Ibu-Ibu Ungkap Peredaran Tramadol Saat Reses Dewan di Kelurahan Melayu

Kota Bima, Kahaba.- Peredaran obat Tramadol menjadi aspirasi pembuka yang disampaikan warga Kelurahan Melayu, saat reses Anggota DPRD Kota Bima Dapil Asakota, Kamis (20/1). Bagaimana tidak, obat keras tersebut terus beredar luas dan telah merusak para generasi.

Reses DPRD Kota Bima Dapil Asakota di Kelurahan Melayu. Foto: Bin

Salah seorang warga Lingkungan Kampung Benteng Kelurahan Melayu Ririn Anggriani nampak penuh semangat menyampaikan soal Tramadol di lingkungannya. Bahkan yang mencengangkan, Kampung Benteng lebih dikenal sebagai Kampung Tramadol.

“Tidak ada yang tahu Kampung Benteng, orang tahu itu Kampung Tramadol,” ungkapnya dengan suara lantang.

Menurut dia, peredaran Tramadol di lingkungannya sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Generasi begitu mudah mendapatkannya, karena warga setempat juga banyak yang menjualnya.

Akibat obat keras itu, tidak sedikit anak muda juga yang berkelakuan buruk. Tentu saja sebagai orang tua, ia begitu khawatir karena ini menjadi ancaman bagi perkembangan anak -anak di Lingkungan Benteng.

“Adik ipar saya sekarang kalau lagi sendiri, suka tertawa-tertawa sendiri seperti orang gila,” katanya.

Untuk itu, dirinya meminta kepada wakil rakyat untuk memperhatikan serius kondisi di Lingkungan Benteng. Bila perlu turun langsung ke lingkungan tersebut bersama aparat kepolisian untuk razia.

Selain itu, Ririn juga berharap kepada dewan untuk memberikan dana atau pelatihan untuk ibu-ibu. Agar bisa mandiri mencari nafkah yang halal, tanpa harus menjual tramadol.

“Kalau Tramadol ini terus beredar dan tanpa tindakan, maka anak-anak kita akan mati,” kesalnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua RT 02 Kelurahan Melayu. Berkaitan dengan Tramadol, ia berharap ada langkah konkrit yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat kepolisian. Bila perlu tangkap segera penjual Tramadol, agar generasi selamat.

Sejumlah aspirasi lain juga disampaikan oleh warga Kelurahan Melayu. Beberapa diantaranya yakni masalah drainase dan infrastruktur lain.

Menjawab aspirasi masyarakat tersebut, Anggota DPRD Kota Bima Sukri Dahlan mengaku, soal Tramadol pihaknya akan segera berkoordinasi dengan aparat kepolisian, agar segera disikapi serius.

Selain itu, ia menyarankan kepada Pemerintah Kelurahan Melayu agar bisa memanfaatkan dana kelurahan untuk pemberdayaan. Karena 60 persen dana kelurahan tersebut digunakan untuk pemberdayaan masyarakat.

“Dana kelurahan itu bisa untuk pemberdayaan juga, agar ibu-ibu tidak menjual Tramadol,” terangnya.

Anggota dewan lain Khalid, menjawab soal aspirasi mengenai infrastruktur seperti drainase, akan diupayakan semaksimal mungkin. Apalagi ada 3 orang wakil rakyat di Kota Bima merupakan putra Melayu.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *