DAK Capai 70 Persen, Satu Sekolah Disorot

Kota Bima, Kahaba.- Kendati baru cair anggaran tahap pertama,  pekerjaan Dana Alokasi Khusus (DAK) diseluruh sekolah kini sudah mencapai sekitar 70 persen. Progressnya terlihat cepat, karena pemilik toko material bisa mendistribusikan bahan–bahan bangunan lebih awal, meski dibayar belakangan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Hal tersebut di akui PPK DAK, Slamet Riadi, ST, saat ditemui di ruangannya Selasa, 12 November 2013. Ia mengaku, DAK tahun 2013 ini, jika dilihat secara keseluruhan, pelaksanaannya sudah mencapai 70 persen.

“Progressnya cepat, karena ada kepercayaan distributor barang atau toko bangunan yang mau memberikan material kepada sekolah lebih awal. Dan nanti di pencairan tahap kedua, itu akan dibayarkan semua,” ujarnya.

Kata dia, pekerjaan tersebut diswakelola dan tidak berbatas waktu dan target, karena disesuaikan dengan kemampuan sekolah untuk menyelesaikannya. Dan untuk tertib administrasinya, ia selalu menekankan kepada sekolah untuk tidak melewati waktu tahun anggaran. “Artinya pada akhir Desember nanti, SPJ pelaksanaan kegiatan sudah masuk semua,” katanya.

Tapi bagi yang menemui kekurangan dan kendala di lapangan, boleh melanjutkan kegiatan swakelola di tahun berikutnya dengan tetap menggunakan acuan juklak dan juknis tahun sebelumnya. “Tetapi karena satu kelompok pengajuannya dilakukan secara kolektif, maka satu sekolah yang terlambat, maka yang lain akan mengalami keterlambatan semua.

“Pada pencairan tahap pertama sebanyak 40 persen. Kemudian sekolah membuat SPJ dan mengajukan pencairan dana tahap kedua. Dalam setiap pencairan, sekolah harus melampirkan laporan penggunaan anggaran pekerjaan sebelumnya,” kata Slamet.

Sementara itu, sorotan setiap sekolah pelaksana proyek DAK tetap saja ada. Kali ini, pihak sekolah diduga menggunakan material bangunan yang lama, padahal dalam pekerjaan DAK harus menggunakan bahan dan material yang baru. Sorotan kali ini dialamatkan ke SDN 44 Kota Bima.

Kata sumber, DAK untuk rehabilitasi sejumlah ruangan di sekolah itu menggunakan material lama, padahal anggaran untuk merehab bangunan tersebut harus dengan material yang baru

Ia mencontohkan, keramik lantai hasil bongkaran bangunan, sebagian besarnya memakai keramik yang lama. “Harusnya beli keramik baru, karena memang anggarannya tersedia dan dianjurkan seperti itu adanya, bukan memakai keramik yang lama atas dasar penghematan tapi salah sasaran,” ujarnya.

Ia khawatir keramik tersebut tidak bisa bertahan lama walau kondisinya masih layak pakai. “Yang lama tetntu berbeda dengan yang baru. Dan kita tidak pernah tahu sampai kapan keramik lama yang masih digunakan itu bisa bertahan. Kalau mau berkualitas, tentu dengan yang baru,” singgungnya.

Informasi yang dihimpun, tidak hanya keramik tapi juga sejumlah kayu untuk atap juga sebagian memakai kayu yang lama. Kondisi kayu lama juga tentu tidak sebagus kualitas kayu yang di beli baru.

Menjawab itu, Kepala SDN 44 Kota Bima, Hj. Sofiah H. Ismail, SPd membantahnya. Ia mengaku DAK semua dikerjakan sesuai RAB, juklak dan juknisnya. “Ini rehab ringan, jadi tidak ada kayu lama yang digunakan, semua kayu baru. Info itu tidak benar,” tepisnya.

Kemudian untuk keramik, ia mengaku memang sebagian yang masih bagus digunakan untuk bangunan yang di rehab. “Karena hanya rehab, yang rusak kita ganti. Yang masih bagus, tidak kami ganti,” terangnya.

Hj. Sofiah mengaku DAK tahun ini hanya mendapat anggaran sekitar Rp 134 juta, untuk merehab empat lokal ruangan. “Kita dapat untuk rehab ringan saja,” tambahnya.

Sementara itu, PPK DAK, Slamet Riadi, ST menanggapi polemik ini menjelaskan bahwa pekerjaan DAK harus mengacu pada RAB yang ada. Untuk rehab, kalau memang di dalam RAB-nya hanya diganti sekian persen saja, maka harus mengikuti RAB.

“Artinya pada saat perencanaan itu akan dicek, kalau saja lantainya masih bagus, untuk rehabnya nanti hanya dicarikan saja lantai yang rusak untuk diganti. Jadi tidak harus kita ganti semuanya. Kalau masih bagus keramiknya, bisa dipakai,” jelasnya.

Demikian juga dengan rangka atap, usuk dan reng. Tetapi rata-rata, kalaupun nanti pergantian usuk dan reng, biasanya hanya rengnya saja yang ganti, usuknya tidak. “Kalau 100 persen harus diganti dalam RAB, jadi harus diikuti,” tandasnya.

Menurut dia, semua sekolah harus merencanakan sesuai RAB. Tentunya banyak hal–hal seperti itu yang ditemukan oleh masyarakat dan media. Contohnya di SDN 37 Kendo, mengganti Reng 40 persen dalam RAB, dan kenyataan di lapangan nya memang diganti sebanyak 40 persen.

Kadang – kadang ada juga yang tanggung dan akhirnya diganti semua. Nanti kembalinya pada perhitungan terakhir, ada pekerjaan tambah kurang. Demikianlah cara menilai pekerjaan, kembalinya ke RAB. “Jika memang kondisinya masih bagus, tentu tak akan mempengaruhi kualitas,” tambahnya. *BIN

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *