Eks Jihadis Ambon Beberkan Kesesatan ISIS

Kota Bima, Kahaba.- Dalam Kegiatan Sarasehan Regional Gerakan Pemuda Ansor Kota dan Kabupaten Bima, Selasa (17/11) pagi turut menghadirkan Eks Panglima Jihad Ambon, Ustad Zumu Suhaeymi sebagai narasumber.

Eks Panglima Jihad Ambon, Ustad Zumu Suhaeymi. Foto: Ady

Eks Panglima Jihad Ambon, Ustad Zumu Suhaeymi. Foto: Ady

Ustad Zumu Suhaeymi kini telah bertaubat dan menjadi Instruktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat Indonesia terkait bahaya pemahaman radikal dan terorisme.

Kesempatan itu dimanfaatkan Ustad yang empat tahun menjadi Panglima Jihadis Ambon ini membeberkan kesesatan paham dan gerakan Islam State of Iraq dan Suriah (ISIS).

Menurut dia, paham dan gerakan radikal sebenarnya sudah ada sejak zaman Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin. Seperti diperlihatkan paham Islam Khawarij. Konsep pemahaman mereka selalu mengedepankan kekerasan untuk mencapai tujuan. Serta sangat mudah mencap orang lain kafir bila tidak sepaham dengan mereka.

“Paham Khawarij inilah yang kini menjelma dalam berbagai bentuk, seperti saat ini dikenal paham ISIS. Mereka menghalalkan kekerasan, pembunuhan dan pembantaian terhadap manusia bahkan sesama muslim yang tidak sepaham,” tuturnya.

Pemahaman sesat ISIS lainnya lanjut dia, yakni konsep Daulah Islamiyah yang dianggapnya telah keluar dari ajaran Islam. Mereka memahami dalil Al-Qur’an dan Hadist tidak secara utuh, kemudian mendoktrinasi generasi muda yang minim pengetahuan Islam. Cara-cara penegakan daulah yang diajarkan kerap melegalkan kekerasan, perampokan dan pembunuhan.

“Jelas ini sangat keliru. Kemudian pemahaman mereka dalam menafsirkan jihad dimaknai dengan perang mengangkat senjata, jelas ini juga menebarkan kebencian dunia terhadap Islam,” kata dia.

Pemahaman radikal itu kata Ustad Zumu, telah menyebar di berbagai daerah di Indonesia. Seperti daerah Ambon, telah menjadi salah satu tempat berkembangnya paham ISIS. Sejumlah pemuda telah direkrut dan dipersiapkan menjadi Jihadis di Ambon. Diantaranya, berasal dari daerah Bima Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Karenanya, secara khusus Dia mengingatkan kepada masyarakat Bima agar membentengi diri dan keluarga dari pemahaman berbahaya tersebut. Tak ada cara lain yang dilakukan, kecuali dengan dakwah bil hikmah dan mempelajari Islam secara kaffah.

“Jangan mudah terpengaruh dengan paham radikal yang berusaha memecah belah umat Islam dan merusak keutuhan negara. Karena bagi saya, NKRI adalah harga mati,” tegasnya.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *