Mahasiswa Menggugat Demi Rakyat

Oleh: Al-Farisi Thalib*

Opini, Kahaba.info.- Fenomena demonstrasi mahasiswa yang urak-urakan di jalan merupakan bentuk partisipasi politik non-konvensional dalam membangun pondasi demokrasi yang terbuka. Karena demokrasi tidak akan bisa terbangun tanpa adanya sikap oposisi, sehingga semakin besar tingkat oposisi maka sebuah Negara akan semakin demokratis dan semakin demokratis sebuah Negara maka akan semakin banyak partisipasi politik (baik konvensional maupun non-konvensional) yang terbentuk dari warga masyarakatnya. Selain itu, gerakan preasure mahasiswa merupakan advokasi sebuah masalah juga bentuk penyambung lidah rakyat, semua itu adalah konsekuensi cita-cita demokrasi liberal.

Ilustrasi

Tak ayal lagi, setiap aksi mahasiswa membawa semacam ancaman bagi penguasa, merupakan tuntutan terhadap sebuah kebijakan yang tidak pro-rakyat atau aturan yang tidak sama sekali berpihak pada apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan rakyat. keadaan seperti  inilah yang membuat mahasiswa marah hingga tumpah ekspresikan dijalan.

Walaupun terkesan negatif di mata sebagian orang, tetapi tidak sedikit juga yang menganggap hal itu perlu dan harus dilakukan. Namun perlu di garis bawahi bahwa sikap reaktif mahasiswa itu merupakan keberpihakan pada rakyat demi menuntut kebenaran dan keadilan yang diabaikan oleh penguasa, reaksi reflektif yang menuntut penguasa zalim yang menjalankan kekuasaannya secara pongah dan tiranik.

Kesadaran kritis yang terbangun menjadi kekuatan yang melahirkan gelombang kesadaran bahwa apa yang dilakukan pemerintah atau penguasa harus ditegur dengan cara berdemonstrasi di jalan. Walaupun terkesan massif bahkan anarkis, sikap tersebut merupakan oposisi biner dengan ketidakadilan dan ketidakberpihakan penguasa pada rakyat, atau perlawanan mahasiswa terhadap penguasa yang luarbiasa serakahnya.

Al-Farisi Thalib: Mahasiswa Menggugat Demi Rakyat

Ada 3 hal yang membuat gerakan mahasiswa terkesan anarkis; 1) terprovokasi oleh aparat kepolisian, karena setiap aksi demonstrasi mahasiswa tidak ada yang menginginkan terjadinya caos atau terjadi bentrokan dengan siapapun apa lagi dengan masyarakat. 2) simpatik media, tidak bisa disangkal bahwa media merupakan sebuah kekuatan yang amat dahsyat dalam membentuk issu-issu publik, sehingga dengan itu maka agar tuntutan yang disampaikan dapat diekspos oleh media, sesekali mahasiswa melakukan “settingan caos”, karena satu sisi media akan menyorot ketika para demonstran melakukan hal-hal yang anarkis atau unik tapi jika tidak maka sebuah aksi akan berlalu tanpa efek. 3) reaksi logis, adalah keadaan yang mau tidak mau harus terjadi bentrokan. Hal ini diakibatkan oleh kejengkelan atau kemarahan memuncak disebabkan oleh para elit yang tidak pernah menanggapi atau merespon aspirasi tersebut, atau keadaan yang memaksa untuk melakukan tindakan tersebut, seperti pembalasan terhadap anggota yang tertangkap atau di tembak.

Satu hal yang menjadi penegasan bahwa apapun bentuk reaksi dan aksi mahasiswa dalam merespon issu-issu dan masalah sosial kebangsaan yang terjadi, lebih yang berkenaan dengan masalah rakyat adalah merupakan sikap melawan ketertindasan dan menolak ketidakadilan. Sebuah panggilan nurani yang tersentak melihat kondisi masyarakat yang terdzolimi oleh penguasa yang sesekali melakukan penindasan, ketidakberpihakan pada rakyat, ketidakadilan, mengeluarkan kebijakan yang tidak mementingkan rakyat. Kondisi inilah yang melahirkan gelombang perlawanan dari gerakan social mahasiswa. Walaupun dengan cara-cara mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi dan harapan itu sangat dibenci oleh pemerintah.

Dapat kita lihat dalam catatan sejarah bagaimana pergerakan mahasiswa, baik di Indonesia secara nasional maupun di Negara-negara lain secara Internasional. Revolusi Islam yang terjadi di Iran merupakan bentuk dari gerakan perlawanan mahasiswa dan masyarakat Islam Iran dalam melawan penguasa yang dianggap dzalim, penguasa yang berpihak pada kaum pemodal asing sehingga mengakibatkan nilai tradisi Iran terkikis, keadaan ini memicu terjadinya perlawanan.  Sama halnya yang terjadi di Mesir, perlawanan mahasiswa dan rakyat Mesir ketika menumbangkan rezim diktator Muamar Qadafi. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, dimana terjadi reformasi besar yang digerakkan dengan kekuatan mahasiswa dan rakyat akibat kediktatoran seorang penguasa sehingga melahirkan reformasi.

Reformasi adalah bukti sejarah yang riil, menunjukkan bahwa setiap gerakan mahasiswa merupakan bentuk perlawanan terhadap kejahatan-kejahatan penguasa pada rakyat. Soeharto dan Orde Baru telah diruntuhkan, di maki lalu reformasi mengadilinya dan menggantungnya di tiang gantungan keadilan sosial. Bukan hanya pada kasus reformasi, beberapa kasus lain yang menunjukkan ketimpangan dan penyelewengan, mahasiswa tetap menjadi pelaku utama dalam menentangnya. Baik sejak Orla, Orba, Reformasi maupun pasca-reformasi semua aksinya mahasiswa menunjukkan keberpihakannya pada keinginan rakyat juga sebagai jembatan untuk menyampaikan semua aspirasi apa yang menjadi keinginan rakyat.

Kebijakan menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM)  oleh SBY, bagi mahasiswa merupakan sikap yang tidak mementingkan rakyat miskin sehingga menimbulkan reaksi protes. Tuntutan mahasiswa terhadap kasus Century yang merampok triliunan uang rakyat, demonstrasi tentang kasus-kasus korupsi lainnya seperti kasus Wisma Atlet oleh Nazaruddin, Miranda Gultom, Muhaimin Iskandar, Rencana gedung baru DPR-RI. Tidak hanya itu, kasus yang berkaitan dengan kekerasan aparat kepolisian di Papua, Mesuji, dan terakhir yang paling heboh adalah tragedi kekerasan di Bima-NTB. Pelanggaran HAM dan seluruh kebijakan pemerintah yang di anggap merugikan rakyat, adalah keberpihakan gerakan Mahaiswa untuk menuntut dan menyampaikannya pada penguasa bahwa demikian itu adalah biadab.

Menginginkan Perubahan

Terlepas dari tendensi politis dari beberapa gerakan mahasiswa atau gerakan-gerakan bayaran yang diusung oleh beberapa elit bahkan gerakan profokasi lainnya. Namun itu tidak mengurangi semangat perubahan berkobar dalam langkah perjuangannya. Walaupun juga dinailai anarkis, tidak rasional, mengganggu kepentingan umum dan memacetkan jalan, bakar-bakar ban dan lain sebagainya yang sengaja dilontarkan untuk memojokkan mahasiswa,  merupakan bagian dari metode yang digunakan untuk dapat merealisasikan harapan dan agar aspirasinya dapat tersampaikan. Karena jika tidak demikian, jangan harap apa yang menjadi harapan mahasiswa didengar apa lagi di wujudkan oleh pemerintah. Semua itu adalah reaksi keberpihakan mahasiswa untuk bagaimana menciptakan perubahan, menciptakan tatanan yang lebih jujur dan adil untuk masyarakat.

Aksi bakar ban, tutup jalan, merusak fasilitas dan lain-lain merupakan tumpahan kejengkelan terhadap laku para penguasa. Karena dengan cara itu mahasiswa menyampaikan protesnya, teguran dan juga sesekali di memaki dan (bila perlu) dikutuk. Hal itu merupakan usaha untuk menciptakan perubahan, sebuah perubahan yang menjadikan kehidupan rakyat lebih baik, lebih sejahtera, lebih adil dan terhindar dari kemiskinan yang mencekam. Keinginan suci inilah yang diharapkan oleh mahasiswa, sehingga sekali lagi jika ada gerakan demonstrasi yang kita dengar maka itu pertanda ada penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa, ada pelanggaran yang dilakukan oleh kepolisian, ada rakyat yang terdzolimi, rakyat yang tertindas, ada penguasa yang merampok uang rakyat, hakim yang kurang ajar dan ada kekuasaan yang disalahgunakan.

Sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagi ogan perubahan-agen pengontrol, mahasiswa mengemban amanah besar di pundaknya, sehingga wajar jika mahasiswa punya cita-cita besar yaitu perubahan, keadilan, kesejahteraan, kedamaian, yang kesemuanya itu merupakan sikap keberpihakan pada rakyat dan kemanusiaan. Apa yang diusahakan merupakan bertujuan bagaimana harapan rakyat dapat tercapai, apa yang diteriakkan merupakan aspirasi nurani rakyat, dan apa yang advokasi merupakan pengusutan tuntas terhadap pelanggaran.

Dengan demikian jangan pernah berhenti untuk berteriak, jangan pernah bosan untuk menciptakan berubahan dan jangan pernah takut untuk melawan ketidakadilan. ‘Suara mahasiswa adalah suara rakyat, suara rakyat adalah suara kebenaran dan suara kebenaran adalah firman Tuhan’. “Kepada tuan-tuan, jangan pernah tutup mulut kami (mahasiswa) atau engkau akan di kudeta”.

*Penulis adalah
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Politik, Agama dan Filsafat
(LaPAS) – Sulsel.
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
    • Al-Farisi Thalib

      IMMawan Ghofur, trimakasih banyak. mhn koreksi dan masukannya agar sy bisa lebih tingkatkan lagi. ar_rayaan: Juga, trimaksih banyak,. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *