Pulau Kambing, Potensi Wisata tak Terurus

Kota Bima, Kahaba.- Pulau Kambing, memiliki banyak potensi tersembunyi sebagai salah satu obyek wisata. Tak saja mempesona, di dalam pulau yang berlokasi di tengah Teluk Bima ini menyimpan kekayaan sejarah dan budaya tak ternilai harganya.

Sampah di Pulau kambing. Foto: Ady

Sampah di Pulau kambing. Foto: Ady

Sayangnya, keberadaan pulau eksotik yang strategis ini dibiarkan tak terurus. Keindahan pantai dan padang rumput di atas Doro Nisa (Gunung Pulau Kambing) bahkan pudar karena tertutupi lebatnya semak belukar.

Pemandangan itu terlihat saat media ini bertandang akhir pekan kemarin. Tak hanya itu, pada bagian utara pulau terdapat pantai dengan pasir putih. Kondisinya cukup memprihatinkan karena sudah penuh dengan tumpukan berbagai jenis sampah.

Di bagian timur pulau ini, dulunya bahkan tersimpan tiga unit tangki minyak berukuran raksasa. Berdasarkan penuturan sejarah, tangki ini merupakan peninggalan Penjajah Belanda yang kemudian di ambil Penjajah Jepang. Usai penjajah hengkang dari Bumi Pertiwi, tangki tersebut menjadi cagar budaya pemerintah daerah.

Fasilitas wisata yang sudah ambruk. Foto: Ady

Fasilitas wisata yang sudah ambruk. Foto: Ady

Namun ironis, tangki yang mempunyai nilai historis tinggi itu kini raib entah kemana. Tidak jelas pula, siapa dan untuk kepentingan apa bongkahan baja raksasa itu dicuri. Ketika media ini mengecek lokasi penyimpanan tangki tersebut, hanya tersisa bekas tanah lengkungan tempat disimpan tangki.

Beberapa potongan baja dan baut sisa tangki ikut ditemukan di sekitar lokasi. Menandai raibnya aset bersejarah tersebut. Pemerintah daerah pun seolah bungkam dan menutup mata atas hilangnya tiga tangki minya kuno ini.

Aset cagar budaya yang tak bernilai berikutnya di dalam Pulau Kambing adalah belasan kuburan kuno. Kuburan ini diyakini sebagai liang lahat dimakamkannya Datuk Ditiro, ulama penyebar Agama Islam pertama pada masa Kesultanan Bima.

Kuburan di Pulau Kambing. Foto: Ady

Kuburan di Pulau Kambing. Foto: Ady

Di samping kuburan Datuk Ditiro, terdapat beberapa kuburan kuno lainnya yang juga diyakini sebagai murid dan keluarga Datuk Ditiro. Hanya saja, kondisi kuburan ini sama sekali tak terurus. Penuh dengan semak belukar dan sampah dedaunan kering.

Demikian pula, beberapa bangunan tempat istrahat dan fasilitas wisata untuk pengunjung yang disediakan pemerintah daerah dulunya sudah hancur dan menjadi bangunan tua. Ibarat kata, pulau nan indah dan eksotik di tengah Teluk Bima ini seolah menjadi pulau angker dan menyeramkan.

Siapa yang bertanggung jawab ? Informasi yang diperoleh pengelolaan Pulau Kambing beberapa tahun lalu sempat di bagi dua. Sebagian dikelola Pemerintah Kota Bima dan sebagian lagi dikelola Pemerintah Kabupaten Bima. Namun seiring waktu, pembagian pengelolaan itu menimbulkan polemik sehingga saat ini sepenuhnya kembali menjadi aset Pemerintah Kabupaten Bima.

*Ady

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *