Ama Hami, Wisata Murah Meriah Di Pinggir Kota Bima

Wisata Kota Bima, Kahaba.- Bila anda berkunjung di Kota Bima, tidak lengkap rasanya jika anda belum mengunjungi kawasan pantai Ama Hami. Kawasan yang terletak di pinggir teluk Bima ini selalu ramai dikunjungi setiap sore apalagi pada setiap momen akhir pekan dan hari libur. Selain jaraknya yang dekat dengan pusat kota, keindahan teluk dikala senja membuat Amahami menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Bima untuk berekreasi. Jarak tempuh yang hanya beberapa menit dari pusat kota ini memudahkan akses bagi yang ingin melepaskan lelahnya sambil menikmati sepoi-sepoi angin pantai.

Sejatinya kawasan ini bukan berupa pantai seperti kebanyakan, jadi anda keliru kalau membayangkan pantai Ama Hami adalah sebuah pantai yang berpasir putih. Reklamasi yang dilakukan pemerintah kota beberapa tahun yang lalu untuk pembuatan jalur jalan dua arah membuat sepanjang pantai Ama Hami dibangun talud (tanggul penahan tanah .red) dengan trotoar dan pembatas laut di pinggirnya. Pembangunan tanggul ini justru menambah daya tarik Ama Hami karena menciptakan space yang bisa juga difungsikan sebagai tempat duduk bersantai masyarakat dan juga membuat kawasan ini semakin tertata rapi. Taman-taman dan pohon peneduh jalan juga dipelihara dengan baik sehingga menambah kenyamanan para penikmat senja di tempat yang menurut sebagian orang mirip dengan pantai Losari di Makassar ini.

Pengunjung dan pedagang kaki lima di Ama Hami Kota Bima

Penamaan Ama Hami untuk pantai di sepanjang Lawata hingga memasuki Kota Bima menurut budayawan Alan Malingi memiliki sejarah tersendiri. Ama Hami adalah nama salah seorang Kepala Keluarga yang pernah tinggal di pinggir pantai ini sampai era tahun 70-an. Dulu, di lokasi ini pernah berdiri lebih dari 10 buah rumah panggung yang didiami oleh keluarga Ama Hami mulai dari anak, menantu, serta cucu dan buyutnya. Pada masa Bupati Bima H. Oemar Harun, Bsc Ama Hami pindah ke kampung Dara dan nama Ama Hami diabadikan untuk nama pantai ini.

Jika anda ingin mengunjungi Ama Hami sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari. Udara wilayah Nusa Tenggara yang terik membuat tempat ini begitu panas pada siang hari. Sembari menunggu matahari beranjak ke peraduan di ufuk barat, kita bisa menikmati makanan dan minuman yang dijajakan oleh para pedagang di sepanjang kawasan ini. Banyak keluarga membawa anak-anak mereka untuk sekadar duduk santai atau menikmati aneka sajian dengan harga yang terjangkau.  Banyak pula yang tak bosan-bosannya menikmati matahari tenggelam dari tepi pantai, khususnya pasangan remaja yang memanfaatkan suasana romantis pada saat-saat seperti itu. Belum lagi yang sengaja memanfaatkan panorama indah tersebut untuk berfoto bersama. Tidak sedikit juga pengunjung yang betah menikmati udara pantai Ama Hami hingga menjelang tengah malam bersama teman dan sahabat, menikmati secangkir kopi di lapak-lapak pedagang yang menggelar tikar/karpet di atas trotoar sepanjang jalan kawasan ini.

Kawasan pesisir Pantai Amahami sangat cocok untuk dijadikan sebagai ruang terbuka publik yang berfungsi sebagai tempat rekreasi kota. Dibalik segala potensi yang dimiliki, tentunya kawasan ini masih harus terus dibenahi. Seyogyanya di sepanjang objek wisata keluarga ini disediakan tempat sampah agar kebersihan kawasan khususnya laut tidak tercemari oleh sampah-sampah bekas makan dan minum pengunjung.  Sarana ibadah dan Toilet juga sangat dibutuhkan mengingat aktivitas masyarakat di Ama Hami kebanyakan berlangsung sore hingga malam hari. Selain itu, fasilitas penerangan jalan harus menjadi perhatian pihak yang berkompeten mengelola kawasan ini agar tercipta rasa aman, nyaman, dan mencegah stigma negatif akibat perilaku tercela segelintir muda-mudi di  icon pintu masuk Kota Bima ini. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. wawan

    60% kota-kota dunia, termasuk kota2 di
    indonesia menjadikan pantai sebagai ruang publik, sepatutnya kota bima membrikan perhatian khusus dalam mengembangkan ruang publik yg indah dan nyaman

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *