HUT Kota Bima, Refleksi Ditengah Selebrasi

Oleh: Didit Haryadi

Perjalanan adalah sebuah cerita yang selalu beriringan bersama waktu. Dan rekaman tentang sebuah perjalanan selalu menyisakan kenangan dan pelajaran yang kelak akan menjadi referensi di masa yang akan datang. Dalam konteks perjalanan sebuah usia, tentu saja banyak hal yang telah dilalui. Dinamika kehidupan sosial yang terjadi merupakan hal yang sangat biasa hadir.

Didit Haryadi

Didit Haryadi

Tentu saja ini merupakan konsekuensi logis yang harus diterima ketika pilihan untuk menapaki sebuah perjalanan. Sama halnya dengan perjalanan usia sebuah negara, provinsi, kota, ataupun desa, pasti memiliki nilai-nilai sejarah yang ada didalamnya. Dalam konteks yang lebih khusus, misalnya adalah sebuah kota.

Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Kota bisa dibilang sebagai tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.

Definisi ‘kota’ sangat banyak dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya adalah yang dikemukakan oleh tokoh sosial Max Weber. Ia berpendapat bahwa “suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu harus dihasilkan oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu.

Jadi menurut Max Weber, ciri kota adalah adanya pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem hukum dan lain-lain tersendiri, dan bersifat kosmopolitan. Dalam hal ini, Weber lebih menekankan adanya kegiatan produksi yang terjadi di sebuah kota yang ditandai dengan adanya pasar.

Definisi lain yang menarik tentang kota adalah oleh Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Jadi menurut teori ini, kota diartikan sebagai pusat pelayanan. Sebagai pusat tergantung kepada seberapa jauh daerah-daerah sekitar kota memanfaatkan penyediaan jasa-jasa kota itu. Dari pandangan ini kemudian kota-kota tersusun dalam suatu hirarki berbagai jenis.

Ada keterkaitan satu sama lain antara pengertian kota yang disampaikan oleh Weber dengan Cristaller, yakni idealnya sebuah kota dengan dinamika sosial, ekonomi, politik, budaya, ataupun sejarah yang ada didalamnya harus mampu memberikan kontrol sosial dan jangkauan manfaat kepada daerah-daerah yang ada disekitarnya. Yang dimaksudkan disini adalah desa yang masih dalam geografis perkotaan.

Bima, Kota Sejarah dan Budaya

Kota Bima merupakan salah satu kota kecil yang ada di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang melimpah, terutama dari bidang pertanian dan maritim. Memasuki usia yang ke-13, Kota Bima sudah banyak berbenah baik dari segi pembangunan yang bersifat sarana dan prasarana maupun yang imaterial dan spiritual.

Bima sangat terkenal luas karena memiliki sejarah yang menarik. Beberapa mahasiswa dan peneliti sudah banyak yang melakukan riset dan mengkaji tentang Bima. Diantaranya adalah Peter Just, seorang Antropolog asal Amerika Serikat yang menulis tentang “Dead Goats and Broken Betrothals: Liability and Equity in Dou Donggo Law”, yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 1988.

Selain itu juga terdapat karya yang sangat terkenal yakni “Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima. oleh Henri Chambert Loir, bersama Siti Maryam R. Salahudin. Beberapa peneliti lainnya adalah oleh Dr. Muhammad Adlin Sila. Penulis M. Hilir Ismail, tentang ‘Kebangkitan Islam di Dana Mbojo (Bima) (1540-1950)’, dan juga ada Michael Prager yang menulis tentang Abandoning The ‘Garden of Magic’ : Islamic modernism and contested spirit assertions in Bima. Ataupun karya klasik oleh D.F.van Braam Morris, “Nota van toelichting behoorende bij het contract gesloten met het Landschap Bima op den 20sten October 1886”.

Tentu saja masih banyak karya lain yang telah dipublikasi yang berkaitan tentang Bima. Bahkan kemasyhuran letusan Gunung Tambora yang terjadi pada 200 tahun lampau (5 April 1815) telah ditulis dalam beberapa karya di Eropa, misalnya ‘History of Java’ oleh Stamford Raffles, pada tahun 1817. Ataupun novel ‘Frankenstein’ karya Mary Shelley yang terinspirasi dari letusan Gunung Tambora dan mengakibatkan tidak adanya musim panas, gagal panen, serta kelaparan di beberapa wilayah Eropa pada medio 1815-1817.

Deretan karya para peneliti tersebut merupakan bukti nyata bahwa Bima adalah lokasi yang sangat unik sekaligus memiliki daya tarik bagi para ilmuwan dalam dan luar negeri. Karya intelektual akademik dan empiris tentunya harus mendapatkan apresiasi. Langkah nyata yang bisa dilakukan adalah dengan mendirikan pusat kebudayaan dan akademik yang memuat karya-karya sejarah, arsip dan hal lainnya yang relevan dengan proses edukasi. Diluar sana, masih banyak karya yang mengulas tentang Bima, yang mungkin saja belum kita ketahui.

Ibnu Khaldun dengan sangat tepat mendefinisikan arti penting sebuah sejarah. Kutipan dari beliau yang menjadi inspirasi penulis berbunyi, “pada dasarnya negara-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi kedua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama.

Kemudian, akan datang generasi ketiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya”.

Pandangan tersebut menekankan harus adanya konsistensi dan kemauan untuk belajar dari dinamika sosial dan sejarah yang pernah terjadi. Kuncinya tentu saja adalah pembentukan karakter dan sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing dalam skala lokal, nasional ataupun global. Sarana yang tepat untuk menjawab semua hal tersebut adalah pendidikan.

Bukan tidak mungkin pada beberapa tahun yang akan datang, Bima akan menjadi pusat kebudayaan dan studi sejarah, sekaligus menjadi lokus utama dalam referensi keilmuan tentang sosiologi, antropologi, arkeologi, ataupun vulkanologi. Sebagaimana yang pernah terjadi di Jawa melalui karya monumental Clifford Geertz yang berjudul ‘Religion of Java’.

Selamat ulang tahun Kota Bima. Semoga semakin maju dan bisa memberikan kesejahteraan sosial bagi masyarakatnya, terutama di bidang pangan, kesehatan, dan pendidikan. Kunci untuk memahami supersistem budaya yang terintegrasi adalah dengan melihat mentalitas budaya-nya. Peran kaum intelektual sangat diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut.

*Penulis Mahasiswa Sosiologi Program Master di Istanbul University

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *