Data K2 dan Bappeda Yang Diminta Polisi Akhirnya Didisposisi Pj Walikota Bima

Kota Bima, Kahaba.- Penjabat (Pj) Walikota Bima H Wirajaya Kusuma akhirnya memberikan disposisi kepada OPD terkait untuk menyerahkan data K2 dan temuan kerugian negara miliaran rupiah di Bappeda ke penyidik Polres Bima Kota. (Baca. Ketiga Kalinya Polisi Minta Dokumen K2, Pemkot tak Kunjung Serahkan)

Penjabat Walikota Bima H Wirajaya Kusuma. Foto: Bin

Saat dihubungi media ini, Wirajaya mengaku dirinya sudah mendisposisi kepada OPD terkait agar menyerahkan data tersebut.

“Ya, saya sudah disposisi kepada OPD terkait agar dipenuhi permintaan datanya,” ujarnya singkat melalui pesan Whatsapp kepada media ini, Senin (3/9). (Baca. Kasus K2 dan Bappeda, Pemkot Bima Dinilai Aneh, Kinerja Polisi Juga Disorot)

Sementara itu, Kepala BKPSDM Kota Bima H Supratman mengakui jika dirinya sudah menerima disposisi dari Pj Walikota Bima, untuk menyerahkan data K2 yang diminta polisi.

“Sudah kita terima. Akan kita siapkan untuk diserahkan,” katanya.

Diakui Supratman, polisi meminta sebanyak 19 item dokumen K2. Jumlah itu pun dinilai banyak, dan datanya sudah lama sejak tahun 2013.

“Makanya akan kita identifikasi yang diminta ada atau tidak dan lengkap atau tidak. Karena datanya lama, sekarang sudah tahun berapa,” ucapnya.

Ditanya berapa total K2 dan kapan data yang diminta polisi akan diserahkan? Supratman tidak menghafalnya, demikian juga dengan berapa jumlah yang lulus dan tidak lulus. Dirinya pun menyarankan untuk menghubungi stafnya, agar bisa memastikan berapa jumlahnya.

“Kapan diserahkan kita lihat nanti setelah semua data dikumpulkan,” tuturnya.

Ia menambahkan, karena permintaan polisi sudah di disposisi. BKPSDM tetap akan kooperatif untuk menyerahkan data dimaksud.

“Kita tetap akan kooperatif,” tandasnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *