Perihal Solidaritas Yang Tak Kunjung Usai

“Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu [Pramoedya Ananta Tar – Anak Semua Bangsa]”

Didid Haryadi

Didid Haryadi

Dunia pendidikan bergerak berdasarkan kebutuhan zaman. Banyak muncul inovasi dan perubahan yang dilakukan dalam mengejar sebuah apresiasi yang berlabel birokrasi ataupun sekedar esensi dari sebuah edukasi itu sendiri. Setiap pergantian tahun dan terlebih lagi pergantian “penguasa” dalam siklus politik yang berputar lima tahun sekali, banyak terjadi negosiasi politik yang terjadi antara aktor-aktor elit dan pada akhirnya bemuara pada kebutuhan publik. Secara ideal, esensi yang harus dicapai adalah kesejahteraan sosial bagi masyarakat, yang terdiri dari kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Tentu saja hal tersebut merupakan amanat konstitusi yang telah tertulis rapi sejak Agustus 1945 silam. Anggota masyarakat yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan sudah sewajarnya menjadi garda terdepan dalam melakukan transformasi ilmu pengetahuan kepada publik ataupun rakyat (dalam istilah demokrasi).

Melihat Solidaritas Mekanik dan Solidaritas Organik

Terminologi solidaritas sudah sangat akrab dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam kehidupan sosial yang berparsial tradisional, selalu dekat dan erat hubungannya dengan solidaritasnya yang kuat serta dilatarbelakangi oleh kebutuhan kolektif yang sama. Sedangkan kehidupan sosial modern dengan berbagai kesibukan dan rutinitas yang begitu cepat bisa dikatakan cukup lemah solidaritasnya sehingga menimbulkan sikap individualitas yang tinggi. Emile Durkheim sebagai salah satu tokoh sosial yang memfokuskan pemikirannya tentang solidaritas sosial menyatakan bahwa istilah tentang solidaritas sosial memiliki hubungan yang erat dengan integrasi sosial dan kekompakan sosial. Solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

Korelasi yang cukup relevan dengan kondisi diatas adalah bahwa harus adanya kebutuhan dan kesadaran bersama tentang permasalahan yang muncul dalam kehidupan sosial masyarakat agar mampu memperoleh kesejahteraan dan keadilan yang diinginkan. Topik dan tema kebangsaan selalu muncul disetiap lini waktu dengan upaya untuk membangun opini publik melalui media konvensional maupuan audiovisual. Bahkan lontaran informasi yang coba dibangun oleh media terkadang memunculkan rasa skeptis dan apatis bagi para konsumennya. Betapa tidak, politik media menjadi sangat kental untuk berpihak pada salah satu kelompok dan bahkan hampir mengaburkan perannya sebagai pilar demokrasi yang keempat dalam mengawal demokratisasi. Yang terjadi adalah kanal-kanal informasi menjadi kurang jelas. Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang perlahan terbenam dan setiap hari muncul kasus baru dengan variatif aktor layaknya program gosip ataupun sinetron dilayar kaca disetiap rotasi 24 jam sehari.

Membangun solidaritas berarti mencoba memanifestasikan kesadaran dan kebutuhan bersama melalui jalan yang disepakati. Dalam karyanya yang berjudul Division of Labor in Society (New York: Free Press, 1964), Durkheim mencoba menganalisa pengaruh (atau fungsi) kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial. Singkatnya, pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur sosial dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik.

Memahami solidaritas bukanlah hal yang baru dalam wacana keilmuan sosial. Hal ini sudah sangat lama muncul dan bahkan menjadi perhatian utama dalam membangun sebuah pergerakan sosial dengan konteks perjuangan kelas pada beberapa wilayah ( Negara) yang memiliki tradisi dan peradaban dan perlawanan terhadap imperalisme. Hal utama yang melatarbelakangi munculnya solidaritas sosial adalah adanya kepercayaan bersama, cita-cita, dan komitmen moral. Orang yang sama-sama memiliki kepercayaan dan cita-cita ini merasa bahwa mereka mestinya bersama-sama karena mereka berpikiran serupa.

Munculnya istilah solidaritas mekanik dan organik adalah bertujuan untuk menganalisa masyarakat keseluruhannya, bukan organisasi-organisasi dalam masyarakat. Soidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif” bersama (collective consciousness/conscience), yang menunjuk pada “totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentiment-sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama itu”. Solidaritas ini sangat tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Oleh karena itu, individualitas tidak berkembang; individualitas itu terus-menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk komformitas. Indikator yang paling jelas untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum yang bersifat menekan itu (repressive). Disamping itu, ciri khas yang penting dari solidaritas mekanik adalah bahwa solidaritas itu didasarkan pada suatu tingkat homogenitas serupa itu hanya mungkin kalau pembagian kerja bersifat sangat minim.

Berlawanan dengan itu, solidaritas organik muncul karena pembagian kerja yang bertambah besar. Solidaritas ini didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan dikalangan individu. Munculnya perbedaan-perbedaan ditingkat individu ini merombak kesadaran kolektif itu, Yang pada gilirannya menjadi kurang penting lagi sebagai dasar untuk keteraturan sosial dibandingkan dengan saling ketergantungan fungsional, yang bertambah antara individu-individu yang memiliki spesialisasi dan secara relatif lebih otonom sifatnya.

Salah satu kutipan yang cukup menarik dari pemikiran Durkheim tentang solidaritas organik adalah bahwa “ itulah pembagian kerja yang terus saja mengambil peran yang tadinya diisi oleh kesadaran kolektif”. Ia mempertahankan bahwa kuatnya solidaritas organik itu ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat memulihkan (restitutive) daripada yang bersifat represif. Dalam pandangan ini tentu saja memiliki tujuan yang berbeda. Hukum represif mengungkapkan kemarahan kolektif yang dirasakan kuat, sedangkan hukum restitutif berfungsi mempertahankan atau melindungi pola saling ketergantungan yang kompleks antara pelbagai individu yang berspesialisasi atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Mencari Solusi Dalam Labirin

Sikap kebangsaan harus tetap dibangun meskipun para pelajar berada di wilayah kontinental yang jauh dari tanah air. Berusaha membangun wacana dan menuangkannya dalam beberapa karya merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh. Alternatif lainnya adalah dengan memanifestasikan ilmu pengetahuan melalui transformasi keilmuan akademik dan membangun solidaritas organik diantara sesama anggota. Historikal tentang Sumpah Pemuda pada 1928 harus menjadi pijakan utama yakni dengan tidak melihat latar belakang kedaerahan yang berbeda. Namun lebih memprioritaskan pada kebutuhan bersama tentang membangun masyarakat yang lebih adil, dan makmur.

Salah satu konteks nyata yang bisa dijadikan cerminan adalah mentalitas Amerika bahwa mereka tidak tahan akan ide-ide yang sangat spekulatif, yang tidak mempunyai nilai praktisnya. Sebaliknya, ide-ide dan kepintaran manusia sangat erat kaitannya dengan tindakan. Ide-ide dikembangkan atau dibuat dipelajari dalam membuat keputusan-keputusan untuk mengatasi masalah-masalah hidup yang nyata. Kita tidak perlu meniru secara nyata apa yang dilakukan oleh bangsa lain, setidaknya kultur dan potensi yang dimiliki pun tidak sama. Namun yang terpenting adalah nilai-nilai moral yang ada harus mampu dikolaborasikanhan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, para kaum terpelajar diharapkan mengingat atau mempelajari fakta dan ide-ide tanpa mampu melihat hubungan antara mempelajari dan mengatasi masalah-masalah hidup yang nyata. Sebagai komparasi alternatif, John Dewey memberikan pemikiran dengan cara mengatur pengalaman-pengalaman belajar dibangku sekolah sedemikian rupa sehingga mencerminkan sedekat mungkin dengan kehidupan, Memberikan kaum pelajar kesempatan-kesempatan untuk mengatasi masalah-masalah yang realistis sebagai dasar untuk belajar. Contohnya, prinsip-prinsip demokratis dapat lebih efektif dipelajari dengan mengambil bagian dalam membuat keputusan-keputusan demokratis dalam bangku skeolah daripada menghafal deretan pasal dalam konstitusi, atau proposisi-proposisi abstrak lainnya. Secara sederhana adalah dengan learning by doing dalam wadah lintas keilmuan dan solidaritas organik kebangsaan, serta membangun jaringan sosial lewat pemberdayaan komunitas atas ide-ide yang nantinya akan ditransformasikan ke dalam kehidupan sosial masyarakat.

*Oleh : Didid Haryadi

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *