Makembo Gelar Diskusi Kesenian dan Budaya

Kota Bima, Kahaba.- Majelis Kebudayaan Mbojo (Makembo) menggelar diskusi kesenian dan budaya, bersama tokoh dan pakar budayawan, Alamtara Institute, Sanggar Kesenian, Bukudaku, komunitas birokrat jalan-jalan, serta sanggar kesenian Kota dan Kabupaten Bima, di Falcao Café, Jum’at (25/3).

Foto bersama usai diskusi Kesenian dan Budaya yang digelar Makembo. Foto: Eric

Foto bersama usai diskusi Kesenian dan Budaya yang digelar Makembo. Foto: Eric

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, Pembina Kosambo Bima H. Sutarman, Dewan Kesenian Kota Bima Husain La odet, Iyek Faris Al Habsy, Direktur Alamtara Abdul Wahid, serta perwakilan dari berbagai organisasi lainnya.

Ketua Makembo Bima, Ruslan dalam sambutannya mengatakan, diskusi kesenian dan budaya Mbojo di persimpangan bertujuan menjaring ide dan gagasan untuk melahirkan keputusan dan langkah bersama, dalam melestarikan kesenian dan budaya Mbojo yang telah ada agar, tidak punah oleh perkembangan zaman.

Kata dia, kesenian dan budaya Mbojo secara keseluruhan merupakan hasil daya cipta, rasa, karsa dan ekspresi keindahan, yang lahir bersama sejarah peradaban dana Mbojo sejak berabad silam. Karena saat ini proses dan perkembangan kesenian yang terus dinamis, menyebabkan hilangnya kesenian tradisi akibat akulturasi dan penetrasi budaya yang berlangsung sejak lama.

“Melalui dialog dan diskusi ini, kita dapat melakukan langkah dan upaya identifikasi, pemetaan dan pelestarian kesenian dan budaya mbojo. Agar tidak punah, dan mampu berjalan seiring dengan kesenian garapan modern,” tutur pria yang biasa disapa Alan Malingi itu.

Sementara itu, Ketua Komunitas Salaja Mbojo (Kosambo) H. Sutarman mengaku bangga dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Makembo, karena melalui diskusi ini menjadi bentuk dan upaya pelestarian kesenian dan Budaya Mbojo.

“Pelestarian seni dan budaya bukanlah hanya pekerjaan sebuah komunitas ataupun sanggar, namun membutuhkan peran serta semua pihak, termasuk dukungan pemerintah daerah, dan juga masyarakat itu sendiri,” beber pria murah senyum ini.

Terlebih khususnya Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang harus turut berperan serta dan ambil bagian, dalam setiap kegiatan kesenian dan budaya yang dilakukan sebuah sanggar maupun komunitas. Bukan hanya sekedar mengikuti seminar dan kegiatan, namun tidak ada langkah nyata dalam melindungi setiap kesenian dan budaya yang ada di daerah.

“Berbicara bentuk perlindungan kesenian dan budaya daerah, tentunya tidak terlepas dari dukungan anggaran dan dana. Untuk itu pemerintah daerah harus masuk dan terjun langsung kedalam komunitas dan sanggar kesenian, untuk memberikan rangsangan dan motivasi dalam melestarikan dan melindungi budaya,” tandasnya.

H. Sutarman menyerahkan bantuan buku. Foto: Eric

H. Sutarman menyerahkan bantuan buku. Foto: Eric

H.Sutarman menambahkan, berdasarkan data disbudpar bahwa  di Bima saat ini telah ada 49 sanggar seni yang masih aktif. Dan telah menjadi corong terdepan, dalam menyampaikan informasi dan juga turut mensosialisasikan pelestarian budaya kepada masyarakat hingga ke pelosok.

“Sudah saatnya kita melakukan langkah nyata, dalam melindungi berbagai macam kesenian dan budaya mbojo yang sudah mulai hilang tertelan jaman modern. Dengan melalui koordinasi dan kerjama yang baik antara komunitas dan sanggar kesenian bersama pemerintah daerah, untuk berkomitmen menjaga kelestarian seni dan budaya,” tegasnya.

Sebagi bentuk perhatian sekaligus cinta akan kesenian dan budaya mbojo, Kosambo akan membantu pendanaan setiap kegiatan yang dilakukan Makembo dalam rangka melindungi dan melestarikan budaya dana Mbojo.

“Insaallah saya akan membantu setiap komunitas kebudayaan dan sanggar kesenian, demi penyelamatan dan pelestarian budaya yang saat ini mulai hilang ditelan modernisasi,” tegasnya.

Diakhir kegiatan diskusi, H. Sutarman menyerahkan bantuan secara simbolis berupa buku bacaan kepada Alan Gutirez selaku pendiri MI Darul Ulum Kecamatan Ambalawi.

*Eric

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *