Ada Penjahat Intelektual Berkeliaran di Kampus STISIP?

Kota Bima, Kahaba.- Kampus perguruan tinggi sebagai pencetak sarjana pembangun bangsa harusnya dilahirkan dengan tradisi keilmuan yang benar. Namun bagaimana halnya apabila hampir 90 persen mahasiswa yang diwisuda di salah satu kampus swasta di Kota Bima, tugas akhirnya disinyalir buatan oknum dosen setempat?

Ilustrasi. Gambar: analisadaily.com

Ilustrasi. Gambar: analisadaily.com

Mahasiswa STISIP Mbojo-Bima, Delian Lubis menyorot praktek kejahatan intelektual di kampusnya. Dikatakan Lubis, skripsi yang merupakan syarat meraih gelar wisuda yang harus dibuat sendiri oleh mahasiswa, ternyata di tempatnya tidak seperti itu. Dan jumlahnya mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, ia merilis bahwa hampir 90 persen mahasiswa STISIP yang akan di wisuda tahun ini, skripsinya dibuat oleh dosen setempat.

“Jelang wisuda, banyak oknum dosen yang berubah menjadi penjahat intelektual.  Memudahkan jalan untuk mahasiswa meraih predikat sarjana,” sorotnya, Rabu (19/12/2012) di kampus STISIP Mbojo.

Kata Lubis, dirinya mengetahui itu bermula dari cerita sejumlah mahasiswa kampus tersebut. “Mereka (mahasiswa) tanpa malu-malu mengaku bangga jika skripsinya sudah selesai dan dibuat oleh oknum dosen,” ungkapnya.

Ujian skripsi pun hanya bersifat formalitas belaka, karena dosen penguji merupakan dosen yang membuat skripsi mahasiswa yang diuji. “Banyak juga mahasiswa yang berbangga diri karena sudah ujian skripsi dan menunggu waktu wisuda, meski saat ujian mereka tidak mampu menjawab pertanyaan dosen sedikit pun,” ungkapnya.

Menurut mahasiswa semester akhir itu, praktek kejahatan intelektual seperti harus segera dihilangkan. Karena pada dasarnya, pendidikan itu adalah memanusiakan manusia, bukan membodohkan manusia.

Ia juga mengaku heran dengan dosen di STISIP Mbojo-Bima yang tidak melakukan kejahatan intelektual seperti itu, namun mengetahui adanya tindakan pembodohan tersebut. praktek seperti semacam itu terkesan dibiarkan dan tumbuh subur di lingkungan kampus. “Untuk itu, kami memastikan, wisuda dalam waktu dekat ini tidak lebihnya pengakuan diri atas kebodohan yang dilakukan dengan cara berjamaah,” tambahnya.

Ditempat berbeda, Ketua STISIP Mbojo-Bima Dra. Hj. Nurmi, MSi yang dimintai tanggapan tentang hal itu, justru menjawab dengan kalimat No Coment. Demikian pula dosen senior STISIP Mbojo-Bima, Drs. Arif Sukirman, MH yang dimintai tanggapan, tak ingin berkomentar dan menyarankan untuk menanyakan langsung ke Ketua kampus setempat. Aneh bukan ? [BK]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Lubis Hermanto

    Inilah kiamat intelektual yg sedang melanda Negeri ini khususnya di Kampung halaman Bima, semoga ada hikmah dan semuanya akan berakhir baik yg terjadi di PTS lain khususnya di kampus STISIP.

  2. Iya,,, ini kasus paling aneh di kampus STISIP mbojo-bima, kasus yang makin subur, bahkan sampe tahun ini, anehnya bukan hanya mengetik n mencetak aj, ada sebagian dosen yang langsung meminta tanda tangan kepada teman dosennya yg tertera nama.a sebagai pembimbing 1 n IInya, tanpa basa basi panjang lebar, alhasil tugas akhir mahasiswa tersebut sudah di ACC, maka tak heran di waktu pelaksanaan wisuda terlhat wajah2 aneh, wajah2 asing, yg tak di kenal sama sekali, ok lah kalo begitu bisa di maklumin, nah yg ajaibnya di kapus STISIP mbojo bima itu, justru yg wajah2 ini bisa memiliki nilai, bahkan mengalahkan mahasiwa2 yg aktif kuliah, ini mah sugguh ajab, ini nilai siapa yg sulap yaa,,, ??, tinggi2 lg, sedangkan syarat untuk bisa lulus, n di wisuda harus menyelesaikan 180 SKS, itu katanya… Gimana bisa 180 SKS itu selesai kalo hadir di kampusnya cmn senin kamis, saat ujian doank, bahkan gak pernah hadir sama sekali ??, ini kebanyakan pertanyaan2 yg keluar dari mulut mahasiswa2 aktif kuliah, yg merasa tidak di perlakukan secara adil, bahkan sy sendiri alumni STISIP mbojo-bima, yg tamat tahun 2015 ini, yg boleh dikatakan salah satu mahasiswa yg selalu hadir dan aktif di saat kuliah, merasa sangat kecewa dgn ketidak adilan, ketidak jujuran sebagian oknum dosen tersebut.
    Kalo di bhas kasusu ini masih panjang dan lebar, tp cukup segitu aj dulu, jadi tekanan batin kalo di lanjutkan terus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *