Istri Terduga Teroris Distigma Negatif, FKUB: Jangan Jauhi Mereka

Kota Bima, Kahaba.- Stigma negatif dan perlakuan diskriminatif kerap diterima istri-istri terduga teroris di tengah masyarakat. Mereka cenderung dipinggirkan dari pergaulan sosial dan sulit untuk diterima kembali sebagai masyarakat umumnya. Fakta ini terungkap dalam Novel “Akulah Istri Teroris” yang dibedah di Aula Mapolres Bima Kota, Kamis (31/5) sore. (Baca. Polisi di Bima Bedah Novel “Akulah Istri Teroris”)

Ketua FKUB Kota Bima (kanan) dan Penulis Buku FKUB Sudirman H Makka (kiri) saat menjadi narasumber dalam bedah novel Akulah Istri Teroris. Foto: Ady

Menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima H Eka Iskandar Z, mereka para perempuan yang distigmakan sebagai istri terduga teroris tidak boleh dijauhi dari pergaulan sosial. Sebab sebagai manusia, mereka juga layak hidup normal dan diterima dalam lingkungan masyarakat.

“Kita harus ciptakan sebuah ruang relaksasi sosial. Kalau kita sudah buat label kepada mereka teroris maka jangan jadikan mereka musuh,” papar H Eka yang didaulat sebagai narasumber.

Harusnya kata dia, mereka didekati dan dijadikan saudara, bukan malah menjauhi mereka sehingga membuat lubang-lubang kesenjangan semakin besar. Termasuk dalam hal ini, istri-istri yang ditinggal terduga teroris. Baik ditinggal karena masuk penjara maupun ditinggal mati.

Setelah itu, kita wajib melindungi mereka dalam pergaulan dan interaksi sehari-hari. Lalu membantu mereka meningkatkan kemampuan dalam aspek ekonomi. Sebab, istri terduga teroris rata-rata hidup dengan kondisi ekonomi lemah.

“Tunjukan kita punya visi dunia dan akhirat dengan memperhatikan mereka. Siapa yang membantu saudaranya, Allah akan membantunya. Itu pesan hadist. Mereka adalah orang-orang yang layak hidup bersama-sama dengan kita,” ingat H Eka yang juga Ketua PD Muhammadiyah Kota Bima ini.

Pada akhirnya, H Eka mengapresiasi Novel “Akulah Istri Teroris” karya Abidah El Khalieqy itu karena mampu menghadirkan ruang relaksasi sosial dan relaksasi sastra. Apalagi, novel itu diangkat dari fakta sosial dan dinamika ekonomi istri terduga teroris. Namun saran dia, akan lebih indah kalau novel tersebut divisualkan sehingga isinya dapat dipahami masyarakat umum. .

Sementara itu, Penulis buku Terorisme, Mengurai Kekeliruan Jihad dan Qital Sudirman H Makka mengaku tidak sepakat istri terduga teroris dianggap sebagai korban. Karena yang jadi korban menurut dia justru terorisnya. Yakni korban sebuah misi.

Terorisme itu menurutnya, bukan orang yang dituduh-tuduh, tetapi ada teroris sebenarnya. Siapa itu? Ia pun membaginya. Pertama iblis. Kedua bangsa Jin. Ketiga Nafsu. Keempat manusia tidak beragama. Kelima manusia tidak berideologi negara.

“Terorisme adalah musuh semua agama dan musuh semua negara. Karena kita sebagai rakyat wajib tunduk pada hukum negara. Dan sebagai umat wajib tunduk pada hukum agama,” tandasnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *