Protes Atlet Bayaran, Tim Tenis Meja Boikot Pertandingan

Mataram.- Kahaba,- Mengetahui dua orang pemain Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang sengaja di datangkan dari pulau Jawa, official dan pemain Cabor Tenis Meja memboikot pertandingan.

Karena diketahui Tim KSB bayar pemain, Official dan pemain asal Kota dan Kabupaten Bima Protes Panitia Tenis Meja. Foto: DEDY

Karena diketahui Tim KSB bayar pemain, Official dan pemain asal Kota dan Kabupaten Bima Protes Panitia Tenis Meja. Foto: DEDY

Pantauan Kahaba, Pertandingan yang rencananya mulai pukul 08.00 WITA diaula Kantor Gubernur NTB akhirnya dihentikan secara paksa oleh Official dan pemain, setelah diketahui dua pemain bayaran tersebut dari pulau Jawa.

Kedua pemain bayaran asal Kota Kediri yang direkrut tim KSB terbongkar setelah diketahui kedua atlet dimaksud terdaftar sebagai atlet Porprov dan PON Provinsi Jawa Timur. Salah satunya atas nama Jefri.

Official Kota Bima melontarkan protes, bahkan saat rapat tekhnik seluruh Official tim sepakat keluar dari lokasi pertandingan. Penitia bersama pengurus KONI NTB akhinya sepakat mencoret nama kedua atlet itu. Namun anehnya, saat digelarnya pertandingan, dua orang atlet tersebut kembali dimasukan dalam skema pertandingan.

Tidak terima putusan panitia yang tidak sportif, Official dan pemain memutuskan menolak ikut pertandingan. Bahkan saat itu Official nyaris bentrok dengan panitia.

Jadwal pertandingan akhirnya molor hingga pukul 12.00 WITA. Bahkan saat panitia memaksa kembali menggelar pertandingan pertama antara KSB VS Lombok Timur (Lotim), Official dan pemain tim Lotim menolak mengikuti pertandingan. Panitia ngotot dan akhirnya tim Lotim pertama dinyatakan Walkout (WO)

Beberapa kali panitia pertandingan menggelar pertemuan dengan Official, pengurus KONI dari seluruh kontingen Porprov, namun keputusan masih tetap sama. Tetap mengikutkan dua atlet bayaran tersebut

Official Tim Kota Bima, Hj. Misbah tegas menolak diikutsertakan dua atlet asal KSB itu. Ia menyakini dan tahu pasti kedua atlet tersebut merupakan atlet bayaran asal kota Surabaya. ”Saya tahu dan kenal dua atlet itu, mereka terdaftar sebagai pemain asal Kota Surabaya,” ungkapnya.

Ia juga mengisyaratkan pesan Gubernur NTB saat pembukaan Porprov, agar menjunjung sportifitas dan dilarang keras memakai atlet luar NTB. Tujuannya, agar ajang Porprov dapat mencetak pemain muda NTB berprestasi. ”Kalau dipaksa kita akan boikot selamanya ajang Porprov untuk pertandingan tenis meja,” tegasnya.

Sudirman menilai panitia tidak sportif dan tidak konsisten dalam ajang Porprov saat ini. Padahal sebelum digelar pertandingan dan saat rapat tekhnis, seluruh Official tim sepakat mencoret nama kedua atlet tersebut.

Demikian pula yang disampaikan salah satu pemain asal Kabupaten Bima, Arif. Menurutnya, panitia sangat konyol, memaksa dua atlet tersebut tetap diikutkan bertanding. Padahal jelas kedua atlet itu pemain bayaran luar NTB. “Kami tidak takut bertanding, tetapi sportifitas yang paling diutamakan. Aturan Porprov jelas, seluruh pemain merupakan atlet asli NTB mewakil masing-masing Kabupaten dan Kota,” jelasnya.

Kata dia, jika masing-masing tim membayar pemain luar NTB, lantas apa menjadi tujuan diadakannya Porprov. Menjaring atlet muda berprestasi daerah akan sia-sia. Atlet muda daerah hanya akan terus menjadi penonton tanpa dapat mengembangkan diri. ”Kamipun sepakat tetap memboikot,” tegasnya.

*DEDY

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *