebut ingin merubah Negara Indonesia menjadi negara yang sesuai kehendak mereka. Dalam kelompok tersebut, semua diluar paham dan keyakinan mereka salah dan kafir, termasuk Pemerintah.

Untuk itu, pada kesempatan tersebut, ia berharap, melalui Upacara Hari Anti Radikalisme dan Terorisme itu, semua menyatukan langkah untuk menghalau dan mempersempit ruang gerak terorisme. Agar tidak menjadi wabah dan merusak tatanan dan kehidupan rakyat Indonesia.

Dirinya juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Bima yang telah memprakarsai kegiatan tersebut. Semoga, dari kegiatan dimaksud, muncul kesadaran untuk bisa membentengi diri dari adanya doktrin paham tersebut.

*Bin

Komentar

Kabar Terbaru