Perkuat Ekonomi Desa, Pemerintah Desa Rite Bentuk BUMDes

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pemerintah Desa Rite Kecamatan Ambalawi akhir pekan lalu secara resmi membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bertempat di Aula Kantor Desa Rite. Pembentukan dilakukan melalui Musyawarah Desa (Musdes) yang dilaksanakan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat.

BPD dan Pemerintah Desa Rite usai Musdes pembentukan BUMDes. Foto: Dok Desa Rite

Musdes dipimpin langsung oleh Ketua BPD Rite Arisman dan dihadiri Pemerintah Desa, perwakilan tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Desa Rite. Musdes menghasilkan beberapa keputusan yaitu Nama BUMDes, jumlah penyertaan modal BUMDes dan AD/ART.

“Dana desa sebagai salah satu program utama pemerintah yang menggelontorkan dana langsung ke desa, adalah stimulus agar kemudian desa mampu berkembang secara mandiri. Salah satu upaya yang dilakukan dalam hal ini adalah dengan menggeliatkan BUMDes,” jelas Arisman.

Menurut dia, Desa Rite memiliki sejumlah potensi yang bisa dikelola untuk menopang kemandirian desa. BUMDes bisa mendukung kegiatan ekonomi masyarakat dan mengelola potensi lain di desa yang belum termanfaatkan.

“Sesuai dengan semangat awal, kehadiran BUMDes harus mampu menampung, mengkonsolidasi, dan mewadahi kegiatan usaha ekonomi desa,” kata dia.

Kepala Desa Rite Imran mengatakan, pembentukan BUMDes dilakukan sebagai upaya memenuhi salah satu dari 4 program prioritas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Tahun 2017 di samping 3 program lainnya, yakni One Village One Product (Satu Desa Satu Produk); Embung Desa; dan Sarana Olahraga.

“Melalui BUMDes diharapkan agar segala potensi Desa dapat dikelola secara maksimal sehingga dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Desa Rite,” jelas Imran.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *