Khilafah Adalah Kewajiban Agung

Muhammad Ayyubi ( Hizbut Tahrir Indonesia Bima )

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh umat islam seluruh dunia yang menerapkan seluruh syariat islam dan menyeberluaskan ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad ( An Nabhani : 1953 ). Seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah sepakat akan wajibnya khilafah ini.

Ketua DPD HTI Bima, Muhammad Ayyubi saat berorasi dalam suatu aksi di Bima.

Ketua DPD HTI Bima, Muhammad Ayyubi saat berorasi dalam suatu aksi di Bima.

Bahkan Al Ghazali dalam kitabnya Iqtishad fil I’tiqad meneyebutkan bahwa agama ini adalah asasnya dan Khalifah adalah penjaganya segala sesuatu yang tidak memiliki asas maka dia akan roboh, dan sesuatu yang tidak ada penjaganya maka dia akan hilang.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa khilafah adalah Taajul Furudh (Puncak kewajiban). Karena dengannya seluruh kewajiban akan bisa diterapkan, tanpanya sebagian besar kewajiban seperti syariat dalam Muamalah dan Uqubat tidak bisa diterapkan.

Nabi Muhamad menyebutkan bahwa Khalifah (Kepala pemerintahan Sistem Khilafah) adalah pengganti beliau pemerintahan sebagaimana hadits dari Ibnu Hazm.

“adalah Bani Israel selalu diperintah oleh para nabi, setiap kali nabinya wafat maka diganti dengan nabi yang lain. Akan tetapi tidak ada lagi nabi setelahku, yang ada adalah khalifahku (Penggantiku dalam urusan pemerintahan) dan jumlah mereka banyak (HR Muslim).

Walhasil khilafah adalah bagian dari syariat Islam yang mulia. Keberadaanya sebagaimana kewajiban-kewajiban Allah swt lainnya seperti shalat dan zakat. Akan tetapi setelah hancurnya khilafah pada tahun 1924 ditangan Yahudi Dunamah Mustafa Kemal.

Barat selalu mencoba mengaburkan kewajiban khilafah ini dan mencitraburukkan khilafah ini dengan memberi gambaran yang tidak benar tentang Khilafah. Baik secara langsung atau melalui mulut-mulut agen dan komprador mereka. Lord Curzon (Menteri Luar Negeri Inggris) mengatakan pasca runtuhnya khilafah “hari ini Islam tidak akan bangkit lagi karena kita telah menghancurkan dua kekuatan utamanya yakni Islam dan Khilafah “ . demikian juga Ulil Abshar Abdallah (Pendiri JIL) mengatakan bahwa Khilafah tidak memiliki landasan teologis.

Dan akhir-akhir ini, istilah khilafah mulai mencuat lagi. Tetapi dengan gambaran yang buruk. Pasca ISIS (Islamic State Iraq and Syiria) mengumumkan tegaknya khilafah. Seluruh media gencar memberitakan ISIS dan khilafahnya dengan gambaran buruk. The Jakarta Post memuat karikatur yang menggambarkan bahwa khilafah adalah sebuah teror gaya baru dan intoleran.

Penulis tidak yakin dengan khilafah yang ditegakkan oleh ISIS, oleh karena khilafah yang mereka klaim telah berdiri itu, jauh dari gambaran Khilafah yang syar’i yang diperintahkan oleh Rasulullah. Khilafah yang berdiri haruslah melaksanakan Syariat Islam sejak hari pertama dan keamanan negara berada ditangan kaum muslimin. Ini semua meniscayakan wilayah yang ootonom dan tidak berada dalam kekuasaan negara lain. Dan justru hal ini yang tidak adal dalam khilafah versi ISIS tersebut.

Menurut hemat penulis, ini tidak lebih dari upaya untuk memberi gambaran buruk tentang khilafah. Khilafah yang agung itu digambarkan sebagai pembantai dan tidak toleran hatta kepada sesama muslim. Justru apa yang dilakukan ISIS seolah membenarkan apa yang dituduhkan Barat (AS dan Eropa) kepada Islam selama ini. Dengan proyek War On Terorism bahwa Islam itu memang teroris. Sandiwara yang terlalu mudah untuk dibaca dalam ranah konspirasi terhadap Islam. Anehnya lagi jika memang ISIS telah mendirikan Khilafah kenapa dia tidak membantu Palestina yang dibombardir Israel?

Penulis mencurigai adanya aksi kontra intelejen dunia melalui ISIS untuk menjauhkan Umat Islam dari Khilafah. Ditengah maraknya tuntutan umat Islam dunia untuk tegaknya Khilafah sebagaimana laporan PEW Research Amerika. ( 2013 ) Juga analisa NIC akan berdirinya kembali khilafah pada 2020. Snowden ( agen CIA yang membelot ) juga melaporkan bahwa ISIS adalah organisasi bentukan Inggris dan AS ( Republika.or.id, 05/07/14).

Sungguh barat tidak akan bisa membendung tegaknya khilafah itu, yang bisa mereka lakukan adalah memperlama tegaknya. Dan cara yang dipakai adalah dengan upaya penyesatan-penyesatan seperti yang sedang terjadi hari ini. Apa yang terjadi hari ini adalah hakekat dari firman Allah

“ Sungguh sangat besar kebencian apa yang ada di mulut-mulut mereka ( Yahudi-Nasrani ) dan apa yang tersembunyi dalam dada-dada mereka lebih besar lagi ( Ali Imran : 118 )

Sungguh, menegakkan Khilafah tidak bisa dengan menggunakan metode kekerasan bersenjata. Metode ini selain tidak dicontohkan oleh Rasulullah juga rawan infiltrasi pihak luar untuk melakukan “ pembunuhan kakrakter” gerakan. Cara kekerasan membutuhkan senjata, instruktur, dan modal yang besar. Dan justru senjata-senjata itu hari ini dikuasai oleh pihak barat. Jalu-jalur perdagangan senjata juga ada ditangan mereka. Dan inilah yang menjadi pintu masuk bagi mereka untuk memebelokkan arah perjuangan dan pembusukan gerakan.

Berbeda jika metode yang dipakai adalah metode pemikiran sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau konsisten dengan metode merubah pemikiran walau direspon dengan kekerasan oleh kafir Quraisy waktu itu. Karena secara faktual berubahnya seseorang dus negara karena berubahnya pemikirannya. Beliau merubah pemikiran jahiliyah tanpa tuhan waktu itu menjadi pemikiran yang bersumber dari syariat islam saja, dengan cara melakukan perang pemikiran dan membongkar starategi dan makar quraisy kepada Islam.

Dan apa yang dilakukan oleh barat hari ini sejatinya adalah perang pemikiran. Dan perang fisik adalah kondisi terakhir yang dilakukan jika tidak bisa ditaklukkan dengan pemikiran ( An Economic hit men, Jhon Perkin. 2005).

Maka metode yang sama harusnya kita lakukan hari ini, yakni dengan melakukan perang pemikiran, membongkar kebusukan demokrasi dan kapitalisme hari ini dan menjelaskan agungnya islam dan khilafah. Menjelaskan kepada umat islam tentang bahanya sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Dan ini dilakukan dengan Pemikiran versus pemikiran, Tanpa kekerasan.

Jika metode ini dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten tidak ada satu pun yang bisa melakukan infiltrasi karena seseorang akan bisa diidentifikasi melaluki pemikirannya. Jika tidak membawa syariat islam dan khilafah termasuk juga metode perjuangan tanpa kekerasan maka bisa dipastikan dia adalah penyusup.

Pengopinian Islam dan Khilafah secara masif terus dilakukan hingga terbentu opini dan kesadaran umum akan urgensitas syariat sialm dan khilafah ditengan umat ini, maka mereka akan menuntut pemeberlakuan syariat islam dan mengangkat khilafah. Dan satu yang tidak bholeh dilupakan bahwa cara ini dilakukan dilevel top and down. Artinya dakwah pemikiran dilevel akar rumput dan penguasa dan militer sebagai ahlul quwwah. Metode ini juga dilakukan Rasulullah dengan melakukan thalabun nusrah ( meminta pertolongan ) kepada pemimpin kabilah-kabilah di jazirah arab waktu itu.

Walhasil, menegakkan khilafah tidak perlu dengan kekerasan, setuju?

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *