Krisis Air, Siswa di SDN Sanolo Jarang Mandi ke Sekolah

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kemarau panjang menyebabkan krisis air melanda sejumlah wilayah di Bima. Demikian juga dialami siswa SDN Sanolo dan warga setempat. Karena benar-benar kesulitan dapat air, ke sekolah siswa setempat bahkan setiap harinya tak pernah mandi.

Kepala SDN Sanolo bersama siswa saat foto bersama di depan sumur sekolah yang sudah kering. Foto: Bin

Saat sejumlah media menyambangi sekolah itu, Senin (22/10) bersama perkumpulan SOLUD dan YAPPIKA-ActionAid untuk melaksanakan Kajian Kebijakan Pendidikan dan Pemberdayaan Komunitas Sekolah untuk Penyelesaian Persoalan di Sekolah, menemukan sejumlah masalah yang urgen. Diantaranya yang paling vital adalah krisis air bersih.

Kepala SDN Sanolo Muhdar saat ditemui media ini mengungkapkan, persoalan krisis air di sekolahnya dan desa setempat, klasik. Pasalnya, sejak dulu air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari teramat sulit. Apalagi jika kemarau tiba, sumur kering kerontang.

“Kalau sehari – hari warga di Desa Sanolo membeli air untuk minum. Sementara untuk kebutuhan mandi dan dapur, mengandalkan air sumur. Tapi kalau sudah kemarau panjang begini, semuanya harus di beli,” ungkapnya.

Di SDN Sanolo kata dia, punya 3 sumur, tapi 2 sumur sudah ditutup dan tidak berfungsi. Sementara sumur yang tersisa, saat ini kondisi airnya sudah semakin menipis. Jangankan untuk kebutuhan mandi warga di sekitar sekolah, untuk sekedar dipakai masuk kamar kecil saja susah.

“Siswa kami ini pak, kalau ke sekolah banyak yang tidak mandi karena air di rumah masing – masing rumah mereka juga tidak ada,” katanya.

Persoalan ini diakuinya sudah beberapa kali disampaikan ke pemerintah daerah. Tapi hingga saat ini perhatian tidak kunjung tiba. Sementara kebutuhan air di sekolah itu juga menjadi sangat vital, sama halnya dibutuhkan warga di desa setempat.

“Harapan kita kalau bisa bor dalam. Karena selain untuk sekolah, juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar,” ujarnya.

Runi, siswi SDN Sanolo bersama teman sekelas. Foto: Bin

Salah seorang siswa SDN Sanolo, Runi yang duduk di kelas 4 saat ditanya media ini mengakui sehari – hari di rumahnya memang kesulitan air bersih. Bahkan, setiap pagi pun dirinya tidak mandi jika berangkat sekolah.

“Sekarang juga tidak mandi,” ucapnya.

Bocah asal Dusun Sonco Desa Sanolo itu juga memiliki harapan yang sama seperti kepala sekolahnya. Ia ingin ada air bersih di rumahnya, juga di sumur tua belakang sekolah. Agar bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

“Iya om, kita mau ada air,” katanya singkat sembari menggigit jari.

Di tempat yang sama, Police Advocate Compaign Official Solud Bima Anas Hazed menjelaskan, kedatangannya di sekolah tersebut untuk melaksanakan program kerja sama dengan YAPPIKA-ActionAid dengan Uni Eropa, yang bertujuan mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pendidikan dasar yang bermutu dan bisa diakses oleh semua anak, melalui penguatan partisipasi masyarakat.

“Kami percaya bahwa tujuan tersebut hanya bisa dicapai jika ada perbaikan kebijakan pendidikan nasional maupun daerah yang ditopang oleh partisipasi masyarakat yang berkelanjutan,” jelasnya.

Dari hasil kunjungan tersebut, pihaknya berharap bisa mengetahui adanya sejumlah persoalan yang dihadapi dari masing – masing sekolah untuk ditindaklanjuti agar bisa mendorong terwujudnya pendidikan yang berkualitas untuk semua anak – anak.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *