Konflik Pemuda Rabangodu Utara dan Penaraga Kian Memanas

Kota Bima, Kahaba.- Sekitar tiga hari yang lalu (21/4), terjadi pertikaian dua kelompok pemuda asal Kelurahan Penaraga dan Rabangodu Utara. Konflik yang diawali atas dugaan penganiayaan terhadap pemuda yang akrab di panggil Bondan (19) pemuda Asal Rabangodu Utara.

Ilustrasi

Ilustrasi

Kejadian ini diduga dilakukan oleh pemuda asal Kelurahan Penaraga saat menutup portal jalan pintu masuk ke wilayah Rabangodu Utara. Dari pengakuan Bondan, kasus ini pun sudah dilaporkan langsung ke Polres Bima Kota.

“Saat kami menutup jalan dengan portal, tiba-tiba kami didatangi oleh beberapa orang pemuda asal Kelurahan Penaraga. Saya dipukul oleh seorang dari mereka. Setelah kejadian tersebut, Saya langsung melakukan visum dan melapor ke kantor polisi,” ujar Bondan pada Kahaba, Sabtu (23/4) kemarin.

Konflik pun tak kunjung reda, informasi yang diendus Kahaba, oknum pelaku penganiayaan yang diduga sebagai provokator konflik ini telah melarikan diri.

“Pelaku telah melarikan diri. Dan Kami selalu melakukan penjagaan agar konflik tak berkembang lebih jauh,” ujar seorang Polisi yang enggan di tuangkan namanya.

Dari pantauan Kahaba, Minggu dini hari (24/4) konflik ini semakin memanas. Sekelompok pemuda asal Kelurahan Penaraga tampak melempar bom molotov dari jalan Soekarno-Hatta (Sebelah Barat Masjid Baitul Hamid) ke arah rumah dan kerumunan pemuda Rabangodu Utara.

Hujan batu melayang dari kedua kelompok. Terdengar belasan kali letusan senjata polisi yang memberi peringatan dan mencoba melerai pertikaian tersebut dan tak ada jatuh korban dari pertikaian tersebut.

Letusan senjata petugas dan dentuman bom molotov membuat beberapa orang warga dari dua kelurahan yang berlokasi di Kemacatan Raba ini keluar ke perkarangan rumahnya masing-masing. Mereka tampak khawatir konflik ini akan meluas dan mereka sangat berharap keadaan normal kembali.

Hingga pukul 03.30 Wita, terlihat belasan aparat keamanan masih berjaga di Jalan Soekarno-Hatta. Dan kelompok pemuda Rabangodu Utara masih berkumpul di tengah-tengah perkampungan mereka.

“Kami menjaga agar tak ada serangan dari pemuda penaraga. Biasanya, mereka akan memulai pertikaian ini jika aparat sudah tidak berada di lokasi lagi,” ujar Yamin pada Kahaba.

*Agus

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *