AIPNI Visitasi Prodi Ners Stikes Yahya

Kota Bima, Kahaba.- Stikes Yahya Bima menerima kunjungan jajaran Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI), Sabtu (12/11). Kedatangan AIPNI guna melakukan visitasi rencana dibukanya Program Studi (Prodi) Ners yang sudah diusulkan Stikes Yahya beberapa tahun lalu.

AIPNI didampingi Ketua Yayasan Stikes Yahya saat melakukan pengarahan visitasi Prodi Ners. Foto: Bin

AIPNI didampingi Ketua Yayasan Stikes Yahya saat melakukan pengarahan visitasi Prodi Ners. Foto: Bin

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua AIPNI, Muhammad Hadi dan satu orang anggotanya yakni Emiliana Tarigan. Sementara dari jajaran Stikes Yahya, kehadiran AIPNI diterima oleh Ketua Yayasan, Yahya, Ketua Stikes Yahya dan seluruh jajaran lembaga kampus setempat.

Hadi kepada pekerja media usai melakukan visitasi mengatakan, kedatangan mereka untuk merespon permintaan dari Yayasan Stikes Yahya Bima, pertama untuk menjadi anggota AIPNI, kedua juga untuk memberikan pembinaan, dan yang ketiga adalah dalam rangka melakukan visitasi Prodi Ners.

“Dari hasil kunjungan visitasi ini, AIPNI nanti akan memberikan rekomendasi untuk pemberian proses perizinan,” ujarnya.

Diakui pria yang bergelar Doktor tersebut, pihaknya melihat langsung kondisi sarana dan prasarana Stikes Yahya. Hasilnya, Stikes Yahya Bima sudah memenuhi kualifikasi untuk membuka Prodi Ners. Hanya tinggal menyelesaikan dan melengkapi beberapa tahapan dan proses administrasi.

Dirinya pun akan berusaha mendorong dan membantu sepenuhnya, agar profesi ini cepat dibuka dan dijalankan. Karena warga Bima yang menjadi perawat, butuh Prodi dimaksud agar tidak perlu menempuh diluar daerah.

“Prodi Ners dibuka juga untuk kepentingan masyarakat Bima secara umum. Banyak perawat di Bima, yang juga perlu ambil profesi ini dan tidak perlu belajar jauh keluar daerah,” katanya.

Menurut Hadi, pendidikan perawat seharusnya memiliki satu kesatuan. Setelah menjadi sarjana, juga dituntut untuk mengambil profesi Ners. Jika tidak, maka perawat tidak bisa maksimal menjalankan profesi tersebut.

Pada prinsipnya juga, sambungnya, profesi keperawatan harus diproses dan dididik dengan cara yang baik dan benar. Karena setelah mereka lulus, tetap akan disebut sebagai perawat. Dididik dimanapun, profesinya tetap akan disebut sebagai perawat.

AIPNI saat meninjau sarana dan prasarana rencana Prodi Ners Stikes Yahya Bima. Foto: Bin

AIPNI saat meninjau sarana dan prasarana rencana Prodi Ners Stikes Yahya Bima. Foto: Bin

“Setelah lulus nanti, perawat akan banyak berhadapan dengan persoalan. Seperti persoalan profesionalitas dan persoalan hukum yang dihadapi saat menjalankan tugas,” ungkapnya.

Hadi juga mengaku, saat melakukan visitasi meminta kepada Stikes Yahya untuk memenuhi SDM dosen. Kemudian, perlu dilakukan peningkatan kualitas pembelajaran, sesuai dengan kurikulum yang baru.

“Tapi yang saya lihat Stikes Yahya sudah banyak mengirim dosen untuk program belajar. Bahkan ada yang diterima untuk belajar ke luar negeri. Artinya SDM sudah terpenuhi,” tambah pria yang juga menyandang gelar Magister Kesehatan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Stikes Yahya, Yahya mengaku Prodi Ners merupakan program yang ditunggu – tunggu dari tiga tahun yang lalu. Setelah bergelut dengan sejumlah persoalan beberapa tahun terakhir, pihaknya baru kembali mengurus pada tahun ini.

“Prodi Ners ini akan menjadi yang pertama di Pulau Sumbawa. Apabila sudah mulai dibuka, tentunya akan sangat membantu warga Bima dan sekitarnya untuk mengambil profesi ini,” tuturnya.

Pria yang bergelar Magister Kesehatan ini menargetkan, Prodi Ners bisa dibuka pada tahun ajaran baru. Saat sekarang, pihaknya akan fokus mengurus sejumlah kekurangan – kekurangan, termasuk soal administrasi di Dikti.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *