oleh

Riset Terakhir Syafru-Ady Menang 48 Persen

Kota Bima, Kahaba.- Tim Analis dan Strategis Paslon Syafru-Ady, Darussalam mengungkapkan jika berdasarkan riset terakhir sepanjang perjalanan Pilkada Kabupaten Bima, hasil yang sangat menggembirakan yaitu kemenangan mutlak untuk Paslon Syafru Ady.

Riset Terakhir Syafru-Ady Menang 48 Persen
Pasangan Syafa’ad saat bertemu warga Desa Tawali. Foto: Bin

“Hasil survey ini menggambarkan konsistensi trend kenaikan dukungan Syafru-Ady hingga diangka 48 persen. Angka ini sudah sangat sangat aman sekali dan sudah tidak ada peluang lagi bagi Syafru-Ady untuk kalah pada Pilkada sekarang ini,” terangnya, Sabtu (5/12) .

Menurut dia, selisih dengan lawan cukup jauh hingga kurang lebih 8 persen. Artinya disisa waktu yang tinggal 4 hari ini, sudah tidak ada peluang bagi lawan untuk menyalip elektabilitas kemenangan Syafru-Ady.

“Bahkan trend kecamatan yang menjadi lumbung suara Syafru-Ady sebelumnya berada di 10 kecamatan, sekarang bertambah menjadi 13 kecamatan,” bebernya.

Jika menyangkut isu soal serangan politik uang sebagaimana yang berkembang dihampir semua desa kata Darussalam, sebagaimana yang didengar dan dibaca diberbagai medsos, itu sama sekali tidak mempengaruhi kemenangan Syafru-Ady.

Hal ini juga tertuang dalam riset mereka yang menjelaskan bahwa 68 persen warga tidak lagi tergoda oleh politik uang, artinya politik uang tidak mempengaruhi preferensi pemilih. Hanya kurang lebih 2 persen saja yang merubah pilihannya karena politik uang.

Riset Terakhir Syafru-Ady Menang 48 Persen
Tim Analis dan Strategi Syafru-Ady, Darussalam. Foto: Ist

“Jadi kami ingin mengucapkan selamat kepada para pejuang Perubahan yang telah berjuang dan mempertahanan satu kebenaran bahwa kekuatan nurani tidak bisa dikalahkan oleh siapapun,” tegasnya.

Sedari awal sejak riset pertama yang dilakukan sekitar awal Februari lalu tambah Darussalam, mereka telah menyimpulkan bahwa trend kekalahan petahana di Kota Bima akan berlanjut di Kabupaten Bima. Kongklusi tersebut berdasarkan fakta variebel yang sama persis antara Kota Bima dan Kabupaten Bima dalam hal argumentasi publik soal pergantian kepemimpinan.

“Sebenarnya ini bukan karena faktor Syafru Ady semata, yang lebih besar dari pada itu semua adalah kejenuhan warga serta kekecewaan warga kabupaten terhadap kondisi, yang kemudian bermetafora menjadi bentuk perlawanan atau memberikan sanksi sosial kepada kepemimpinan yang ada dengan cara Ganti Bupati,” pungkasnya.

*Kahaba-01

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Terbaru