‘Muramnya’ Cagar Budaya Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Peradaban Bima di masa lampau begitu tersohor hingga di jagat Nusantara. Dari bentuk kerajaan hingga massa keemasan nya di zaman kesultanan, peradaban di Bima kian terpelihara. Tapi itu dulu, karena kini, semuanya hanya tinggal cerita. Cagar budaya seolah tidak bisa membuktikan massa keemasan negeri yang dikenal Maja Labo Dahu ini. Semua menjadi muram durja, tak terurus dan seperti benar–benar hilang.

Museum ASI Mbojo Bima.

Museum ASI Mbojo Bima.

Tak dipungkiri, berbagai budaya lahir dalam perjalanan sejarah daerah ini. Setiap dekade, selalu ada perubahan yang menggeser tatanan budaya ini, baik itu prilaku maupun adat istiadat. Mestinya, seberapapun deras arus zaman, setidaknya sejarah kita yang pernah besar dan berjaya, tidak tergilas habis. Sehingga sampai kapanpun hidup ini, masih tersisa bukti yang bisa diceritakan pada generasi.

Budayawan Bima, Husein La Odet, menuturkan kekecewaan nya terhadap kepala daerah di Bima. baik itu Kota maupun Kabupaten Bima. Nasib situs-situs sejarah massa lampau dengan budaya nya yang beragam, sudah ditelan zaman. Kondisinya, hampir tidak pernah diperhatikan. Cara menghargai kebesaran dan kejayaan daerah ini, seolah tak ada lagi.

Kata dia, fakta tak adanya perhatian tersebut terpampang jelas. Jangankan nasib situs dan benda cagar budaya di tanah Bima ini, ASI Mbojo yang dikenal dengan istana kerajaan kemudian kesultanan Bima, kini pun terbengkelai tidak ada perhatian yang jelas. Padahal setiap tahun dalam pagu anggaran Dinas Pariwisata jelas tertuang anggaran untuk perbaikan dan perawatannya. “Tidak pernah jelas anggaran itu untuk diapakan,” sorotnya.

Menurut La Odet, tidak ada yang berubah di ASI Mbojo, dari jaman dahulu sampai sekarang tetap seperti itu. Mestinya cagar budaya terbesar itu harus mendapat perhatian khusus di setiap perkembangan zamannya. “Itu bukan milik pribadi, tetapi milik masyarakat Bima yang harusnya diperhatikan sebagai warisan sejarah dan budaya,” tegasnya.

Padahal, lanjutnya, pada APBD Tahun 2011/2012 ada anggaran sekitar Rp 1 miliar untuk perawatan benda-benda cagar  budaya di Bima. Namun yang terjadi, anggaran itu hanya diketahui oleh Kepala Dinas (Kadis) dan pimpinan daerah saja. “Tidak pernah ada transparansi penggunaannya. Kalaupun kemudian ditelantarkan, akan jadi apa sepuluh tahun atau dua puluh tahun ASI Mbojo itu nanti,” ungkap pria yang selalu mengenakan topi tersebut.

Tidak saja Museum itu, dia juga menyorot nasib situs Wadu Pa’a yang juga ditelantarkan. Karena tak ada perhatian, situs tersebut habis terkikis air dan mulai rusak. Lucunya lagi, dalam APBD Perubahan tahun 2013 tertuang anggaran untuk perawatan. Tapi aneh nya, situs tersebut tak mengalami perubahan yang berarti.

Menurut nya, tidak sembarangan untuk melakukan perawatan terhadap situs sejarah dan budaya, harus memiliki Sumber Daya Manusia (SMD) khusus. Hal itu dilakukan untuk menghindari terjadinya kerusakan terhadap situs dimaksud. ”Mau apa kan mereka situs itu, apa mau digali sembarang tanpa ilmu pengetahuan tentang arkeologi dan situs,” pungkas nya.

Begitupun dengan seni dan budaya Bima selama ini, juga tidak diperhatikan. Berbagai ragam budaya Bima, hanya diadakan dan per tonton kan secara seremonial semata, tanpa tahu bagaimana menjaganya agar tetap lestarinya budaya yang diwariskan itu. “Itu dijaga dan pertahankan sesuai makna dan arti harfiah nya, dan sesuai tempat dan waktu. Tidak hanya pada acara-acara yang tidak jelas,” terangnya.

Bima sebagai daerah transit dan dikenal dengan segi tiga emas perdagangan pada jaman dulu, mesti nya dapat dimanfaatkan dengan maksimal oleh pemerintah daerah. Agar wisatawan yang hendak berwisata ke pulau Komodo, Pantai Lakey tidak hanya numpang lewat, tapi ada nilai budaya yang bisa di jual. “Pertanyaannya, budaya apa yang bisa kita tunjukkan ke para wisatawan. Karena memang tidak ada yang dapat diberikan oleh pemerintah pada wisatawan saat berada di Bima, sehingga wisatawan memilih tidur di kamar hotel sambil menunggu angkutan menuju pulau Komodo dan Pantai Lakey,” tuturnya.

Dia menjelaskan, jika pemerintah mampu mengemas wisata budaya dan sejarah Bima, akan ada imbas positif bagi daerah dan masyarakat. Tidak saja wisatawan akan betah di Bima, tetapi kehidupan ekonomi masyarakat pun akan ikut meningkat. “Pengembangan pariwisata juga harus memikirkan tentang kesejahteraan rakyat nya,” tandasnya.

Namun, semua kembali lagi pada niat Pemerintah di Bima, terutama pimpinannya. Jangan karena masalah wilayah kemudian Kota Bima malah enggan memperhatikan ASI Mbojo. “Ini yang harus dipisahkan, wilayah boleh berbeda secara pemerintahan tetapi mempertahankan peninggalan budaya harus bersama-sama,” tukasnya.

Terutama Pemkab Bima, apalagi pimpinan Pemerintahannya sekarang adalah Sultan Bima. Yang merupakan pimpinan masyarakat Bima secara budaya. Harusnya kebijakan – kebijakan nya ke depan sedikit melirik nasib cagar budaya, jangan sampai kemudian hilang oleh erosi jaman. Bila perlu, kembalikan aktifitas budaya yang ada di Bima. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. yan

    Sepakat.. Bima seolah sudah tdk pny identitas diri. Menyedihkan nasib dana mbojo ini. “Maja labo dahu” kl sudah tdk pny budaya sbg identitas diri “Dou labo Dana Mbojo”. Penguasa daerah hny sibuk membangun rezim kekuasaan, tp lupa akarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *