Penjambret Dihajar Polisi Saat Interogasi

Kota Bima, Kahaba.- Kekerasan fisik dan pelanggaran HAM yang masih sangat sering terjadi ditubuh kepolisian mutlak dan harus diperhatikan semua pihak. Reformasi yang lama digaung-gaungkan oleh Polri jangan sampai menjadi kosmetik belaka. Proses hukum seyogyanya berjalan sesuai aturan dan tetap mengedepankan Asas Praduga Tak Bersalah. Jangan sampai hanya koruptor kelas kakap saja yang menikmati kenyamanan dalam interogasi. Sedangkan, maling-maling kecil seolah bagai “binatang” dan pengungkapan kasus terhadap kaum kusam menjadi ukuran prestasi kesuksesan lembaga kepolisian di negeri ini.

Ilustrasi

Fenomena kekerasan yang dilakukan anggota kepolisian terhadap tersangka tindak pidana saat pemeriksaan masih sering terjadi. Di Polres Bima kota, proses interogasi terhadap seorang tersangka penjambretan dinodai tindakan kekerasan oleh aparat kepolisian. Asnawir (22), tersangka penjambretan yang ditangkap Tim Buser Polres Bima Kota, Minggu lalu (29/o4/12), tak berdaya setelah dihajar oleh empat orang oknum polisi. Tindakan melanggar aturan tersebut tak ayal berbuah lebam membiru di bagian muka, dahi, dan sekitar mata Asnawir. Tersangka sendiri diringkus menyusul aksinya menjambret gelang seorang wanita di sekitar Museum ASI Bima, sekitar sembilan bulan yang lalu. Dalam pemeriksaan, pria berbadan kecil ini dipukuli setidaknya oleh empat orang oknum polisi karena dianggap tidak kooperatif dalam memberi keterangan saat pengambilan Berita Acara Pemeriksaan.

Dihadapan Kahaba, Selasa, 1 Mei 2012, Asnawir mengaku dipukuli empat orang oknum anggota Polres Bima Kota, lantaran dirinya tidak mengaku telah melakukan aksi penjambretan.  Ia terus dicerca pertanyaan dan bahkan dipaksa mengakui penjambretan lain yang tidak dilakukannya. “Saya dipukuli oleh empat anggota buser karena saya mengaku tidak tahu, seputar penjambretan yang terjadi. Saya juga dipaksa untuk mengakui penjambretan lain. Karena saya bilang tidak tahu, saya pun dipukuli,” imbuh Asnawir.

Lebih lanjut, Asnawir yang juga warga desa Tente ini menyatakan, bahwa pemukulan saat interogasi yang terjadi di ruangan Reskrim Polres Bima Kota, bukan hanya pada wilayah muka tapi juga di bagian kepala hingga dadanya.

Penjambretan memang belakangan sering terjadi di Kota Bima. Asnawair pun adalah salah satu spesialisnya. Ketika ditanya mengenai aksi penjambretan yang dilakukan olehnya, Asnawir mengaku melakukannya sebanyak 2 kali. Pertama kali terjadi di kelurahan sadia tahun 2009 dan terakhir di Museum ASI sembilan bulan yang lalu.

“Dari dua kali saya menjambret barang jenis gelang. Saya tidak dibantu oleh siapapun dan Saya melakukannya sendiri dengan menggunakan sepeda motor. Untuk penjambretan yang lainnya, demi Tuhan Saya tidah tahu,” ungkap Asnawir, yang masih nampak kesakitan.

Polisi yang berupaya melacak jaringan penjambretan justru terkesan tidak sabar dan semena-mena terhadap Asnawir.  Sementara itu, Kapolres Bima Kota, AKBP Kumbul KS, SH, S.Ik, ketika hendak dimintai keterangan perihal pemukulan ini belum bisa ditemui. [BS]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Halilintar

    Kalembo ade…. ada ungkapan yg mengatakan……
    PEJABAT KEBAL HUKUM………
    APARAT MAININ HUKUM………..
    RAKYAT YANG DIHUKUM……….

    jika rakyat memukul…… ini penganiayaan murni…..
    namun jika aparat memukul…. ini murni karna hukum harus di tegakkan….

    pantas sebagian rakyat mengatakan aparat itu keparat…………….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *