Luas Pura di Tambora, 38 Meter X 74 Meter

Kabupaten Bima, Kahaba.- Pura Agung Udaya Parwata di Tambora (Sebelumnya disebut Pura Jagad Agung Tambora, Red) ternyata tidak seluas yang diisukan. Luas bangunan Pura itu lebarnya 38 meter dan panjang 74 meter. (Baca. Tolak Pura Tambora, Ini Pernyataan Sikap FUI Bima)

Pamangku Pura Agung Udaya Parwata, Jero Mangku Gede Tambora. Foto: Bin

Pamangku Pura Agung Udaya Parwata, Jero Mangku Gede Tambora. Foto: Bin

Luas yang disebutkan oleh Pemangku Pura Agung Udaya Parwata, Jero Mangku Gede Tambora itu sekaligus menampik isu yang beredar jika Pura itu terbesar se Asia Tenggara.

“Luas bangunan Pura ini hanya lebar 38 meter dan panjang 74 meter. Saya tidak tahu kalau Pura ini yang terbesar. Tapi anda bisa lihat sendiri, apakah ini Pura terbesar se Asia Tenggara atau tidak. Sementara masih banyak Pura lain di Indonesia yang lebih besar dari ini,” ujar Jero kepada Kahaba dan lima orang wartawan Bima lainnya, Senin (20/10).

Pria yang mulai menjadi pamangku Pura itu sejak Tahun 2005 menceritakan, Pura awalnya dibangun untuk ibadah karyawan Perusahaan PT. Banyu Aji, sekitar Tahun 1980-an silam. Karyawan yang beragama Islam dan Kristen juga diberikan hak sama, untuk membangun tempat ibadah.

Masjid dan Gereja yang dibangun untuk Karyawan PT. Banyu Aji. Kini, kondisinya sudah rusak. Foto: Bin

Masjid dan Gereja yang dibangun untuk Karyawan PT. Banyu Aji. Kini, kondisinya sudah rusak. Foto: Bin

“Sebelum anda tiba di Pura ini, melewati jalur jalan yang sama, pasti melihat Masjid dan Gereja dari kayu yang juga dibangun untuk karyawan PT. Banyu Aji. Karyawan beribadah dengan damai dan saling menghormati,” jelasnya.

Sementara untuk karyawan umat Hindu, lanjutnya, juga meminta lahan yang sama untuk membangun tempat ibadah. Dan pada tahun 1984 silam, Pura di Desa Oi Bura Kecamatan Tambora Kabupaten Bima pertama kali didirikan. Kemudian direnovasi, setelah ada izin pemugaran dari mantan Bupati Bima Tahun 2004 lalu.

“Renovasinya juga diberitahu kepada Kepala Desa dan Camat setempat. Bahkan saat itu peletakan batu pertama dihadiri Bupati Dompu, Ompu Beko, dan pejabat. Waktu itu, ramai pejabat yang datang,” katanya.

Pura di Desa Oi Bura Kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Foto: Bin

Pura di Desa Oi Bura Kecamatan Tambora Kabupaten Bima. Foto: Bin

Pria yang mulai datang ke Bima tahun 1985 itu mengakui, luas lahan Pura memang awalnya tidak besar. Sewaktu pemugaran, luas lahan menjadi 2 Hektar. “Jadi setahu saya, hanya lahannya yang mungkin luas, bukan pura,” terangnya.

Mengenai dinamika penolakan warga tentang keberadaan Pura tersebut, pria berusia 68 Tahun itu mengaku tidak tahu. “Saya disini hanya beribadah dan membersihkan Pura. Saya tidak tahu masalah penolakan warga,” katanya.

Pura di Tambora. Foto: Bin

Pura di Tambora. Foto: Bin

Ditanya jumlah umat Hindu di Desa Oi Bura, pria yang pernah tinggal di Desa Tente itu mengakui jumlahnya sekitar 180 orang Kepala Keluarga. Sementara yang sering datang untuk beribadah di Pura tersebut yakni masyarakat dari Bima, Dompu dan Sumbawa.

Jero menambahkan, pada tanggal 9 September Tahun 2014, kegiatan yang ramai didatangi oleh umat Hindu itu, merupakan ulang Tahun Pura yang ke 30, bukan peresmian.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *