Kisruh Sepakbola Nasional, PSSI = KPSI

Oleh: Hartomo

Opini, Kahaba.- Tanggal 14 desember 2012 seharusnya menjadi penentuan nasib PSSI. PSSI sebagai organisasi persepakbolaan nasional masih mandul baik pengukiran prestasi maupun pengelolaan organisasi. Hal ini tentunya membawa kekhawatiran bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta penduduk akan kehilangan hiburan yang merakyat dari hilangnya sepakbola profesional di Indonesia. Masyarakat yang haus akan hiburan dan prestasi akan lebih terpukul lagi jika sanksi FIFA benar-benar akan dijatuhkan. Siapa yang bertanggung jawab?

Ilustrasi. Foto: kabarindonesia.com

Ilustrasi. Foto: kabarindonesia.com

Kekisruhan dualisme kepengurusan PSSI berawal dari ketidak konsistennya pihak PSSI yang melaksanakan liga profesional di Indonesia. Hal ini tentunya menjadikan ketidaknyamanan bagi pihak lain, pihak lain itu adalah KPSI, organisasi ini mengklaim sebagai komisi penyelamat persepakbolaan Indonesia. Secara tertulis KPSI ingin menjadi pahlawan bagi masyarakat bola Indonesia, namun tidak semua orang juga mendukung niat baiknya. Sampai-sampai mereka membentuk kompetisi sendiri-sendiri sebagai bukti mereka dapat mengelola persebakbolaan nasional secara profesional. Dimana peran pemerintah yang membiarkan konflik berkepanjangan antar anak bangsa?

Pemerintah yang punya negeri ini ada kesan tidak mampu melerai anak bangsa yang bertikai, yang saling menghancurkan satu sama lainnya. Ada indikasi pembiaran dari pemerintah yang menjadikan polemik di PSSI sebagai bagian dari fenomena bangsa ini. Memang kita juga tidak menutup mata bahwa bangsa ini penuh masalah, mulai dari tingkat pusat sampai daerah. Namun sejatinya jika pemerintah kita tegas dan mau untuk menyelesaikan konflik kita tidak akan masuk ke dalam pusaran permasalahan ini. Pemerintah harus sedikit memaksa dari kedua kubu yang berselisih untuk duduk bersama dalam menyelesaikan permasalahan ini. Jangan malah dibiarkan yang nantinya akan mencoreng prestasi pemerintah dan akan tercermin pada pemilu 2014 nanti. Pemerintah seperti penonton yang hanya bisa bertepuk tangan tanpa bisa memanajemen situasi pertandingan.

Kompetisi sepakbola nasional sudah dapat dikatakan profesional. Keprofesionalan ini terlihat dari banyak pihak yang menggantungkan hidupnya di sepakbola. Mulai dari pemain, official, pelatih, tukang urut, sampai tukang cuci menggantungkan penghasilannya dari sepakbola. Bahkan kalau kita lihat banyak pemain luar negeri yang menghiasi layar televisi kita. Mulai dari pemain asia sampai pemain eropa bahkan pemain amerika latin menggantungkan karier sepakbolanya di Indonesia. Mereka tertarik untuk datang ke Indonesia karena melihat antusiasme penonton yang begitu luar biasa. Mereka lebih bersemangat bermain jika ada pemain ke 12 yaitu penonton fanatik yang siap membela dimanapun tim kesayangannya bertanding. Sepakbola bukanlah pemuas hobi belaka, namun sepakbola dijadikan pekerjaan tetap.

Kompetisi yang dulu sudah berjalan memang memperlihatkan pelapisan kompetisi yang rapi dan sama dengan pengaturan kompetisi di Negara yang persepakbolaannya juga maju. Setiap klub yang dibentuk tidak dapat langsung menempati kasta kompetisi tertinggi yaitu kompetisi liga super Indonesia, namun mereka harus berjuang dari kasta terbawah yaitu kompetisi divisi 3, divisi 2, dan selanjutnya divisi 1. Jika melihat kenyataan ini memang seharusnya klub yang bisa bermain di kasta liga super adalah klub yang benar-benar super. Hal ini juga akan membawa kebanggan tersendiri pula bagi penonton yang memiliki klub yang berlaga di liga tersebut.

Dari berbagai sudut pandang, dualisme kepemimpinan tidak akan menjadi solusi yang ampuh. Dualisme kepengurusan menjadikan organisasi PSSI menjadi hancur dan rapuh. Oleh karena itu, seyogyanya antara PSSI dan KPSI duduk bersama, pertebal rasa nasionalisme, singkirkan kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing. Pengurus PSSI dan KPSI adalah sama-sama anak bangsa yang punya kepentingan ingin memajukan persepakbolaan nasional bahkan internasional. Semoga langkah FIFA memberikan waktu sampai Maret 2013 dapat dimanfaatkan dengan baik oleh semua elemen bangsa ini, termasuk pemerintah pusat. Maju PSSI maju persepakbolaan nasional.

*Penulis adalah guru sosiologi SMAN 1 Woha
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *