Visi Pembangunan SDM NTB Gemilang, Benarkah Otentik?

Oleh: Hazairin A Rasul*

Hazairin A Rasul. Foto: Ist

Tokoh propaganda, putra sang fajar, pemimpin revolusi, pengusung anti penjajahan, dan anti imperialisme barat Soekarno berkata di hadapan Rektor saat diwisuda di “Technische Hoogeschool”, bahwa ijazah ini suatu saat dapat robek dan hancur menjadi abu, atau tidak abadi. Satu-satunya hal yang abadi adalah karakter dari seseorang. Kenangan atas karakter selalu hidup, sekalipun raga itu mati.

Soko guru pendidikan Ki Hajar Dewantara juga pernah berujar bahwa pendidikan memerdekakan manusia, baik lahir maupun bathin. Pendidikan faktor yang paling mendasar dan elementer mempertinggi derajat manusia, menjadikan manusia yang mandiri, manusia yang merdeka, dan manusia yang berdaulat. Singkat kata, manusia yang membebaskan dari segala simbol yang menghantui.

Salah satu kebijakan strategis Gubernur NTB yang mengusung NTB Gemilang yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM). Langkah itu Gubernur NTB tempuh dengan mengambil keputusan mengirim 1.000 orang anak NTB ke luar negeri. Membangun sumber daya manusia berbeda dengan pelembagaan sumber daya manusia, kendati satu sama lain saling memiliki korelasi dan koherensi.

Masyarakat NTB memberikan apresiasi dan pujian kepada Gubernur NTB, nyaris saya tidak menemukan analisis yang mendalam apakah kebijakan penguatan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan luar negeri merupakan sebuah “kebijakan otentik bagi pembangunan mental dan karakter manusia”? Ataukah apresiasi publik itu karena dianggap kebijakan Gubernur NTB tentang penguatan pembangunan sumber daya manusia sesuatu yang baru?

Kebijakan yang baru tidak selalu identik dengan menyudahi soal-soal pembangunan yang terjadi sebelumnya, maupun menjawab soal-soal yang bakal terjadi ke depan. Kebijakan Gubernur yang baru terkait dengan penguatan pembangunan sumber daya manusia hanya bukti permulaan yang belum cukup bahwa Gubernur punya tekat dan antusias memajukan pembangunan NTB.

Gubernur NTB yang mengusung visi NTB Gemilang memang punya warna yang berbeda dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Pun perbedaan warna itu bukan pula hipotesa untuk mendudukkan Gubernur sekarang sebagai yang terbaik. Alat ukur yang otentik harus tertuju pada perubahan ruang publik yang nyaman tanpa diskriminasi.

Memang tidak dapat disanggah bahwa kemajuan pembangunan sebuah bangsa selalu inheren dengan kemajuan sumber daya manusia. Apakah sumber daya manusia yang punya kekayaan moral, kekayaan mental, dan kekayaan karakter merupakan hasil produksi dunia pendidikan luar negeri?

Banyak variabel dan tolok ukur sebagai titik pijak dalam menilai aksi dan strategi pembangunan berbasis pembangunan sumber daya manusia. Penggemblengan sumber daya manusia melalui institusi formal dalam negeri dan luar negeri bukalah opsi tunggal pembangunan sumber daya manusia yang bermental dan berkarakter.

Mental dan karakter manusia yang tangguh dalam segala medan berakar dari sumber makanan yang dikonsumsi sejak ia berada dalam kandungan dan nutrisi giji dari air susu Ibunya serta jerih payah yang halal dari hasil perjuangan ayahnya. Itulah siklus dasar yang menjadi akar kekuatan mental dan karakter manusia.

Institusi formal dalam negeri dan luar negeri yang hanya bertumpu pada perluasan cakrawala berpikir, tetapi mempersempit kekayaan bathin, bukan saja anomali dan paradoks, tetapi juga nestapa baru di masa datang bila kita merumuskan sudut pandang menyongsong abad pencerahan.

Kekuataan pembangunan sumber daya manusia yang putus dari garis tradisi dan akar-akar tauhid hanya menciptakan watak individualistik dengan kepekaan sosial yang rapuh. Mental, watak, dan karakter manusia hanya bisa dijaga kemurnian dan kejernihannya dalam melakukan ekspansi pada banyak gelombang ruang publik manakala memiliki tangki moral yang mewarisi tradisi dan akar-akar tauhid dengan sadar.

NTB dalam sejarahnya yang panjang dengan kondisi alam yang gersang justeru hidup dan punya kemampauan kompetisi dari zaman ke zaman karena memiliki akar tradisi dan akar tauhid yang kuat.

Dengan basis logika itu maka upaya membangun keindahan sumber daya manusia yang berperadaban sangat ditentukan oleh kemampuan leadersip menggali akar-akar tradisi dan akar-akar tauhid masyarakat setempat guna ditularkan dalam pendidikan formal dan informal dipentas lokal melalui penguatan mutu pendidik dan pembenahan infrastruktur pendidikan yang inklusif.

*Aktivis 98 dan Penulis Buku Nurani Keadilan

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *