Tumor Mata, Haris Tak Mampu Berobat

Kabupaten Bima, Kahaba.- Mata merupakan anugerah ciptaan Tuhan untuk melihat keindahan alam dan dunia yang diciptakanNya. Tak salah, ketika banyak orangtua kita bilang, kehilangan nikmat melihat sama halnya dengan kehilangan setengah nikmat dunia.

Haris dengan kondisi matanya yang terserang tumor

Haris dengan kondisi matanya yang terserang tumor

Seperti itulah yang dirasakan Abdul Haris, remaja berusia 19 tahun asal Desa Rada Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Bima. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Jainudin M Ali dan Fatimah ini didiagnosa menderita penyakit tumor di bagian pelipis mata sebelah kirinya. Penyakit ganas itu ia derita sejak di bangku SMP, tetapi kala itu belum terlalu besar.

Haris juga jarang absen ke sekolah kecuali benar-benar sakitnya tidak bisa ia tahan. Remaja kelahiran 1 Januari 1994 cukup tegar, untuk tetap bersekolah di SMPN 3 Bolo. Ia sadar bahwa dirinya adalah anak pertama yang menjadi harapan besar keluarganya sehingga harus tetap berjuang menyelesaikan sekolah.

Setamat SMP Negeri 3 Bolo, Haris melanjutkan pendidikan menengah ke SMK Negeri 9 Bima dan masuk pada Jurusan Bangunan seperti yang ia harapkan. Cita-Cita nya sederhana, Haris ingin menjadi Tukang batu, karena ia sadar tak mungkin bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dengan kondisi ekonomi keluarganya saat ini.

Dan ia setidaknya hanya ingin membangun rumah orangtuanya dan rumahnya sendiri bila kelak ia berkeluarga dari apa yang ia pelajari dibangku SMK tersebut. Namun apa daya, tumor jinak pada mata yang menggerogotinya, membuat ia minder. Tetapi, Haris tetap berjuang untuk bisa menyelesaikan sekolah, meski mata kirinya perlahan-lahan mulai ditutupi oleh daging yang tumbuh dengan cepat.

“Menurut cerita Haris, Awalnya, pelipis matanya terluka saat kelas 6 SD karena terkena pentalan batu yang ia lempar saat ingin mengambil mangga di halaman rumahnya di RT 05, RW 07, Dusun Bontoranu Desa Rada,” jelas keluarga Haris dikutip dari catatan facebook Rangga Babuju.

Pelipisnya tergores dan diobati dengan obat merah. Saat itu memang sembuh, namun pada bekas luka tersebut sedikit demi sedikit keluar daging seperti daging tumbuh. Awalnya dibiarkan, namun karena semakin membesar dan seakan akan menutup mata, akhirnya orangtuanya membawa Haris ke RSUD Bima dan di Operasi sejak tahun 2006.

Operasi pertama dilakukan pada tahun 2008 di RSUD Bima. Saat itu Haris baru kelas 1 SMP. Sekitar 2 centimeter dioperasi, bentuknya seperti daging tumbuh. Namun 2 tahun kemudian (2010), daging itu tetap tumbuh dan semakin cepat membesar. Operasi ke 2, dilakukan pada tahun 2011 di RSUD Bima juga, saat itu Haris masih duduk dibangku kelas 2 SMKN 9 Kab Bima. Dan dokter yang menangani saat itu mendiagnosa bahwa Haris menderita Despepsia (APS).

Karena tidak ada perubahan apapun, Haris dibawa ke RSUP Mataram dengan bekal Kartu Jamkesmas. Namun, oleh pihak RSUP Mataram, meminta kepada keluarganya Haris untuk dibawa ke RS Sanglah Denpasar. Karena tidak memiliki Biaya, akhirnya Haris dipulangkan ke Bima dan menunggu Mukjizat Tuhan saja.

Sebab, bagi Jainudin dan Fatimah (Orangtua Haris), uang untuk berobat ke RSUP Mataram saja, harus mengutang ke tetangga. Sebab kedua orang tua Haris adalah Buruh Tani musiman.

Saat ini, Haris hanya bisa berbaring tak tahu harus melakukan apa, ia membutuhkan uluran tangan para dermawan dan donatur. Harapannya, ia bisa dioperasi dan bisa kembali normal meski dengan mata sebelah. Setidaknya ia sangat ingin membantu orangtuanya menyekolahkan adik-adiknya agar bisa sukses dikemudian hari.

Haris menyadari kekurangan dan derita yang dialaminya. Namun, kepedihan pada bagian mata yang ia rasakan membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Haris hanya bisa mengantup mulut saat sakit menderanya, karena ia tidak ingin orang tuanya panik lantaran sakit tak tertahan yang ia rasakan.

“Relawan Kemanusiaan Babuju yang didampingi oleh Komunitas Seni Bontomaranu yang menyambanginya beberapa minggu yang lalu, hanya bisa memotivasi dan memintanya untuk sabar. Semoga saja ada dermawan atau pun para donatur yang bisa meringankan derita yang dialami oleh Haris,” terang Rangga.

Ketua Komunitas Babuju ini berharap, bila pun ada para Dermawan atau Donatur yang tergerak hatinya melihat dan ikut merasakan derita yang dialami oleh Haris, bisa membantu meringankan beban biaya Operasi dan biaya hidup melalui REKENING PEDULI HARIS: Bank BNI, 0216087863 atas nama JULHAIDIN, Contak Person 085299886619. Atau bisa pula langsung kerumahnya dengan alamat seperti disebutkan dalam berita.

Rangga menambahkan, sementara ini Donasi Peduli Haris hingga malam Senin (17/8) yang diterima berjumlah Rp 3.220.000 melalui rekening diatas. Jika dirasa cukup, Haris akan segera dibawa ke RS Sanglah Bali seperti yang disarankan oleh RSUP Mataram atas Pendampingan Relawan Kemanusiaan Babuju di Bali.

“Setidaknya tahun ini, Haris bisa kembali merasakan gegap gempita Kemerdekaan RI ke 70 seperti yang kita semua rasakan saat ini,” tandasnya.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *