2015, 70 RTLH Dapat Jatah Rp 700 Juta

Kota Bima, Kahaba.- Sebanyak 70 kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kota Bima Tahun 2015 ini mendapatkan kucuran bantuan dana dari Kementerian Sosial RI sebanyak Rp 700 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk memperbaiki RTLH agar layak untuk dijadikan tempat tinggal.

Kepala Dinsosnakertrans Kota Bima, Drs. H. Muhidin, MM. Foto: Bin

Kepala Dinsosnakertrans Kota Bima, Drs. H. Muhidin, MM. Foto: Bin

“Alhamdulillah, tahun ini kita mendapat kepercayaan dari pusat. Kota Bima dijatahkan dana Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk 70 rumah, sebanyak Rp 700 juta,” ungkap Kepala Dinsosnakertrans Kota Bima, H.Muhidin, Selasa (20/10).

Diakuinya, ini menjadi tahun ketiga bagi Kota Bima secara beruntun memperoleh bantuan dari Kementerian Sosial. Jumlah RTLH yang mendapatkan bantuan juga mengalami peningkatan tiap tahun. Pada Tahun 2013 sebanyak 50 rumah, Tahun 2014 sebanyak 30 rumah dan Tahun 2015 sebanyak 70 rumah.

“Meningkatnya penerima bantuan setiap tahun tentu karena kepercayaan dari Pemerintah Pusat dan juga Kota Bima memang layak menerima bantuan tersebut,” akunya.

Muhidin menjelaskan, bagi penerima bantuan RTLH dipastikan telah memenuhi semua persyaratan dari Dinsosnakertrans. Sebab ada tahapan verifikasi dan cek fisik lapangan untuk memastikan apakah memang penerima bantuan tersebut layak atau tidak.

“Bagi penerima bantuan, harus dilihat kondisi rumah dan status ekonominya. Jika tidak mampu, maka bantuan akan turun melalui kelompok yang telah ditunjuk. Sedangkan kami hanya mengontrol dan mengawasi saja,” tandasnya.

Untuk Tahun 2016 mendatang, pihaknya telah mengirimkan pengajuan 100 RTLH penerima bantuan. Dengan harapan dari jumlah itu, 90 persennya dapat di akomodir oleh Pemerintah Pusat.

Salah satu penerima bantuan RTLH, Zainudin (41) mengaku, senang dan bahagia mendapatkan bantuan tersebut. Berkat bantuan tersebut, rumah bedek warga RT 03 RW 01 Kelurahan Penatoi ini telah diperbaiki dan layak untuk dihuni bersama keluarganya.

“Dulu saat musim hujan tiba, rumah kami selalu menjadi langganan banjir. Bahkan ironisnya, tiang penyangga rumah harus diikat di pohon bidara, agar tidak terbawa hanyut,” akunya.

*Eric      

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *