Sering Dikirim Sabu-Sabu, Dewan Minta JNE Siapkan Alat Deteksi Narkoba

Kota Bima, Kahaba.- Jasa pengiriman JNE menjadi layanan yang sering dipakai untuk mengirim Narkoba seperti sabu-sabu. Hingga kini, sudah sekitar 6 kali polisi menangkap pemilik narkoba yang mengambil paket di JNE.

Anggota DPRD Kota Bima Dedy Mawardi. Foto: Bin

Agar jasa pengiriman tersebut tidak sering dipakai untuk mendsitribusikan narkoba di Kota Bima, anggota DPRD Kota Bima Dedy Mawardi meminta JNE segera menyiapkan alat pendeteksi narkoba.

Menurut Dedy, penangkapan pemilik dan penerima kiriman paket narkoba, seperti ganja, Sabu-sabu hingga obat keras Tramadol sering terjadi di JNE. Mestinya, JNE harus memiliki alat deteksi narkoba, baik JNE pusat maupun yang ada di daerah.

Jika alat seperti itu tidak dimiliki, maka para sindikat narkoba leluasa mengirim barang haram tersebut lewat JNE. Pemerintah juga diminta tegas memberikan warning pada para pemilik jasa pengiriman yang ada.

“Kalau ada lagi ada pengiriman narkoba, cabut saja izin usaha JNE itu,” tegasnya, baru-baru ini.

Duta Partai Hanura mengaku, pemerintah juga sejak awal sepakat agar narkoba bisa diberantas. Karena ada keinginan tersebut. Pemerintah juga harus tegas mengontrol, baik dari sisi aspek jasa pengiriman, maupun melaksanakan tes urin di semua pegawai.

“Seperti ini jangan dibiarkan, karena narkoba akan merusak generasi bangsa,” ujarnya

Sementara itu Wakil Pimpinan JNE Kota Bima Ita Yuliasari mengaku tidak memiliki alat deteksi tersebut. Pihaknya juga tidak diperbolehkan membuka isi paket kiriman. Tugas mereka hanya menanyakan isi paket yang mau dikirim.

Jika isinya berupa barang elektronik dan barang pecah belah, maka paket tersebut akan dibuka, karena harus di packing menggunakan kayu, agar tidak pecah dan rusak selama berada di perjalanan.

“Untuk mencari tahu adanya kiriman narkoba atau barang larangan lain, itu tugas Polisi. Kami hanya mengirim paket yang mau menggunakan jasa kami,” jelasnya, Sabtu (17/11)

Mengenai penangkapan penerima paket berisi Sabu-sabu, dirinya tidak tahu sama sekali. Karena saat itu, dirinya sudah pulang kantor.

Saat ditanya pada pegawai yang bertugas penerima kiriman dan pengirim paketan, juga tidak tahu menahu adanya penagkapan narkoba tersebut. Mengenai asal barang dan bukti resi penerimaan paket pun, mereka juga tidak tahu dan resinya tidak masuk dalam sistem.

*Kahaba-05

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *