Panitia Lomba Rancang Busana Akan Dilapor Polisi

Kota Bima, Kahaba.- Warga sangat merasakan panicnya terbangun dari tidur akibat ledakan kembang api, pada Lomba Rancang Busana Tenun Khas Daerah Tahun 2017, yang digelar Dekranasda Kota Bima di halaman kantor Walikota Bima, Sabtu (9/9) malam. (Baca. Ledakan Kembang Api di Acara Dekranasda Bikin Panic, Warga:  Jangan Seweneng-Wenang!)

Arena Lomba Rancang Busana di Kantor Walikota Bima. Foto: Istimewa

Akibat terganggunya ketentraman umum akibat bunyi ledakan pada tengah malam itu, warga berencana hari ini Minggu (10/9) melaporkan panitia penyelenggara ke pihak yang berwajib. Tidak hanya itu, warga juga meminta kepada panitia untuk meminta maaf secara terbuka atas sewenang – wenangnya menyalakan kembang api di saat orang terlelap tidur.

Khairudin, warga Kota Bima melalui akun Facebook miliknya menuliskan kecaman dan pernyataan sikap
masyarakat korban ledakan (MKL) Kota Bima. kata dia, atas nama warga Masyarakat Korban Ledakan Petasan (MKL) Kota Bima, menyampaikan kecaman keras dan pernyataan sikap kepada Pemerintah Kota Bima dan DPRD Kota Bima, atas tindakan mengganggu ketertiban umum terkait kejadian melakukan peledakan tengah malam di saat kami warga Kota Bima sedang tidur lelap untuk istirahat karena sudah sehari bekerja mencari nafkah.

Ia bercerita, pada saat mayoritas masyarakat Kota Bima sedang terlelap dalam tidurnya sekitar pukul 23.50 Wita hingga pukul 00.00 Wita, tanggal 9 September 2017 warga Kota Bima kaget dan ketakutan karena mendengar ada suara ledakan yang sangat dahsyat secara runtun dan terus menerus.

Akibat suara ledakan tersebut, warga Kota Bima berhamburan keluar rumah dengan cemas dan ketakutan. Mereka berlarian ke gang-gang dan di halaman rumah mereka, karena takut akan adanya bencana. Karena warga Kota Bima, masih trauma dengan bencana banjir bandang beberapa waktu lalu.

“Warga juga mengira ada peristiwa tembak menembak di Kota Bima dan membayangkan hal buruk telah terjadi di Kota Bima, karena suara ledakan yang ditimbulkan seperti di medan perang,” tulisnya.

Tidak hanya itu sambung Khairudin, anak-anak kecil juga menangis histeris, orang dewasa berlarian menyelamatkan diri dan menimbulkan guncangan yang luar biasa sehingga menimbulkan trauma yang mendalam pada warga Kota Bima.

Ledakan ini menurut pengakuan warga dirasakan sangat dahsyat mulai dari Jatiwangi di bagian Utara hingga Rontu dan Panggi bagian Selatan Kota Bima. Di Timur Kota Bima, masyarakat Rabangodu juga panik dan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

“Dari informasi yang kami peroleh, sebagian besar wilayah Kota Bima terguncang oleh suara ledakan tersebut dan menimbulkan trauma yang mendalam,” katanya dalam tulisan tersebut.

Akibat dari kejadian itu, masyarakat Kota Bima merasa telah terganggu keamanannya, telah terganggu privasinya, telah terganggu istirahatnya, telah terganggu psikisnya sehingga menimbulkan trauma dan luka yang tidak mudah untuk diobati. Bagi masyarakat yang masih trauma akibat banjir bandang tidak seharusnya dipicu lagi dengan tindakan yang menambah trauma baru.

Sehubungan dengan itu, pihaknya selain melaporkan secara pidana atas tindak pidana mengganggu ketertiban umum dan meresahkan masyarakat Kota Bima, yang dilakukan Panitia Pelaksana Lomba “Rancang Busana Tenunan Khas Daerah Tahun 2017” kepada Kepolisian Resor Bima Kota, juga menyampaikan kecaman keras dan pernyataan sikap  dengan mendesak Pemerintah Kota Bima untuk bertanggungjawab atas kejadian tersebut karena hal itu terjadi di halaman Kantor Walikota Bima.

Pihaknya juga mendesak Pemerintah Kota Bima, Tidak lagi memberikan izin penggunaan halaman Kantor Walikota Bima untuk kegiatan yang dapat berakibat pada terganggunya ketertiban umum.
Kemudian mendesak Pemerintah Kota Bima untuk menyampaikan permintaan maaf melalui media massa selama seminggu berturut-turut yang dimuat di halaman muka media cetak, online, dan diumumkan melalui media elektronik di Kota Bima.

“Kepada panitia lomba, selain bertanggungjawab secara pidana, juga menyampaikan permohonan maaf Kepada warga Kota Bima yang berdampak atas peristiwa tersebut melalui media massa secara berturut-turut selama seminggu yang dimuat di halaman muka media cetak, online, dan diumumkan melalui media elektronik di Kota Bima,” pintanya.

Sementara itu, Sekretaris Dekranasda Kota Bima Nurjanah yang dihubungi menyampaikan permohonan maaf kalau suara ledakan itu menyebabkan kepanikan warga.

“Tidak ada niat untuk membuat warga panic, karena itu sebagai tanda acara mulai dibuka saja,” katanya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
    • Shandu

      Berarti kamu tdk punya kepekaan sosial, tidak melihat bahwa di sekeliling ada yg tdk sperti kamu saat ini yg msh diberikan olh Allah jantung yg sehat untuk mndengar gelegar suara letusan….ma mpingaku nggomi…? Apakah acara tsbut tidak meriah jk tdk adanya petasan? Made rai ademu…kamu hanya mikirin dirimu sndiri tdk mikir warga Kota Bima yg lainnya…

  1. erik

    Ingat,jk it sampe msuk pd level perbuatan yg melampaui batas,mk sesungguhnya kita hrs takut bahwasanya azab Allah it sgt dkt kpd org2 yv melampaui batas,jk it blm memasuki level melampaui batas d mata Allah y syukurlah krn Allh msh membuka jln kpd kita utk penyadaran kekeliruan,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *