Dijajah Secara Ekonomi, Ribuan Petani Garam Sanolo Belum Menikmati Kemerdekaan

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kurang lebih 2 ribu petani garam Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima belum bisa menikmati kemerdekaan, saat Bangsa Indonesia sedang merayakan hari kemerkedaan yang ke 74. (Baca. Protes Harga Garam Anjlok, Petani Bagi-Bagi Garam Gratis)

Petani garam di Sanolo saat aksi protes. Foto: Yadien

Pasalnya, hingga saat ini petani garam di desa hingga saat ini belum bisa menikmati harga garam yang seimbang dengan biaya produksi dan tenaga yang mereka keluarkan.

Salah seorang petani garam Azriansah mengatakan, jumlah petani garam di desa setempat mencapai 75 persen dari total kepala keluarga yang ada.

“Sekitar 2 ribu orang yang menjadi petani garam di desa kami,” ungkapnya ditemui saat menggelar aksi solidaritas pembagian garam gratis, sebagai bentuk protes terhadap anjloknya harga garam, Sabtu (17/8).

Kata dia, ribuan petani garam tersebut hingga kini belum benar-benar menikmati kemerdekaan. Pasalnya, petani garam masih dijajah secara ekonomi akibat harga garam yang terlampau anjlok.

“Kami belum benar-benar menikmati kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus tahun ini,” katanya.

Ia menjelaskan, harga garam yang hanya Rp 5.000 per karung besar saat ini tidak sebanding dengan biaya produksi dan tenaga yang dikeluarkan oleh petani. Bisa dihitung, proses produksi garam memakan waktu 1 hingga 2 pekan. Dalam kurung waktu tersebut selain tenaga petani juga mengeluarkan biaya produksi sekitar Rp500 ribu per petak tambak garam.

“Jangankan untung, kembali modal saja belum tentu kami dapat,” ungkapnya.

Karena itu dia berharap, pemerintah baik daerah maupun provinsi agar segera memperhatikan nasib para petani garam. Paling tidak dicarikan solusi agar harga garam tidak anjlok.

“Agar kami bisa menikmati kemerdekaan seperti orang lain,” harapnya.

*Kahaba-10

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *