Musim Kemarau Wilayah Bima Bergeser Mundur

Oleh: Teguh Murbiantoro

Letak geografis Indonesia menyebabkan wilayah Indonesia memiliki iklim muson, yang berpengaruh terhadap perubahan musim di Indonesia. Perubahan musim di Indonesia terjadi dari musim hujan dan musim kemarau dengan fenomena alam yang bermacam – macam pada setiap perubahannya.

Teguh Murbiantoro

Teguh Murbiantoro

Khususnya wilayah Bima dan sekitarnya, musim penghujan terjadi pada bulan Desember – Maret, sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April – November kondisi ini merupakan siklus normal yang terjadi setiap tahun.

Namun kondisi tersebut akan berbeda pada tahun 2015 ini, kita tahu sampai dengan Dasarian (sepuluh harian) ketiga bulan April hujan masih turun di wilayah Bima dan sekitarnya. Bahkan pada saat tertentu dengan intensitas sedang hingga lebat, yang artinya awan – awan hujan seperti awan Cumulonimbus masih dapat tumbuh dengan cukup signifikan.

Puncak hujan wilayah Bima dan sekitarnya sudah kita lewati pada bulan Maret yang lalu, normalnya bulan April memasuki musim kemarau namun yang terjadi tidak demikian. Sebenarnya apa yang terjadi di atmosfer?? Mari kita analisa satu persatu.

Posisi matahari pada bulan April bersinar di atas wilayah BBU (Belahan Bumi Utara) yang indikasinya bahwa wilayah BBU akan menerima radiasi panas matahari yang lebih banyak daripada wilayah Ekuator maupun BBS, sehingga BBU akan mengalami perubahan cuaca yang fluktuatif.

Saat matahari banyak berada di wilayah BBU (Maret – September), maka di daerah Utara (kawasan Benua Asia) akan mengalami pemanasan maksimal. Kondisi ini menyebabkan angin berembus dari daerah bertekanan tinggi (Benua Australia) ke daerah bertekanan rendah (Benua Asia). Gerakan udara ini menimbulkan angin Muson Timur terutama bertiup antara bulan April – Oktober.

Hal ini menyebabkan terjadinya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia karena pusat tekanan rendah identik dengan hujan berada di BBU. Data angin muson teramati masih cenderung berubah ubah, musim kemarau Bima dan sekitarnya identik dengan pola angin Timuran, namun sampai saat ini pola angin cenderung berubah pada beberapa hari terakhir kondisi ini juga yang menjadi penyebab masih adanya hujan, adanya gangguan seperti Tekanan Rendah di wilayah Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat yang masih muncul juga memberikan efek tingginya curah hujan di NTB.

Pada tanggal 24 April 2015 yang lalu terpantau adanya daerah pumpunan angin yang memanjang (Konvergensi) sepanjang pulau Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara Barat menjadi faktor pendukung terjadinya hujan dengan intensitas lebat di wilayah Bima pada hari tersebut.

Kondisi Suhu Muka Laut di perairan NTB yang hangat menyebabkan penguapan yang relatif tinggi dan memicu pertumbuhan awan – awan hujan yang cepat, kondisi atmosfer Indonesia khususnya NTB masih labil dan dengan kelembaban udara yang cukup basah sangat mendukung turunnya hujan.

Kondisi seperti ini kemungkinan masih akan terjadi dalam dua hingga tiga hari mendatang. Hujan yang terjadi dimulai sore hari Minggu, 26 April 2015 hingga pagi hari 27 April 2015 disebabkan adanya Tekanan Rendah (Low Pressure) di perairan selatan Nusa Tenggara Barat.

Pergerakan suplai uap air yang cukup basah dari Laut Flores menuju pusat Tekanan Rendah di selatan Nusa Tenggara Barat, yang melintasi pulau Sumbawa terjadi secara terus menerus pada hari itu menyebabkan pertumbuhan awan – awan hujan yang sangat signifikan, dan mengakibatkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berdurasi panjang.

Dalam hal ini Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan prakiraan sifat hujan di musim kemarau sebagian besar wilayah Bima dan Dompu bersifat Normal, kecuali Bima dan Dompu bagian utara bersifat Atas Normal.

Sementara prakiraan awal musim kemarau wilayah Bima diprediksi akan mengalami kemunduran atau terlambat memasuki musim kemarau selama dua dasarian dari data normal Zona Musim, selama 30 tahun terakhir wilayah Bima mengalami awal musim kemarau pada bulan April dasarian ke-I sampai ke-II.

Pergerakan siklus cuaca di wilayah selatan bergerak lambat ini mengindikasikan bahwa terjadi pergeseran musim kemarau di wilayah Bima dan sekitarnya. Dengan kata lain musim kemarau wilayah Bima dan sekitarnya diprakirakan akan terjadi pada bulan Mei mendatang.

*Penulis, adalah Prakirawan Cuaca di BMKG M.Salahuddin, Bima – Nusa Tenggara Barat.

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Mursalim Sarujin

    Assalamu alaikum Pak Teguh,
    Mohon bantuan kapan daerah Indonesia akan mengalami El nino dan El nina lagi. Mungkin hitungannya mulai tahun ini dan seterusnya. Terima kasih banyak atas infonya.

    PS : bolehkah saya mendapatkan email addressnya bapak Teguh.

    Wassalam,

    Mursalim Sarujin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *