Bawang Merah, Si Penumpang Kapal Pelni

Kota Bima, Kahaba.- Bawang merah sebagai komoditi andalan pertanian daerah Bima selalu melimpah setiap tahunnya. Selain beredar di daerah sendiri, berton-ton bawang merah segar dikirim ke luar daerah khususnya menuju Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Tak jarang pada setiap musim panen itu kapal penumpang milik PT. Pelni disulap tak ubahnya seperti kapal barang untuk mengangkut bawang merah, seperti yang terjadi kemarin (2/4) ketika KM. Kelimutu bersandar di dermaga Pelabuhan Bima. Sejumlah penumpang mengeluhkan kapal yang memuat banyak barang sehingga menyita tempat yang seharusnya diperuntukkan bagi penumpang.

Truk dan Pick Up pengangkut bawang mengantri giliran / Foto: Husein

Keberangkatan KM. Kelimutu dari Pelabuhan Bima menuju Makassar kemarin molor sampai beberapa jam dari jadwal yang seharusnya. Kapal yang harusnya angkat sauh pada pukul 4 sore namun hingga menjelang magrib tanda-tanda keberangkatan belum juga terlihat. Tampak raut jengkel dan gusar dari wajah para penumpang menunggu kepastian kapal yang belum juga berangkat. Berdiri di dek luar, mereka menghibur diri dengan memperhatikan aktivitas sekitar 20 unit truk dan pickup yang mengantri derek memindahkan muatan menuju kapal. Buruh-buruh pelabuhan juga bekerja sigap naik turun tangga kapal dengan memikul satu persatu karung bawang.

“Sepertinya akan lama, truk-truk itu baru setengahnya yang sudah bongkar bawang,” ujar Taufikurahman (26), salah satu penumpang yang hendak berangkat menuju Makassar. Menurut Taufik, sejak dirinya menggunakan jasa angkutan kapal laut milik PT. PELNI (persero), selalu saja mendapati fenomena ini di setiap musim panen bawang merah. Jadwal keberangkatan kapal harus tertunda selama berjam-jam untuk menunggu muatan bawang merah selesai dipindahkan dari puluhan truk ke dalam kapal.  “Mungkin akan lebih lama kami menunggu, sudah lewat waktu magrib tapi baru setengah dari truk-truk itu yang sudah bongkar muatan,” rutuknya sambil melirik jam di layar ponselnya.

Menurut penuturan Taufik hal seperti ini sudah sering terjadi. Berdasarkan pengalamannya kapal selalu saja seenaknya menunda waktu keberangkatan, apalagi kalau bertepatan dengan waktu liburan mahasiswa, lebaran, atau musim panen bawang. “Kalau musim bawang seperti sekarang, kapal penumpang ini disulap jadi kapal barang. Parahnya lagi, apabila penumpang juga kebetulan membludak maka mereka terpaksa harus tidur di antara tumpukan karung bawang merah,” lanjutnya.

“Inilah suka dukanya kami yang merantau ke Makassar mas. Sudah kapalnya jarang, kami harus rela berdempet-dempetan bahkan tidur di dek luar,” ujarnya pasrah. Taufik pun membagi kisahnya, ketika musim lebaran beberapa tahun yang lalu dia dan ratusan penumpang lainnya terpaksa mengambil tempat di dek paling atas yang terbuka. “Penumpang begitu sesak waktu itu, hingga untuk jalan ke dek lain pun susah. Ketika tiba-tiba hujan, kami beserta barang bawaan basah karena tak ada tempat berlindung,” kenangnya.

Buritan KM Kelimutu yang menjadi tempat penumpukan barang / Foto: Husein

Selain rugi waktu, kenyamanan penumpang juga sangat terganggu dengan aktivitas pengangkutan hasil pertanian dengan menggunakan kapal penumpang. Walaupun kapal dilengkapi dengan ruang kargo, namun ruang kargo itu tidak bisa sepenuhnya menampung ratusan karung bawang merah itu. Biasanya muatan ditempatkan di anjungan kapal yang jauh dari jangkauan penumpang, tapi tak jarang karung-karung itu ditumpuk di dek luar, bahkan kerap didapati dek bagian dalam yang menjadi area penumpang dikorbankan untuk kepentingan pemilik muatan bawang merah itu.

Pimpinan PT. PELNI (persero) yang kami hubungi berkaitan dengan hal itu tidak membantah adanya ratusan karung bawang yang ikut dimuat dalam keberangkatan kapal kemarin. Ditemui di kantornya pada hari kamis (3/5), R.J Hasibuan SH selaku Kepala PELNI cabang Bima mengakui pihaknya ingin muatan bawang merah itu dibatasi, namun kondisi di lapangan berkata lain.”Hal seperti ini bukan kali ini saja terjadi, tetapi sudah sering. Itu diluar kemampuan kami untuk menertibkannya,” Ungkapnya.

Setiap jadwal keberangkatan kapal ke Makassar, selalu saja ada truk bermuatan bawang yang bersiap di dermaga. Menurut Hasibuan, walaupun pihak Pelni menolak, tetapi para pemilik muatan tetap memaksa kapal untuk mengangkut barang mereka. Lanjutnya, mengangkut bawang dengan mempergunakan kapal penumpang biayanya lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan kapal barang dan itu kerap dimanfaatkan pedagang besar untuk memuat barang di kapal PELNI dengan dalih barang milik perseorangan/pedagang kecil.

Aktifitas buruh mengangkut karung bawang merah tak jarang mengorbankan keselamatan penumpang / Foto: Husein

Lebih lanjut Hasibuan menjelaskan bahwa kewenangan PELNI hanya memastikan penumpang dan barang yang naik ke kapal itu sah untuk diangkut, sedangkan dermaga, pelabuhan, dan kemanan menjadi domain tanggung jawab dari pihak Pelindo, Adpel, dan KP3. “Seharusnya truk-truk itu ditahan sebelum memasuki dermaga, tetapi sepertinya mereka mudah saja masuk dan memarkirnya diatas dermaga,” tukasnya.

Hasibuan mengharapkan pengamanan di sekitar dermaga lebih ditingkatkan, untuk itu dirinya mengaku sudah bersurat kepada seluruh instansi yang terkait seperti Adpel, Pelindo, dan KP3 untuk membantu pihaknya membatasi pemuatan barang berupa bawang merah dalam kapal penumpang.  Tentunya permasalahan ini harus secepatnya diatasi agar tidak merugikan penumpang, juga perekonomian masyarakat Bima yang mengandalkan bawang merah sebagai komoditi andalan pertanian daerah. [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *