Wisudawan-Wisudawati STIE Bima Harus Memiliki Etos Technopreneur Yang Tinggi

Kota Bima, Kahaba.- Sri Ernawati, Dosen STIE Bima dipercayakan untuk menyampaikan orasi pada acara Rapat Senat Terbuka Dalam Rangka Wisuda Sarjana Angkatan XV di aula kampus setempat, Sabtu (27/10). Tema orasi ilmiah yang dipilih yakni “Peranan  Technopreneur di Era Revolusi Industri 4.0”. (Baca. 201 Mahasiswa STIE Diwisuda, Firdaus: Ini Indikator Akuntabilitas Terkait Mutu STIE Bima) 

Sri Ernawati, Dosen STIE Bima saat menyampaikan orasi ilmiah pada acara wisuda mahasiswa STIE Bima. Foto: Bin

Di hadapan seluruh undangan yang hadir pada acara wisuda itu, dirinya berharap semoga para wisudawan dan wisudawati STIE Bima mampu menciptakan masa depan dan tidak mengambil sikap menunggu untuk sekedar menjawab tantangan yang ada. Karena kampus STIE Bima mempunyai visi yaitu lembaga pendidikan yang mencetak SDM yang unggul dan professional, serta berjiwa entrepreneurship. (Baca. Ini 10 Wisudawan dan Wisudawati STIE Bima Angkatan ke- XV)

“Jadi kalian harus mampu menciptakan masa depan kalian sendiri. Kalian harus mampu mengembangkan ide-ide baru yang segar, yang bisa menangkap mimpi dan cita-cita masyarakat dengan visi yang jauh ke depan melampaui jamannya,” ujarnya.

Bicara peranan technopreneur kata dia, technopreneur mengandung makna tentang bagaimana cara pemanfaatan teknologi yang sedang berkembang pesat, untuk dijadikan sebagai peluang usaha. sedangkan  entrepreneur, sesesorang atau badan usaha yang mengelola usaha dengan keberanian untuk mengambil resiko, guna mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada.

Karena teknologi di masa sekarang menjadi salah satu peluang yang ada. Maka dapat disimpulkan technopreneur itu adalah entrepreneur yang mengoptimalkan berbagai potensi perkembangan teknologi yang ada  sebagai basis pengembangan usaha yang dijalankannya, atau bisa di bilang technopreneur ini adalah entrepreneur modern yang berbasis pada teknologi dalam menjalankan usahanya.

Ia memaparkan, technopreneurs adalah sebuah inkubator bisnis berbasis teknologi, yang memiliki wawasan untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai peserta didik dan merupakan salah satu strategi terobosan baru untuk mensiasati masalah kurang lebih 45 Juta orang pengangguran intelektual yang semakin meningkat.

Ketua STIE Bima bersama jajaran saat acara wisuda. Foto: Bin

“Dengan menjadi seorang usahawan terdidik, generasi muda, khususnya mahasiswa akan berperan sebagai salah satu motor penggerak perekonomian melalui penciptaan lapangan-lapangan kerja baru,” paparnya.

Semoga dengan munculnya generasi technopreneur, ia berharap dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga bisa mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global.

Untuk itu menurut Sri, diperlukan mindset, serta gagasan atau ide. Mindset seorang technopreneurs haruslah terbentuk terlebih dahulu sebelum melangkah. Pola pikir itu akan sangat mempengaruhi proses dan hasil yang akan dicapainya kelak. Pola pikir merubah gagasan menjadi sesuatu yang nyata.

Saat ini lanjutnya, revolusi industri 4.0 sudah diambang mata dan mendorong permasalahan serta peluang baru. Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan pentingnya bangsa ini menyiapkan generasi baru menyambut revolusi digital tersebut. Diperkirakan di tahun 2045, Indonesia akan menghadapi tantangan dari resiko-resiko pasar finansial global yang meliputi penjualan mobil akan terhenti, komunikasi akan menjadi bebas biaya, mobil akan terbuat dari baja daur ulang, industri baja berjatuhan, mobil listrik dengan 18 komponen menjadi marak di pasar sehingga mengancam keberlangsungan produksi mobil dengan bahan bakar minyak.

“Menyikapi tantangan global ini, yang pertama perlu dilakukan adalah bagaimana mengeliminasi gangguan yang berpotensi menghambat kemajuan bangsa. Isu intoleransi harus segera diredam dengan merangkul perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat,” jelasnya.

Masih menurut Sri, technopreneurs  bermanfaat dalam pengembangan industri-industri besar dan canggih. Selain itu juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lemah untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Dengan demikian  technopreneurs diharapkan dapat mendukung pembangunan berkelanjutan dan dapat memberikan manfaat atau dampak, baik secara ekonomi, sosial maupun lingkungan.

Mahasiswa STIE Bima yang diwisuda sebelum mengikuti proses wisuda. Foto: Bin

“Pada hari ini kita mewisuda para mahasiswa yang harus memiliki etos technopreneur yang tinggi. Karena kita tidak saja berada di dalam dunia yang menuntut percepatan ekonomi nasional, tetapi juga berada di dalam suatu persaingan global yang kompleks dan penuh tantangan. kita berada di era 4.0 yang menuntut revolusi digital,” ucapnya.

Permasalahan bangsa dan negara kita tambah Sri, hingga lebih dari satu dasawarsa era reformasi saat ini masih tercatat pada skala prioritas permasalahan-permasalahan ekonomi yang perlu untuk diperbaiki. Semua terus berupaya untuk melakukan percepatan pembangunan ekonomi, sehingga menjadikan bangsa Indonesia kuat dan mandiri secara  ekonomi, tanpa mengabaikan pembangunan di bidang-bidang yang lain karena satu sama lain saling melengkapi.

Dari orasi ilmiah yang disampaikannya, Sri menginginkan agar lulusan STIE Bima ini memiliki etos technopreneur, mampu hadir di tengah-tengah masyarakat menjadi pelopor-pelopor perubahan, menjadi manusia-manusia mandiri.

Saya sampaikan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati, semoga mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat di perguruan tinggi ini dan menjadi bagian dari manusia-manusia terdidik yang senantiasa kontributif bagi percepatan pembangunan nasional di segala bidang,” tambahnya.

*Kahaba-01

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *