MUI: Video Porno Pelajar, Bukti Krisis Moral dan Akhlak

Kabupaten Bima, Kahaba.- Munculnya kasus video porno pelajar di Kabupaten Bima (Baca. Video Porno Pasangan Pelajar SMA Bima Beredar), tentu mengundang keprihatinan semua kalangan. Bagaimana tidak, prilaku tersebut seolah menunjukan sudah tidak adanya moral dan akhlak bagi generasi.

Ilustrasi

Ilustrasi

Demikian dituturkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sekretaris MUI Kabupaten Bima, H. Bahnan M. Ali. Ia mengaku prihatin atas kasus video mesum yang diduga diperankan pelajar itu.

“Faktor penyebab munculnya kasus itu dinilai karena adanya krisis moral dan akhlak disegala aspek kehidupan, terutama dibidang pendidikan,” sorotnya.

Menurut dia, masyarakat Bima saat ini telah kehilangan banyak nilai budaya dan falsafah, padahal itu sudah menjadi sendi kehidupan secara turun temurun. Seperti, falsafah Maja Labo Dahu (memiliki rasa malu dan takut), kini seolah sudah terkikis jaman.

“Kini prilaku tersebut seakan tidak tabu lagi, masyarakat tak merasa malu dan takut lagi sekarang untuk berbuat dosa,” ujarnya.

Dia menilai, orang tua dan pendidik juga dianggap belum mempunyai perhatian serius terhadap masalah tersebut. “Sekarang, orang tua lebih mengeluhkan ayam yang hilang dan tidak pulang ke rumah, ketimbang anak perempuannya,” sorot Bahnan.

Kata dia, pembangunan infrastruktur dan teknologi juga harus berbanding lurus dengan moral manusia. Jangan sampai, koral manusia dikendalikan oleh tekhnologi. Faktor lain yang menjadi penyebab yakni kurangnya nilai-nilai keteladanan dari pemimpin, guru dan orang tua. Padahal, keteladanan yang tercermin akan mampu membangun tatanan masyarakat yang lebih baik.

Sebaliknya, bila tidak ada keteladanan mereka maka tak ada lagi yang menjadi panutan dan contoh generasi muda. “Ini lah yang mendorong kami turun ke 18 kecamatan tidak lagi dengan konsep dakwah ceramah, tetapi lebih memperbanyak dzikir, do’a dan dialog keagamaan. Tujuannya untuk menyerap aspirasi dari masyarakat,” tuturnya.

Dari hasil kunjungan itu lanjutnya, juga mendapatkan masukan agar pendidikan agama menyangkut moral dan akhlak menjadi mata pelajaran khusus untuk diajarkan kepada siswa. Atas usulan itu, pihaknya mendorong kepada Pemerintah Daerah melalui dinas terkait agar menambah jam belajar pendidikan agama pada sekolah umum, dari dua jam menjadi empat jam.

*ERDE

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *