oleh

Pilkada Bima, Siasat Petahana, Dilema PAN Kabupaten Bima

-Opini-7 kali dibaca

Oleh: Jaidin Juraputra*

Jaidin Juraputra. Foto: Ist

Apakah tingkat kepuasan publik Kabupaten Bima tambah meningkat atau malah menurun terhadap kinerja Petahana? Jawaban terhadap pertanyaan itu bakalan subjektif, apalagi dibingkai dengan sentimen politik.

Problemnya tidak ada survei ilmiah dan terukur yang bisa dijadikan rujukan. Baru sebatas asumsi umum orang per orang dan grup per grup kepentingan.

Jelang Pilkada Bima 2020, ada anggapan bahwa petahana diuntungkan dengan masa pandemi. Penantang akan terbatas waktunya untuk sosialisasi dan kampanye pun agak sulit bersifat massal karena Corona. Lalu berpulang ke petahana, sejauhmana performanya dalam mengatasi Covid-19. Kalau sukses, maka masyarakat akan mendukungnya lagi. Kalau gagal, maka siap-siap ditinggalkan. Semua tergantung persepsi publik yang tak terpisahkan dari kinerja petahana.

Salah satu aspek yang menarik perhatian juga adalah gaya rangkulan petahana. Siasat Petahana tentu saja akan mengakomodasi parpol yang ada. Apalagi parpol yang punya riwayat fragmentasi di internal elitenya. Sebut saja PAN Kabupaten Bima.

Konflik elite dalam pentas kekuasaan memang bukan hanya elite satu parpol dengan elite parpol lain. Namun yang perlu disorot adalah konflik elite di internal suatu parpol.

Saling berkompetisi merebut sumberdaya kekuasaan menjadi bibit tumbuhnya persaingan internal di sebuah parpol. Bila tak dikendalikan, maka terjadi krisis soliditas.

SYAFAAD (Syafrudin – Adi Mahyudi) adalah satu penantang yang sejak lama sosialisasi. Ada juga Irfan-Herman (IMAN), ada pulak H Arifin yang terus naik namanya belakangan ini.

Kita tahu bahwa Syafrudin itu mantan Bupati Bima dan mantan Wabup era Almarhum Ferry Zulkarnain, sedangkan Ady Mahyudi saat ini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi NTB dari PAN.

Partai yang didirikan oleh bapak reformasi Amien Rais itu memang termasuk partai besar di Kabupaten Bima, selain Partai Golkar dan sebagainya. Tapi dinamika di dalamnya perlu dianalisis, maksudnya Ady Mahyudi bakal menemui “duri dalam dagang”. Benarkah demikian?

Sebagaimana kita tahu bahwa realitas politik menunjukkan ada “perang dingin” antar elite di PAN Kabupaten Bima, ketegangan tersembunyi Ady Mahyudi dengan Ketua DPD PAN Kabupaten Bima sekarang ini, yang akrab disap Maman, lantas petahana tentu mengambil kesempatan merangkul elite-elite strategis PAN, terjadilah negosiasi kepentingan. Mungkin saja terjadi.

Akhirnya PAN Kabupaten Bima mengalami dilema terkait soliditas internal, karena belum terlalu teguh apa yang disebut sebagai “Ady Mahyudi sentris” disebabkan tak sedikit pemain yang berakrobat.

Surat rekomendasi DPP PAN akankah mendorong Syafa’ad dalam Pilkada Bima 2020, dan itu pun masih misterius. Gerakan-gerakan di belakang layar pasti akan bermanuver. Lagi-lagi sangat mungkin terjadi.

Di sisi lain, geliat kubu Syafa’ad untuk mengalahkan rezim petahana sangat antusias. Ikhtiar konsolidasi politik Syafa’ad layak diacungi jempol karena massifitas sosialisasi, pertemuan dengan warga, dan dukungan kelompok masyarakat. Saat bersamaan juga H Arifin dan kandidat lainnya.

Akan tetapi, IDP-Dahlan juga tidak bisa dipandang enteng. Juga tanpa soliditas mesin parpol seperti PAN, sulit memenangkan pertarungan, dalam konteks Syafa’ad.

Nampaknya itu akan menjadi PR besar bagi Ady Mahyudi. Problemnya dalam berbagai pertemuan elite, Maman selaku Ketua DPD PAN Kabupaten Bima kerap bermesraan dengan petahana, bukankah begitu?

Di sisi lain, ada jejak politik terkait terpentalnya Ketua DPD PAN memangku Kursi Ketua DPRD Kabupaten Bima pada pemilu periode lalu. Hal itu membuat ketidak-enakan di elite teras parpol tersebut.

Penanda politik itu menunjukkan bahwa kesan sentralisasi Ady Mahyudi dalam relasinya dengan PAN belum sepenuhnya full. Belum sepenuhnya solid. Itulah lagi-lagi perlu jadi perhatian Ady Mahyudi.

Syafa’ad butuh kerja keras untuk meraih rekomendasi DPP PAN. Sumbatan komunikasi di internal PAN memerlukan atensi Ady Mahyudi untuk melakukan rekonsilasi sekaligus rekonsolidasi internal, khususnya dengan Ketua DPD PAN Kabupaten Bima.

Dalam beberapa jejak digital, komunikasi politik yang terbangun, kemesraan interaktif, gestur politik, bahasa tubuh politik lewat beberapa perjumpaan, menyiratkan pesan bahwa Maman sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Bima lebih berorientasi ke “kubu petahana”.

Jika petahana semakin lihai, katakanlah PAN mendukung petahana melalui transaksi yang meyakinkan dan rasionalisasi peluang elektoral, maka tentu menimbulkan reaksi dari blok politik Syafa’ad.

Dalam sebuah teori dikatakan kira-kira berbunyi, politik itu siapa mendapatkan apa, bagaimana dan dengan cara apa. Dalam konteks ini, manakala benar terjadi Ketua DPD PAN Kabupaten Bima lebih pro petahana, maka pihak Syafa’ad bersiap-siap kewalahan. Tapi konsekuensinya sang ketua akan jadi sasaran empuk bully dan penghakiman moral maupun etika politik dari kader partai biru.

Namun kalau DPP PAN memberikan rekomendasi ke Syafa’ad, maka jalan untuk bertempur, tambah kokoh dan mantap. Lagi-lagi siasat petahana seringkali tak terduga. Mari kita tunggu manuver para elite lokal Kabupaten Bima ini.

*Ketua Lembaga Riset Demokrasi dan Perdamaian (REDAM)

Komentar

Kabar Terbaru