Ada Penjarahan Dibalik Pembakaran Dusun Godo

Kabupaten Bima, Kahaba.- Sekitar 88 rumah terbakar dan rata dengan tanah di Dusun Godo. Sejumlah warga yang ada di sana tampak murung, lesuh, dan tak berdaya. Kepada Kahaba yang berkunjung ke Godo, Minggu, 7 Oktober pagi tadi, para warga bercerita, bukan hanya rumah yang dibakar, ternyata harta mereka pun diduga dijarah massa.

Hj. Sauna, Seorang Nenek di Dusun Godo. Foto: Bima Mawardy

Rasa sesal meninggalkan rumah tampak dari wajah Suaeb (50). Rumahnya, di pertigaan Cabang Godo yang ikut dihancurkan massa asal Desa Samili dan Kalampa meninggalkan sederet ‘luka’ bagi keluarganya.  Awalnya, Suaeb mengira, tak separah ini prahara yang akan terjadi.

Semua harta Suaeb dalam rumahnya kosong tak tersisa. Uang senilai Rp 50 juta yang disimpannya pun raib entah kemana. “Jangankan sisa baju, hampir seluruh harta masyarakat Godo dijarah massa. Mulai dari kambing, ayam, bebek, TV, Uang, Laptop, HP bahkan mesin air pun digondong mereka,” ujarnya.

Suaeb hanya bisa pasrah dengan rasa kecewa yang tak terhingga. Harta yang dikumpulkan sebagai petani tambak ludes tak tersisa. Rumahnya yang hanya tinggal tembok usang yang penuh asap hitam dan tak beratap, sisa harta miliknya.

Kata Suaeb, dari 135 KK yang ada di Dusun Godo, 90% harta Warga Godo diduga dijarah massa. Toko Tiga Putri yang dikenal sebagai Toko serba ada, Toko Niaga Mandiri maupun Konter HP Korindo dan Konter Sri Cell, isinya diduga habis digondong massa. “Apa mungkin semua ini bisa kembali?, kami harapkan, agar pemerintah bisa memfasilitasi proses pengembalian sebagian harta milik Warga Godo yang sudah dijarah itu,” harap Suaeb yang ditemui Kahaba di halaman rumahnya, Minggu, 7 Oktober 2012.

Keluhan senada pun terucap dari seorang Nenek, Hj. Sauna (65) yang diwawancara wartawan Kahaba. Di depan rumahnya, Ia bercerita. Sang Nenek menduga sebagian rumah yang masih bertahan bangunannya tapi isinya sudah kosong dijarah massa. “Massa merusak rumah dan mengambil semua harta di dalamnya. Kalaupun ikut terbakar tentunya ada bekas dan sisanya. Inikan tidak ada, kemungkinan semua harta dijarah massa asal Samili dan Kalampa itu. Semoga Allah membalas tindakan mereka,” imbuh Nenek lima cucu itu.

Pertannyaan pun muncul dari keluh lisan Sang Nenek. “Apa mungkin pemerintah membayar semua kerugian ini. Kami tak butuh janji, tolong kami dibantu dengan materi. Kami butuh uang untuk membangun kembali rumah kami yang habis terbakar,” keluhnya.

Tragedi Godo pun berawal dari balasan Warga Samili dan Kalampa atas meninggalnyam, Burhan (43), Warga Samili yang tinggal di Godo dan diduga penganut ilmu hitam (dukun santet). [BM]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *