Berjibaku Dengan Pacet Dan Jelatang ~ EKSPEDISI TAMBORA (3)

Potret Bima, Kahaba.- Hari sudah menjelang siang, beberapa saat lagi adzan Dzuhur kan dikumandangkan. Di dusun Tambora, desa Oi Bura ini ibadah sholat jumat jarang diadakan. Jumlah jemaah yang biasa sholat di langgar kecil tak lebih dari 10 orang, mungkin dikarenakan jarak antara satu rumah dengan lainnya yang saling berjauhan. Rencananya setelah waktu jumat kami akan mulai melakukan perjalanan untuk menapaki lereng Tambora.

Satu persatu personil yang ikut pendakian Gunung Tambora pun berdatangan. Bagus, Beryl dan Shally dengan menumpang ojek datang dari Labuan Kenanga dengan menumpang ojek, sedangkan beberapa orang pendaki lokal yaitu Pak Arif, Mas Heri, Bang Ayat juga tiba secara hampir bersamaan setelah sebelumnya mengkonfirmasi akan ikut menemani kami mendaki. Para pendaki lokal ini kesehariannya adalah guru SD dan SMP dari kecamatan Tambora (Bima) maupun Pekat (Dompu) yang tidak jarang menemani para pendaki yang membutuhkan jasa guide (pemandu). Ikut juga bersama kami Rias, seorang pendaki cilik yang masih duduk di kelas 1 SMP yang menurut Mas Sugeng akan ditempa menjadi porter/guide dalam komunitas mereka. Ditambah dengan Mas Maulana, seorang pejalan kaki yang singgah di Tambora dalam misinya keliling nusantara. Maka genaplah kami ber-12 mendaki Gunung Tambora.

Team memulai perjalanannya dari Kebun Kopi, dusun Tambora desa Oi Bura

Team memulai perjalanannya dari Kebun Kopi, dusun Tambora desa Oi Bura

Setelah mengecek ulang lalu membagikan perbekalan kepada seluruh anggota tim, kami makan siang lalu berdo’a bersama untuk kelancaran pendakian. Tak lupa Mas Sugeng mengingatkan anggota lain untuk menjaga kata dan perbuatan agar dijauhkan dari hambatan selama perjalanan. Bagi banyak orang Gunung Tambora menyimpan misteri, dimana orang orang yang niatnya tidak bersih atau melakukan hal-hal tercela akan mendapatkan celaka.

Kami lalu berjalan membentuk barisan panjang pendaki, mas Sugeng di depan dan saya berjalan paling belakang. Mula-mula kami melewati deretan rumah berdindingkan papan yang merupakan bekas pemukiman karyawan, juga pabrik tua pengolahan kopi sisa-sisa kejayaan kawasan ini di waktu silam. Saya berjalan sedikit tertatih dan napas yang ngos-ngosan kendati perjalanan baru beberapa menit dimulai. Rupanya saya harus banyak menyesuaikan diri sebelum betul-betul mendapatkan tenaga untuk berjalan lantaran tak adanya pengalaman saya mendaki gunung sebelumnya apalagi aktifitas saya beberapa tahun terakhir yang selalu begadang sampai subuh.

Setelah melewati kampung Flores, Kampung Lombok, dan Sebelum gapura Kampung Bali (kompleks pemukiman yang diberi nama berdasarkan etnis utama yang menempatinya) akhirnya sampailah kami ke jalur pendakian yang sebenarnya. Untuk menuju Pos 1 kami harus melalui jalan setapak melewati hamparan tanaman kopi sejauh beberapa kilometer. Selepas dari kebun kopi kami disambut oleh hutan khas Tambora yang lembab karena pepohonan beras tumbuh dengan rapat.

Kami tiba di Pos 1 pada pukul empat sore, sekedar beristirahat dan mengisi botol-botol air minum yang kami bawa pada tempat penampungan air yang dibuat sedemikian rupa dari jalur pipa air minum warga yang dipotong. Rombongan hanya beristirahat sejenak, matahari yang semakin condong ke barat mengharuskan kami segera bergegas. Tak lupa kamera poket dikeluarkan untuk mengabadikan indahnya ROL matahari yang muncul disela-sela rimbunnya pohon kalanggo sebelum meneruskan perjalanan.

Pos 4 Tambora

Berfoto bersama di Pos 4 gunung Tambora

Dari Pos 1 menuju Pos 2 sejauh 5 Km dengan perjalanan semakin menantang. Banyak pohon tumbang yang menghalangi jalan mengharuskan kami memutar jalur apabila pohon terlalu besar untuk dilalui. Lead kami di depan menginstruksikan seluruh pendaki mengenakan celana tertutup dan kaos kaki untuk menghindari serangan pacet (lintah hutan) yang berlompatan menuju kaki-kaki kami yang menapak pelan lantai hutan yang basah. Pacet-pacet ini menurutku tidak terlalu mengganggu, namun banyak orang yang merasa jijik dan tidak nyaman ketika hewan kecil penghisap darah ini menempel di badan.

Mendekati Pos 2 hari sudah sepenuhnya gelap, kami berjalan berhati-hati dengan memanfaatkan bantuan cahaya senter yang dibawa. Setiba kami di Pos 2, hampir setiap pendaki memeriksa kaki mereka untuk memastikan tidak ada pacet yang menempel. Di check point kedua yang berada di tepi sungai ini kami memasak untuk makan malam lalu masih melanjutkan perjalanan menuju tempat bermalam di Pos berikutnya.

Pos 2 Tambora

Bangunan gardu di Pos 2 Tambora telah rusak tertimpa pohon tumbang. Yang tertinggal hanya sisa atap yang disulap jadi dangau sederhana.

Lepas dari Pos 2 jalur semakin mendaki. Kami harus berhati-hati karena jurang-jurang sepanjang jalur menunggu siapa saja yang lengah,  selain itu jalur yang semakin sulit dikenali pada malam hari membuat semua orang semakin waspada dan teliti berjalan. Kami terbagi menjadi dua kelompok, kelompok awal yang kebanyakan terdiri dari pendaki lokal Tambora melaju duluan untuk menyiapkan tenda di Pos 3, sedangkan kami yang kebanyakan pendaki pemula berjalan di belakang karena tidak ingin memaksakan tenaga.

Kami tiba sekitar pukul 9 malam, udara dingin langsung meyergap seketika kami menurunkan beban ransel di pundak dan jaket yang bermandikan keringat. Cuaca malam ini begitu cerah, gugusan bintang terlihat jelas menjadi hiburan tersendiri untuk kami yang sedang melepas lelah disekeliling api unggun. Orang-orang tergeletak tidur dalam bangunan yang menyerupai pos kamling karena kelelahan, tiga orang pendaki jelita kami sepertinya juga sudah terlelap dalam tenda, sementara sebagian lagi sibuk menyiapkan minuman hangat untuk berperang melawan dinginnya malam di samping api unggun. Ada mata air di pos ini, namun untuk mencapainya kita harus turun ratusan meter. Disini kami meninggalkan sebagian perlengkapan, yang tidak diperlukan karena jalur di depan akan semakin menanjak tanpa adanya bonus jalanan mendatar atau menurun. Setelah sarapan kami mulai menuju puncak…

Menariknya, diantara pos 3 sampai pos 4 sesekali indikator signal di ponselku terlihat penuh, SMS masuk bertubi-tubi dan di pos 4 terkadang masih bisa untuk mengakses internet. Lumayanlah, untuk sekedar terhubung dengan dunia luas dan mengabarkan kalau kami dalam keadaan baik-baik saja.

Jelatang tambora

Semak Jelatang, dari pos 3 ke 4 pendaki akan melewati hutan jelatang.

Munuju ke pos 4 vegetasi semakin seragam. Pohon-pohon besar mulai jarang terlihat berganti tumbuhan semak, pakis, rerumputan dan ilalang.  Selain pacet, tantangan yang lain dalam pendakian Tambora adalah jelatang. Tumbuhan semak berduri halus yang dalam bahasa lokal disebut sebagai meladi ini sungguh menjengkelkan. Sekali daunnya tersentuh badan maka rasa perih dan gatal. Rias, pendaki cilik yang ikut dengan semangat memperkenalkan kami terhadap jelatang, menurutnya ada tiga jenis jelatang yang harus diwaspadai. “Yang ini kalau kena kulit perihnya hanya 5-10 menit, tapi kalau yang begini sekali kena berbulan-bulan sakitnya,” katanya sambil menununjuk ke arah daun yang kami lewati menuju pos 4.

Entah serius atau sekedar mengerjai, Rias menantang kami mencoba menyentuh jelatang. “Jangan mengaku naik tambora kalau belum pernah dicumbu jelatang,” tukasnya. Menurutnya sengatan jelatang dan pacet-pacet yang menempel rakus di kaki kami semacam souvenir wajib yang harus dibawa pulang.

Kendati tantangan Rias untuk menyentuh daun dengan duri-duri halus ini tidak kutanggapi, tetapi beberapa kali saya tanpa sengaja menyentuh bahkan sempat menggenggam daun jelatang yang ku kira semak biasa. Benar saja, tersengat duri jelatang bukan main perihnya. Melewati hutan jelatang selepas pos 3 awalnya saya cukup lincah menghindar, tetapi lama-kelamaan tumbuhan itu kuterobos saja setelah membungkus seluruh anggota badan kecuali muka. Rasa perih karena jelatang hanya bertahan beberapa menit, lebih banyak teralihkan oleh konsentrasi mengatur ritme napas dan langkah kaki ditengah jalur pendakian yang kian menanjak.

Bunga Eidelweis, salah satu flora endemik Gunung Tambora

“Tak ada bonus sama sekali,” pikirku. Pendakian penuh ini membuat kami tertinggal jauh dari rombongan di depan,beberapa kali kami beristirahat dibawah rindangnya pinus untuk sekedar menikmati satu atau dua teguk air. Pos 4 memang berada dalam rimbunnya pohon pinus, sekedar tempat untuk meluruskan kaki setelah pendakian yang melelahkan. Disini pendaki masih bisa mendapatkan air yang terperangkap cekungan batu. Kendati tidak sebersih air di pos-pos sebelunya, setidaknya bisa menolong dikala kita dalam keadaan darurat karena kehabisan air minum.

Tidak jauh berbeda dengan pos 4, dari pos 5 menuju pos terakhir yang bernama Cemara Tunggal (kadang disebut Cemara Terakhir) tanjakan akan semakin menggila. Melewati hamparan bunga Eideilweis (Anaphalis javanica), sang bunga abadi yang hanya tumbuh di ketinggian 2000 mdpl membuat hati tergoda untuk sekadar berhenti sejenak dan mengeluarkan kamera, tapi kupikir nanti saja ketika turun dari puncak.

Menuju pendakian terakhir sebelum kawah

Menuju pendakian terakhir sebelum kawah

Melewati Pos Cemara Terakhir sudah tidak ada lagi tempat untuk berteduh karena kontur batu-batu vulkanis tidak memungkinkan pepohonan tumbuh. Kami harus mendaki tebing terjal berbatu setinggi puluhan meter untuk menuju kawah yang tinggal beberapa puluh menit lagi berjalan. Tebing  ini dinamakan Tebing Penyesalan, mungkin karena banyak pendaki yang memutuskan turun kembali karena tidak mampu merayapi tebing yang kemiringannya diatas 45° ini, namun setelah memutuskan kembali baru merasa menyesal karena gagal melihat kawah yang tinggal sedikit lagi dicapai. Kalau kami lebih senang menyebut tebing ini dengan namaTebing Galau

Dari sini, tinggal beberapa menit lagi pendaki akan mencapai kawah gunung Tambora yang terkenal. Menyaksikan kawah gunung berapi berdiameter 8000 m dengan kedalaman 1200 m pasti akan menjadi pengalaman yang diimpikan oleh banyak orang, termasuk kami[BQ]

Rangkaian Seri EKSPEDISI TAMBORA:

  1. Menembus Pagi Menuju Peradaban Multietnis ~EKSPEDISI TAMBORA (1)
  2. Kebun Kopi Yang Pernah Berjaya ~ EKSPEDISI TAMBORA (2)
  3. Berjibaku Dengan Pacet Dan Jelatang ~ EKSPEDISI TAMBORA (3)
  4. Di Puncak Yang Mengubah Sejarah Dunia ~ EKSPEDISI TAMBORA (4)
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *