oleh

Banjir di Tanah Relokasi Kadole, Abaikan Kondisi Geologi dan Perencanaan

-Opini-1.581 kali dibaca

Oleh: Muhammad Syahwan ST, MT*

Kondisi rumah relokasi Kadole yang terendam banjir (Atas). Geologis Alumni UGM Muhammad Syahwan (Bawah). Foto: Ist

Lahan relokasi Lingkungan Kadole Kelurahan Oi Fo’o Kecamatan Rasanae Timur Kota Bima kini telah diubah menjadi pemukiman warga. Ratusan rumah telah dibangun untuk ditempati warga yang tinggal di bantaran sungai dan pernah merasakan dampak langsung bencana banjir besar yang merendam Kota Bima tahun 2016 lalu.

Sesungguhnya, pembangunan rumah relokasi untuk warga Kota Bima yang terdampak bencana banjir tersebar di 3 lokasi relokasi reguler dan relokasi mandiri. Lokasi tersebut tersebar di Kelurahan Jatibaru yang sudah terbangun sebanyak 68 unit, lokasi Kelurahan Oi Fo’o 1 sudah terbangun sebanyak 139 unit, dan Lokasi Kelurahan Oi Fo’o 2 atau tepatnya di Lingkungan Kadole sudah terbangun 456 unit.

Untuk anggaran pembangunan rumah relokasi, jika semula diusulkan sebanyak 1.200 unit, namun setelah dilakukan verifikasi dan validasi menjadi 1.025 unit, dengan anggaran masing-masing sebesar Rp 69.000.000. Sehingga total dana hibah yang digunakan untuk kegiatan relokasi perumahan tersebut senilai Rp 70.725.000.000, yang dikerjakan dengan pola pemberdayaan masyarakat.

Dari 3 lokasi yang dibangun pemerintah agar menjadi solusi warga langganan banjir, rupanya lahan relokasi yang berada di Lingkungan Kadole kini menuai masalah baru. Sebab, penerima manfaat bukannya bisa hidup nyaman dan tidak kembali diterjang banjir, malah merasakan hal yang sama seperti tahun 2016 lalu. Banjir nyaris setengah meter menggenangi sekitar 80 unit rumah. Duka kembali dirasakan warga yang telah memilih untuk bermukim di tempat tinggal baru tersebut.

Pasca banjir di lahan Relokasi Kadole, beragam pernyataan menyorot keberadaan pemukiman baru tersebut. Keluh kesah warga yang berurusan dengan banjir di sana pun muncul ke permukaan. Salah satunya mengungkapkan soal drainase yang buruk. Lalu pemerintah pun angkat bicara dan menyampaikan ada yang harus dievaluasi untuk tidak mengulang derita yang sama. Di antaranya muncul wacana dan rencana baru, yakni mengalokasikan anggaran Rp 1 miliar untuk membuat drainase induk.

Jika bicara banjir yang menerjang Relokasi Kadole, yang dibahas utama adalah kondisi geologi dan morfologi wilayah Lingkungan Kadole. Di sana adalah jenis wilayah yang dipenuhi batuan sedimen (Batu Gamping Karbonat) dan hasilnya merupakan pelapukan mekanik sehingga menghasilkan lempung (Tanah Liat).

Faktor- faktor fisik yang menyebabkan pelapukan mekanik adalah sebelumnya sudah dikatakan bahwasannya pelapukan mekanik merupakan pelapukan yang terjadi karena adanya proses secara mekanis yang didukung beberapa faktor dari alam. Lalu, apa saja faktor- faktor yang akan menyebabkan pelapukan secara mekanik ini. Adapun beberapa elemen fisika yang akan menyebabkan terjadinya pelapukan antara lain adalah suhu udara, topografi, pemuaian dan pembekuan air.

Ada yang mempunyai struktur butiran kasar, dan ada juga yang berstruktur butiran halus. Salah satu contoh batuan sedimen yang memiliki ukuran butiran halus yakni batu lempung.

Pengertian Batu Lempung

Pengertian batu lempung yaitu batuan yang memiliki struktur padat dengan susunan mineral yang lebih banyak dari batu lanau. Selain itu, batu lempung juga dapat diartikan sebagai salah satu jenis batuan sedimen yang bersifat liat atau plastis, tersusun dari hidrous aluminium silikat (mineral lempung) yang ukuran butirannya halus. Ukuran butiran batu lempung sangatlah halus, yakni tidak lebih dari 0,002 mm.

Mirip dengan baru serpih, batu lempung sangat sulit diteliti. Sangat dibutuhkan analisis secara kimiawi agar ilmuwan tahu mineral penyusun batu lempung yang banyak mengandung silika. Silika ini berasal dari feldspar yang banyak ditemukan di lapisan kulit bumi. Selain itu, batu lempung juga memiliki susunan unsur oksida besi yaitu berupa siderit, markit atau pirit. Mineral karbonat berupa bahan- bahan organik dan anorganik juga ditemukan pada batu lempung. Mineral – mineral penyusun batu lempung tersebut adalah mineral yang aktif secara elektrokimiawi. Para pakar harus menggunakan jenis mikroskop elektron untuk melihat jenis mineral yang terdapat pada batu lempung.

Jenis- Jenis Mineral Lempung

Seperti yang telah dijelaskan bahwa batu lempung tersusun atas mineral lempung (hidrous aluminium silikat). Mineral lempung tersebut dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis, di antaranya adalah Kaolinit, Halloysit, Illit, Halloysite, Smectite, Verminculite, Chlorite, Attapulgite, Allophone dan Montmorillonit.

Mineral montmorillonit juga disebut dengan smectit, yang merupakan mineral hasil bentukan satu kepingan aluminium dan dua kepingan silika. Di antara dua kepingan silika terdapat kepingan oktahedra yang membentuk suatu lapisan yang satu. Montmorillonit terbentuk dari proses sedimentasi bersuasana basa (alkali) yang sangat silikan. Selain itu, montmorillonit mempunyai ukuran kristal yang sangat kecil tetapi memiliki gaya tarik terhadap air yang sangat kuat sehingga air tersebut dapat memisahkan kepingan. Hal tersebut merupakan akibat kurangnya muatan negatif pada kepingan oktahedran dan lemahnya gaya ikatan van der Waals pada ujung kepingan silika. Air yang masuk di antara kepingan dapat melunakkan dan merusak struktur tanah yang mengandung mineral montmorillonit.

Kandungan mineral ini memiliki plastisitas dan daya kembang susut yang tinggi dengan rumus kimianya yaitu Al2Mg(Si4O10)(OH)2 xH2O. Hal ini menyebabkan tanah lempung bersifat plastis pada keadaan basah dan mengeras pada saat dalam keadaan kering.

Kemudian pada lokasi Kelurahan Oi Fo’o Lingkungan Kadole yang menjadi lahan relokasi merupakan lahan pelapukan sedimentasi dan merupakan pengunungan karst.

Karst adalah suatu bentang alam yang umumnya dibentuk oleh batu gamping, yang biasanya memiliki hasil dan bentukan yang dapat di temukandengan ciri-ciri adanya cekungan-cekungan; kubah-kubah serta gua kapur. Topografi karst merupakan bentang alam yang mudah dikenali oleh semua orang karena morfologinya sangat spesisfik. Selain menyimpan air karst juga menyediakan sumberdaya alam lain, berupa batu gamping sebagai bahan galian golongan C.

Potensial lain yang disediakan oleh karst untuk manusia yaitu pemandangan yang indah. Gua merupakan salah satu contoh dari morfologi endokasrt. Gua yang merupakan bentukan alami yang berupa ruang karst yang terbentuk pada medan batu gamping di bawah tanah baik yang berdiri sendiri maupun saling terhubung dengan ruang-ruang lain sebagai hasil proses pelarutan oleh air maupun aktifitas geologi yang terjadi pada suatu daerah.

Gua yang dikenal secara luas oleh masyarakat umum di Indonesia sebagian besar berupa gua-gua kapur, karena gua-gua ini terbentuk di wilayah yang sebagian besar tersusun oleh batu kapur (batu gamping). Gua karst adalah sisa pelarutan zona lemah batuan kapur yang berupa lorong, dikontrol oleh jenis batuan dan jumpai ornamen gua serta sungai bawah tanah. Di dalam gua dapat ditemukan ornamen gua dengan berbagai bentuk dan jenis sebagai hasil sedimentasi dari batu gamping sebuah gua. Ornamen gua memiliki karakteristik berbeda-beda pada setiap gua, hal ini dapat terlihat dari ukuran setiap ornamen, seperti besar kecilnya ukuran ornamen ataupun bentuk dan jenisnya ornamen yang terdapat pada gua.

Permasalahan banjir yang terjadi di Kelurahan Oi Fo’o Lingkungan Kadole ini berawal dari kurang jelinya perencanaan saluran pembuangan air, dalam perencanaan sesuia SNI 03-1733-2004 TATA CARA PERENCANAAN LINGKUNGAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN harus memperhatikan sebagai berikut:

Memenuhi persyaratan administrasi, teknis dan ekologis (termasuk mengacu kepada RTRW yang berlaku setempat). Kemudian Perencanaan termasuk sarana hunian, prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum. Perencanaan dilaksanakan oleh kelompok tenaga ahli yang diakui peraturan yang berlaku. Penyediaan sarana prasarana lingkungan perumahan harus dipadukan dengan perencanaan lingkungan perumahan dan kawasan fungsional lainnya. Harus menyediakan pusat–pusat lingkungan yang menampung berbagai sektor kegiatan dari skala lingkungan terkecil (250 penduduk) hingga terbesar (120.000 penduduk). Pembangunan perumahan harusmemenuhi persyaratan administrasi yang berkaitan dengan perizinan pembangunan, perizinan layak huni dan sertifikasi tanah. Rancangan bangunan hunian, prasarana dan sarana lingkungan harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan dan keselamatan sesuai SNI/ketentuan lain yang berlaku.

Selain itu, perencanaan lingkungan perumahan harus memberikan kemudahan bagi semua orang termasuk yang memiliki ketidakmampuan fisik dan/atau mental. Penentuan besaran standar untuk perencanaan lingkungan perumahan kota menggunakan pendekatan besaran kepadatan penduduk. Ketentuan khusus dalam perencanaan kebutuhan lahan untuk sarana lingkungan. Besaran standar  direncanakan untuk kawasan kepadatan penduduk <200 jiwa/ha. Beberapa sarana dapat digabung pada 1 lokasi (apabila sulit mendapatkan lahan). Kawasan berkepadatan >200 jiwa/ha diberi reduksi 15-30% dari persyaratan kebutuhan lahan. Perencanaan dapat menggunakan sistem blok /grup bangunan/cluster untuk memudahkan distribusi sarana lingkungan.

Study kelayakan lahan merupakan awal dari perencanaa teknis sehingga lahan yang akan dijadikan rumah relokasi merupakan lahan yang layak atau tidak. Sistem saluran drainase yang dijadikan satu titik pada lubang gua di perumahan Kadole merupakan hal yang menarik di kupas. Yang menjadikan pertanyaan besar adalah seberapa besar lubang gua itu dalam menampung resapan air?? Ini yang bisa menjawab adalah hasil dari study kelayakan.

Dari sisi morfoligi, rumah reloksi terletak di titik kontur yang rendah sehingga tempat terkumpulanya seluruh air permukaan dan termasuk air resapan hujan, ketikan lempung ini merupakan lepung Montmorillonit dengan sifat plastis pada keadaan basah dan mengeras pada saat dalam keadaan kering sehingga memiliki daya resapan yang kecil, dengan adanya pembangunan rumah di atas lahan ini akan membuat berkurangnya resapan tanah diakibatkan oleh berkurangnya luas resapan tanah, akan membuat air hujan lebih banyak di atas permukaan. Air yang berada di permukaan akan masuk pada saluran drainase menuju pada satu titik lubang gua. Disinilah peran tetap akan menjadi pertanyaan besar adalah seberapa besar kemampuan lubang gua itu menapung air permukaan. Bukannya malah harus memperbesar drainase atau membuat drainase induk.

Karena pada lubang gua yang merupakan titik muara air, adalah gua kecil yang pola alirannya akan menuju pada pola aliran induk yakni pada Gua Ringincanga yang merupakan sumber air bersih, untuk pemukiman. Apabila pada musim hujan, air Gua Ringincanga akan mengalami kekeringan. Sehingga konsumsi air bersih masyarakat juga akan keruh. Dan itu bukanlah solusi yang tepat, padahal pola aliran air yang harus dianalisa terlebih dahulu. Bukannya memperbaiki drainase untuk mempercepat aliran air permukaan ke muara gua.

Sungai adalah aliran air yang umumnya memanjang yang bergerak dari hulu ke hilir dengan aliran yang cukup besar. Aliran pada sungai memiliki beberapa perbedaan. Pola aliran sungai dibedakan karena perbedaan struktur, kemiringan, topografi dan litologi bantuan yang menjadi dasarnya. Setiap sungai memiliki struktur tempat yang berbeda-beda. Jenis pola aliran sungai adalah Dendritik, Radial Sentrifugal, Rectangular, Trellis, Sentripetal, Annular, Paralel dan Pinnate.

Dari beberapa pola aliran sungai ini memiliki kecepatan dan daya tampung air permukaan yang berbeda, ini adalah merupakan salah satu fungsi dari study kelayakan itu sehingga dapat dianalisis daya tampung sungai bawah tanah.

Tidak semua besar lubang gua itu sebesar pola aliran sungai dan titik temu dari arah aliran sungai bawah tanah merupakan sungai primir atau sekunder. Tetap akan menjadikan studi kelayakan adalah factor utama.

Jenis tanah Montmorillonit dengan sifat plastis pada keadaan basah dan mengeras pada saat dalam keadaan kering sehingga memiliki daya resapan yang kecil. Dalam perencanaan kontruksi bangunan rumah harus disesuaikan dengan sifat ini, sehingga untuk menjaga keretakan pondasi rumah. Karena salah satu penyebab timbulnya retakan pada bangunan, bahkan runtuhnya bangunan adalah ketidak-stabilan pondasi. Ini disebabkan oleh perencanaan struktur pondasi yang salah atau pondasi yang dibangun pada kondisi tanah yang tidak stabil atau tanah yang selalu bergerak. Saat ini saja, sejumlah kondisi rumah di Lahan Relokasi Kadole sudah mengalami keretakan. Maka untuk mendirikan bangunan di lokasi tersebut, harus ada perlakuan khusus. Seperti menancap beton untuk menahan dinding tanah lempung.

*Penulis Adalah Geologis Alumni UGM

Komentar

Kabar Terbaru