Tambora dan Pengajar Muda

Kabupaten Bima, Kahaba.- Tambora, kisah gunung berapi ini mendunia. Letusannya dua abad lalu begitu dahsyat. Konon, tiga kerjaan hilang dilahapnya dan abunya hingga ke Benua Eropa.

Gunung Tambora, dilihat dari arah Kecamatan Sanggar menuju Desa Kawinda To'i. Foto: AGUS

Gunung Tambora, dilihat dari arah Kecamatan Sanggar menuju Desa Kawinda To’i. Foto: AGUS

Kisah itu dua ratus yang lalu. Saat ini wajah tambora kian bersahabat. Banyak orang yang terpesona dan ingin menginjakkan kakinya di gunung yang tersohor itu. Gunung Tambora terletak di dua wilayah pemerintahan. Ada yang masuk di wilayah Pemerintah Kabupeten Bima dan ada teritorial di bawah kewenangan Pemerintah Kabupaten Dompu.

Liputan Kahaba kali  ini menuju Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima. Mengantar anak muda asal Yayasana Indonesia Mengajar (IM) dan membawa puluhan box buku dan alat peraga pendidikan. Ke tambora, merapat di beberapa desa, yaitu Desa Kawinda Toi, Desa Kananga dan Desa Oi Bura.

Dari jauh, gunung itu memang terlihat berkharisma. Namun, jalan ke arah Kecamatan itu tak kalah mendulang cerita lainnya. Kerikil tajam, curam, berbatuan, sedikit aspal dan berdebu, hingga melintasi sungai adalah tantangan tersendiri jika bertandang ke Tambora melewati Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima.

“Kita harus lewat Sanggar dan mengantar Eka di Desa Kawinda Toi,” kata Lana, Selasa (5/11/2013) lalu.

Meminjam mobil berplat merah, perjalanan sekitar kurang lebih 71 mil dari Desa Piong Kecamatan Sanggar akhirnya tiba di Desa Kawinda Toi Kecamatan Tambora. Di SDN Oi Marai dan menyimpan buku serta alat peraga di salah satu ruangan kelas.

Eka Annisa Oktaviani yang sudah menganggap rumah transmigran milik orang tua angkatnya itu, langsung menyuguhkan kopi khas tambora. Nikmatnya kopi itu, seolah lelah sepanjang 71 mil dan medan jalan yang menyikut raga hilang seketika.

Rata-rata rumah transmigran di Desa Kawinda Toi masih berdinding papan kayu dan aliran listriknya mengandalkan PLTA di Sungai Oi Marai. Saat ini, kondisi PLTA itu pun rusak dan sedang diperbaiki.

“Selama PLTA berfungsi, listrik aman di Kawinda Toi. Karena banjir, sudah berbulan-bulan PLTA itu rusak dan kami hanya mengandalkan lampu pijar. Mau pake diesel, bahan bakar mahal, bisa sampai Rp 10 ribu per liter,” ujar Pak Lalu, Bapak Angkat Eka pada Kahaba.

Masyarakat Kawinda Toi mengandalkan madu hutan, jambu mente dan hasil laut untuk tetap bertahan hidup. Kondisi si Eka, anak Kota yang mengais kisah hidup sebagai pengajar muda dan tinggal di kawasan pinggir tambora, tentu bukan hal yang mudah. Hidup berdinding kamar papan kayu dan sesekali saat ke kamar mandi, Eka harus berhadapan dengan Babi hutan yang berkeliaran adalah cerita hidup yang tak terlupakan olehnya.

“Memang menjadi pengabdi butuh lebih dari sekedar pengorbanan,” pesan Eka, Pengajar Muda, Alumni UPI Bandung.

Perjalanan dilanjutkan. Sekitar dua jam tiba di Desa Kananga. Dari sana, tampaklah pulau satonda. Pulau yang indah nian dan terdapat danau air tawar di tengahnya. Pulau itu pun pernah menjadi obyek sengketa, tapi akhirnya masuk dalam wilayah Pemerintah Kabupaten Dompu setelah berpolemik dengan Pemerintah Kabupaten Bima.

Desa Kananga adalah Ibukota Kecamatan Tambora. Di sana, semua fasilitas tersedia. Mulai dari air, listrik hingga sinyal telepon genggam. Beda seperti di Desa Kawinda Toi yang terkesan seperti daerah terisolir.

Desa Kananga, di sanalah seorang pengajar muda, Lana Alfiyana, mengabdikan dirinya. Menjadi guru SD dan mengajar Bahasa Inggris di Kelas 4, 5 dan 6 adalah kesukaannya.

“Saya senang dan menikmati berada di sini. Dan Biasanya di akhir pekan, Kami berempat berkumpul di sini,” kata Pengajar Muda Alumni Undip Semarang itu.

Walau fasilitas tersedia, ada keadaan yang memprihatinkan. Jalan berlubang dan beberapa jembatan rusak parah. Ketika melaju, satu jembatan beralas papan kayu yang tak tertata rapi yang dengan terpaksa harus dilintasi. Ada juga dua jembatan yang rusak parah dan bagi kendaraan atau pejalan kaki, harus melintas di bawah jembatan melewati sungai sebagai jalan alternatif.

Saat menyimpan bantuan di SDN Oi Bura. Foto: AGUS

Saat menyimpan bantuan di SDN Oi Bura. Foto: AGUS

Perjalanan pun terus berlanjut. Masih sekitar 10 box buku lagi yang harus dibagi dan tujuannya adalah Desa Oi Bura. Sekitar satu jam dari Desa Kananga, akhirnya tiba juga di desa yang terkenal dengan kawasan kebun kopi itu. Di sana, Tio  Nugroho dan Siska Ayu Tiara Dewi, dua pengajar muda mengabdikan dirinya. Rumah orang tua angkat Tio terletak tepat di kaki gunung tambora.

“Kalau ingin mendaki puncak tambora melewati  jalur Desa Oi Bura, pasti melintas di depan rumah. Jarak rumah Saya dan Pos I pendakian tambora hanya beberapa kilometer saja,” ujar lelaki berbadan besar itu.

Sedangkan Siska, ia menjadi guru di SDN Oi Bura. Lokasinya berjarak sekitar 10 KM dari tempat Tio. Bantuan buku yang di bawa di simpan di sekolah tempat Siska mengabdi. Kata Siska, di lingkungannya hanya ada satu Sekolah Dasar dan warganya sekitar 40-an KK. Anak-anak yang sekolah di sana, ada juga yang berasal dari daerah tetangga.

“Mereka berjalan kaki sekitar satu jam  baru tiba di sekolah,” kata Guru asal Kota Bekasi, Jakarta.

Medan di Tambora memang  mengundang kesan tersendiri ketika melintasinya. Kejanggalan pandangan pun terkisahkan, ketika kondisi hutan tambora tak lebat lagi. Harusnya, penderitaan tambora cukup dengan kondisi jalan yang belum diaspal secara maksimal dan fasilitas lainnya yang kurang tersedia. Hutan di tambora harus dilestarikan. Karena Tambora merupakan salah satu paru-paru dunia, apalagi ada rencana pemerintah mengadakan kegiatan “Tambora Menyapa Dunia”.

Pulang dari Tambora, jika melintasi kawasan Calabai, Kabupaten Dompu, ribuan hektar hamparan padang dengan posisi laut di ujung pandangan adalah pemandangan yang luar biasa saat melintas di kawasan itu. Waktu tempuh dari Calabai ke Kota Bima sekitar lima jam lamanya.

Empat orang Pengajar Muda (Lana, Eka, Tio dan Siska) yang mengabdi di Kecamatan Tambora. Foto: AGUS

Empat orang Pengajar Muda (Lana, Eka, Tio dan Siska) yang mengabdi di Kecamatan Tambora. Foto: AGUS

Empat orang pengajar muda ini adalah generasi yang ketiga. Sebelumnya, dua generasi sudah mengabdi di keempat sekolah yang ditempatkan pengajar muda tahun ini.

Lima tahun program Yayasan Indonesia Mengajar berkiprah di Kabupaten Bima. Dari tahun ke tahun terjadi pergantian para pengajar muda yang mengabdi di Bima.

Mereka berjumlah sembilan orang setiap tahunnya. Ada yang ditempatkan di Kecamatan Tambora, Kecamatan Langgudu, Kecamatan  Parado, dan Kecamatan Lambu.

*AGUS

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *