Caleg Bersaing Siapa Dapat

Oleh: Munir Husen*

Ilustrasi

Tahun 2019, Insya Allah Bangsa Indonesia akan diadakan pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD kabupaten dan kota, pemilihan presiden dan wakil presiden. Jumlah kontestan pemilu sebanyak 20 partai politik, yang akan berkompetisi pada pemilihan anggota legislatif. Betapa beratnya persaingan caleg tahun 2019.

Saat ini, caleg sedang melakukan pendekatan untuk meraih simpati masyarakat. Di era pemilihan legislatif ini, performance caleg beragam bawaannya. Mulai dari tebar senyum dengan siapa saja, sopan penampilannya, baik dikalangan tua, muda maupun kaum milenial, dan kesannya memang WOW, luar biasa untuk meraih simpatik masyakat, bahwa mereka  siap berjuang untuk rakyat dalam konteks perpolitikan dan demokrasi  adalah wajar. Dan alat peraga caleg terpampang di sudut-sudut kota seperti spanduk, baligo, stiker dan sebagainya. Ada pesan politik pada alat peraga tersebut, secara tersurat bahwa mereka siap menjadi wakil rakyat.

Untuk mengejar impiannya, caleg  harus bekerja keras agar bisa terpilih sebagai wakil rakyat dengan modal politik yang berbeda di antara caleg lain. Sangat sulit bagi seorang caleg kalau tidak memiliki modal politik. Modal politik itu diantaranya adalah modal fulus, modal integritas dan modal mental. Modal Fulus suatu kemestian perpolitikan, kita sepakat bahwa cost politik di negeri ini memang amat besar, tidak bisa dipungkiri kecuali politukus abnormal yang biasa berdusta yang tidak mengakui bahwa fulus sebagai roda penggerak politik.

Kemudian caleg harus memiliki integritas. Menurut ketua Perludem Titi Anggariani bahwa posisi anggota legislatif adalah posisi stategis. Kalau diberikan kepada orang yang tidak berkompeten dan berintegritas, sama saja membiarkan masa depan bangsa yang menimbulkan kerugian bagi negara dan masyarakat daerah ujurnya. (https://nasional.kompas.com/read/2018/07/02/07493631/kalau-ada-pilihan-orang-baik-masyarakat-antusias-ikut-pemilu-2019). Dengan demikian secara de facto sulit untuk mencari kualitas caleg yang benar-benar untuk rakyat, sulit terpilihnya caleg yang memiliki kualifikasi dan kredibilitas sebagai wakil rakyat karena situasi dan kondisi politik yang sangat kompleks.

Jika ingin terpilih menjadi anggota legislatif, jangan terlena dengan keadaan yang ada. Dinamika pemilihan legislatif ini sangat dinamis, tawaran dan janji politik oleh caleg kepada massa sangat menggiurkan, tentu saja yang ditawarkan itu belum tentu diamini oleh massa. Dan ingat, caleg  jangan menganggap massa sebagai insan dungu, atau bisa diakalin, harus ada kehati-hatian agar tidak menjadi caleg yang terjun bebas alias rugi atau habis sesaat. Karena hal seperti ini terjadi pada lima tahunan, pasti ada caleg yang menjadi korban hipnotis politik akibat salah menterjemahkan keinginan massa.

Pandai-pandailah membangun hubungan dengan massa, meminjam pandangan Gustave LeBon dalam Psychologie Der Massen mengatakan bahwa, barang siapa yang pandai mengelabui massa, ia akan menguasainya. Tetapi barang siapa yang mencoba-coba mendidik massa, ia akan korbannya yang pertama. (Wiryanto Teori Komunikasi Massa (2003 : 3).

Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada disuatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar atau terpencar diberbagai lokasi yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama (Wiryanto, Teori Komunikasi massa 2003:3). Akankah terjadi kohesi antara calon legislatif sesama partai politik maupun antara calon partai politik lain dalam merebut suara dalam proses demokrasi ?. Semuanya bergantung sungguh dari  upaya Caleg yang akan bersaing dalam pemilihan legislatif.

Disinilah akan diuji kemampuan dan kepekaan para caleg, apakah mereka pernah membangun  komunikasi sebelumnya ataukah membangun komunikasi pada saat-saat deadline. Sebab kunci kesuksesan caleg adalah membangun komunikasi dengan intens. Kalau hal ini sudah dilakukan, maka massa yang menjadi pendukung caleg dan akan bisa dimobilisasi dengan kuat. Namun sebaliknya, tanpa diawali dengan komonikasi yang intens, maka caleg sama halnya mendorong mobil mogok yang sulit diperbaiki keadaannya.

Senada dengan uraian tersebut, meminjam pendapatnya Dony Gahral Adian (Demokrasi Subtansial, Risalah Kebangkrutan Liberalisme: 2000), mengungkap 2 pilihan yang tersedia dalam meraup suara dari pemilih. Pertama, populer karena keringat kerja politik, yaitu dengan mengabdi terlebih dahulu kepada rakyat. Dengan mengabdi, rakyat akan paham apa yang politisi lakukan ketika berpolitik. Kedua populer melalui cara instan dengan menggunakan layanan-layanan iklan politik, sebagaimana dipakai banyak politisi saat ini. Bahkan, partai-partai merekrut para artis untuk mendongkrak popularitas.

Dengan demikian, sangat diperlukan pendidikan politik yang santun, elegan dan bermartabat dengan mengacu pada etika politik yang beradab, sehingga untuk meraih massa, berjalan dengan cara-cara yang elegan sehingga tidak menghalalkan segala cara. Tanpa mengorbankan nilai-nilai kejujuran, sehingga strategi politik yang dibangun adalah strategi politik yang santun, tidak mengorbankan nilai-nilai demokrasi yang sudah terbangun di negeri ini oleh pendiri republik ini (Fonding Father).

Tidak ada kesan sepertinya massa hanya dikontrak untuk kebutuhan sesaat saja, habis pemilu habis juga kontrakannya wow luar biasa caranya itulah yang di katakan oleh Dr. Syarifuddin Jurdi sebagai syahwat politik.  Wallahualam Bisyawab. Selamat Berjuang Kawan.

*Dosen STIH Muhammadiyah Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *